Oct 08, 2026
Bisnis

Proyek Tanggul Laut Raksasa Mulai dari Demak, Dimulai dengan Rehabilitasi Mangrove

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) per April 2026, pembangunan proyek tanggul laut raksasa atau giant sea w...

Proyek Tanggul Laut Raksasa Mulai dari Demak, Dimulai dengan Rehabilitasi Mangrove

Berdasarkan data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) per April 2026, pembangunan proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall di kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura) memasuki tahap awal. Pemerintah memutuskan untuk memulai langkah pertama di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, bukan dengan konstruksi beton masif, melainkan melalui program berbasis alam berupa penanaman mangrove. Langkah ini menjadi penanda bahwa pendekatan infrastruktur pesisir nasional mulai bergeser ke arah yang lebih terintegrasi dengan ekosistem.

Mengapa Demak Menjadi Titik Awal?

Demak dipilih karena tingkat abrasi dan penurunan muka tanah (land subsidence) di wilayah ini tergolong ekstrem. Data dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa laju penurunan tanah di sebagian pesisir Demak mencapai 8-10 cm per tahun, jauh di atas rata-rata global yang berkisar 1-2 cm per tahun. Kondisi itu diperparah oleh hilangnya tutupan mangrove. Pada 1990-an, luas mangrove di pesisir Demak tercatat sekitar 3.000 hektare, namun kini diperkirakan tersisa kurang dari 1.000 hektare.

Penanaman mangrove dianggap sebagai langkah logis untuk menahan gelombang laut sekaligus memulihkan fungsi ekologis kawasan. Mangrove mampu meredam energi gelombang hingga 60-70 persen, menurut kajian dari Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Selain itu, vegetasi ini menyerap karbon biru (blue carbon) dengan kapasitas yang jauh lebih tinggi dibanding hutan daratan.

Pro: Pendekatan Berbasis Alam Lebih Berkelanjutan

Di satu sisi, pendekatan berbasis alam dinilai lebih tepat guna. Sejumlah ekonom lingkungan menilai bahwa kombinasi mangrove dan tanggul buatan dapat menekan biaya pemeliharaan jangka panjang. Proyeksi Kementerian PUPR memperkirakan biaya konstruksi tanggul konvensional di Pantura mencapai Rp 500-600 triliun untuk keseluruhan ruas. Dengan mengawali lewat mangrove, anggaran awal dapat ditekan dan dampak ekologis negatif diminimalkan. Mangrove juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga pesisir, seperti budidaya kepiting dan udang, yang berkontribusi pada produk domestik regional bruto (PDRB) sektor perikanan Demak yang pada 2025 tercatat sekitar Rp 4,2 triliun.

"Restorasi mangrove bukan sekadar penanaman pohon, tetapi investasi ekologis yang bisa menjadi fondasi ketahanan pesisir jangka panjang. Ini adalah bentuk infrastruktur hijau yang terukur," ujar seorang peneliti senior bidang oseanografi BRIN dalam sebuah diskusi publik.

Kontra: Risiko Banjir Rob Tetap Mengancam saat Musim Puncak

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai pendekatan berbasis alam tidak cukup menghadapi tekanan banjir rob yang kian sering. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa kejadian rob di pesisir Demak meningkat dari 12 kejadian pada 2020 menjadi 27 kejadian pada 2025. Bila mangrove baru ditanam, dibutuhkan waktu 5-8 tahun agar akar dan kanopi tumbuh cukup kuat untuk meredam gelombang secara signifikan. Artinya, ada celah waktu (time gap) ketika kawasan pesisir masih rentan.

Kekhawatiran lain menyangkut aspek pendanaan dan tata kelola. Proyek ini memerlukan koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dan lembaga internasional. Tanpa mekanisme pengawasan yang ketat, risiko kebocoran anggaran dan kegagalan penanaman (tingkat kelangsungan hidup bibit mangrove yang rendah) menjadi tantangan tersendiri. Beberapa laporan sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan rehabilitasi mangrove nasional hanya sekitar 30-40 persen, jauh dari target ideal 80 persen.

Implikasi bagi Fundamental Ekonomi Pesisir

Dari kacamata makro, proyek ini berpotensi memengaruhi sentimen pasar terhadap sektor properti pesisir dan infrastruktur. Jika pembangunan tanggul laut berjalan sesuai rencana, valuasi lahan di kawasan Pantura berpeluang meningkat. Namun, proyeksi jangka pendek masih dibayangi ketidakpastian global, termasuk potensi capital outflow dari pasar negara berkembang yang dapat menekan likuiditas pembiayaan proyek. Rasio utang pemerintah terhadap PDB yang berada di kisaran 39 persen pada 2025 juga menjadi pertimbangan dalam menjaga ruang fiskal.

Ke depan, keberhasilan tahap awal di Demak akan menjadi barometer bagi ruas Pantura lainnya, seperti Semarang, Pekalongan, dan Jakarta. Pemerintah dituntut tidak hanya mengejar target seremonial, tetapi juga memastikan bahwa penanaman mangrove berjalan dengan indikator keberhasilan yang jelas, transparan, dan terukur. Tanpa itu, proyek ambisius ini berisiko menjadi beban fiskal baru tanpa solusi nyata bagi masyarakat pesisir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User