Proyek Raksasa Thailand Bidik Arus Logistik Dunia, Saingi Selat Malaka

Bangkok — Pemerintah Thailand kembali menggulirkan rencana ambisius pembangunan koridor logistik raksasa yang akan menghubungkan dua pesisir negara itu: Teluk Thailand di timur dan Laut Andaman di

Jul 08, 2026 - 00:44
0 0
Proyek Raksasa Thailand Bidik Arus Logistik Dunia, Saingi Selat Malaka

Bangkok — Pemerintah Thailand kembali menggulirkan rencana ambisius pembangunan koridor logistik raksasa yang akan menghubungkan dua pesisir negara itu: Teluk Thailand di timur dan Laut Andaman di barat. Proyek yang kerap disebut sebagai "Jembatan Darat" ini digadang-gadang dapat menjadi jalur alternatif strategis bagi arus pelayaran global dan secara langsung menyaingi dominasi Selat Malaka.

Menurut laporan yang dihimpun Beritadua.com, proyek tersebut akan membangun infrastruktur transportasi multimoda—meliputi jalan raya, jalur kereta api, dan pelabuhan peti kemas—yang merentang sekitar 100 kilometer antara Ranong di pesisir Andaman dan Chumphon di pesisir Teluk Thailand. Dengan demikian, kapal-kapal kargo yang biasanya harus memutar melewati Selat Malaka dapat memangkas jarak tempuh hingga ribuan kilometer dan menghemat waktu pelayaran.

Harapan Ekonomi yang Menggiurkan

Pemerintah Thailand menilai Jembatan Darat akan menjadi katalis ekonomi nasional. Kawasan sekitar koridor diproyeksikan bertransformasi menjadi pusat logistik dan kawasan industri baru yang membuka lapangan kerja dalam skala besar. Investasi yang dibutuhkan diperkirakan mencapai miliaran dolar dan diharapkan menggairahkan perekonomian wilayah selatan Thailand.

"Proyek ini bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan sebuah lompatan strategis untuk menempatkan Thailand sebagai pusat konektivitas regional. Kami menargetkan mampu menarik 20 persen lalu lintas kontainer global yang saat ini melintasi Selat Malaka," ujar seorang pejabat kementerian perhubungan seperti dikutip media kami, belum lama ini.

"Dampak ekonominya bisa sangat besar. Kami bicara tentang pendapatan baru dari jasa logistik, pengembangan kawasan, hingga penyerapan tenaga kerja lokal. Namun semua harus dibarengi perencanaan matang dan transparansi," tegas seorang pejabat tersebut.

Kekhawatiran Warga Lokal

Namun, di balik kilau ambisi ekonomi, rencana ini memantik kekhawatiran di kalangan masyarakat, khususnya warga di Ranong dan Chumphon. Nelayan tradisional dan komunitas pesisir cemas pembangunan pelabuhan raksasa akan merusak ekosistem laut, mengusik habitat ikan, dan mengancam mata pencaharian mereka yang telah berjalan turun-temurun.

Sejumlah organisasi masyarakat sipil juga menyuarakan protes terkait potensi penggusuran paksa dan ketidakjelasan skema kompensasi lahan. Mereka mendesak pemerintah agar melibatkan warga dalam tahap perencanaan dan memberikan jaminan perlindungan lingkungan yang ketat.

"Kami tidak anti-pembangunan, tapi jangan sampai proyek ini hanya menguntungkan segelintir investor sementara kami kehilangan laut dan rumah kami. Pemerintah harus mendengar suara rakyat kecil," kata seorang perwakilan komunitas nelayan Ranong dalam diskusi publik yang diliput Beritadua.com.

Proyek Jembatan Darat sebenarnya telah mengemuka sejak puluhan tahun lalu, tetapi kerap terbentur persoalan dana, ketidakstabilan politik, dan resistensi lokal. Kali ini, pemerintahan baru di bawah Perdana Menteri Srettha Thavisin tampak lebih serius dengan membentuk tim khusus dan mulai menjajaki investor asing. Namun, para pengamat mengingatkan bahwa tanpa penyelesaian isu sosial dan lingkungan, mega proyek tersebut berpotensi menuai perlawanan panjang yang justru menggagalkan target ambisiusnya.

Sementara itu, pengamat logistik dari Universitas Chulalongkorn, Dr. Anusorn Lovichakorntikul, menilai Thailand harus realistis. "Selat Malaka adalah jalur yang sudah matang dengan ekosistem lengkap. Menyainginya bukan perkara infrastruktur saja, tapi juga stabilitas politik, keamanan, dan efisiensi layanan yang harus dibangun puluhan tahun," ujarnya. Hingga kini, pemerintah Thailand masih melakukan studi kelayakan tahap akhir dan dijadwalkan akan menggelar konsultasi publik lebih luas dalam beberapa bulan ke depan. Apakah proyek ini akan benar-benar mengubah peta logistik dunia atau kembali tenggelam seperti upaya sebelumnya, semua masih bergantung pada bagaimana keseimbangan antara ambisi ekonomi dan hak warga lokal dijaga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Fact Checker. Memverifikasi klaim politik dan narasi publik.

Comments (0)

User