Sep 16, 2026
Nasional

PRABOWO — Presiden Prabowo Desak Reformasi PBB di KTT BRICS

KTT BRICS — Dalam panggung diplomasi internasional yang menyedot perhatian dunia, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan teguran keras t

PRABOWO — Presiden Prabowo Desak Reformasi PBB di KTT BRICS

KTT BRICS — Dalam panggung diplomasi internasional yang menyedot perhatian dunia, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan teguran keras terhadap efektivitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di hadapan para pemimpin negara anggota BRICS, Prabowo menegaskan bahwa lembaga multilateral terbesar di dunia tersebut harus segera melakukan reformasi fundamental agar lebih responsif, inklusif, dan representatif terhadap dinamika geopolitik global saat ini.

Pernyataan menohok tersebut disampaikan Prabowo saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS. Langkah politik luar negeri ini mempertegas posisi Indonesia yang konsisten mengusung diplomasi bebas aktif sekaligus menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang (Global South) yang kerap kali terpinggirkan dalam pengambilan keputusan strategis tingkat dunia.

Penyambutan Diplomatik dan Sinyal Posisi Indonesia

Kehadiran Presiden Prabowo di arena KTT diawali dengan penyambutan hangat dari Perdana Menteri India, Narendra Modi. Pertemuan bilateral singkat di sela-sela KTT tersebut mengisyaratkan eratnya hubungan antara Jakarta dan New Delhi, sekaligus menjadi panggung awal sebelum Prabowo menyampaikan pidato utamanya di forum pleno.

Penyambutan ini menandai momentum penting bagi kepemimpinan Indonesia di kancah internasional. Dalam penampilannya, Presiden membawa misi utama untuk mengkritisi ketimpangan struktur tata kelola dunia yang dinilai sudah tidak relevan dengan tantangan abad ke-21.

Kritik Tajam Terhadap Inefisiensi Lembaga Multilateral

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyuarakan keprihatinan mendalam atas ketidakmampuan PBB dalam merespons berbagai krisis kemanusiaan dan konflik geopolitik secara cepat dan adil. Ketimpangan hak veto dan dominasi kekuatan besar di Dewan Keamanan PBB menjadi salah satu poin sentral yang disoroti oleh Kepala Negara.

"Dunia membutuhkan PBB yang tidak hanya menjadi penonton atau forum perdebatan tanpa akhir. PBB harus hadir secara nyata, responsif, dan adil bagi seluruh bangsa, tanpa memandang skala ekonomi maupun kekuatan militer suatu negara," tegas Prabowo di hadapan para delegasi.

Penekanan pada sistem multilateral yang adil ini menjadi sinyal bahwa Indonesia menuntut perubahan nyata dalam arsitektur keuangan dan politik global. Menurut analisis pakar hubungan internasional, sentilan Prabowo ini mencerminkan kejenuhan kolektif negara berkembang terhadap standar ganda yang kerap diterapkan oleh lembaga-lembaga multilateral bentukan era pasca-Perang Dunia II.

Kronologi dan Urutan Sikap Politik Luar Negeri RI

Berikut adalah urutan penekanan diplomasi dan poin kunci yang disampaikan Presiden Prabowo selama rangkaian KTT BRICS berlangsung:

  1. Desakan Reformasi Struktur PBB: Mendorong restrukturisasi Dewan Keamanan PBB agar memberikan ruang representasi yang lebih luas dan adil bagi negara-negara Asia, Afrika, dan Latin Amerika.
  2. Penegakan Multilateralisme yang Inklusif: Menolak segala bentuk unilateralisme dan sanksi sepihak yang merugikan stabilitas ekonomi serta kesejahteraan masyarakat di negara-negara berkembang.
  3. Penguatan Arsitektur Keuangan Global: Mendorong forum BRICS untuk memperkuat alternatif pendanaan pembangunan yang lebih adil dan tidak mengikat secara geopolitik.
  4. Komitmen Solidaritas Global South: Menegaskan peran aktif Indonesia sebagai jembatan dialog antara negara berkembang dan blok kekuatan barat demi terciptanya perdamaian dunia yang berkelanjutan.

Dampak Geopolitik dan Tindak Lanjut Diplomasi RI

Langkah berani Presiden Prabowo yang menyentil PBB di forum BRICS diprediksi akan memperkuat posisi tawar Indonesia di kawasan dan tingkat global. Kebijakan ini sekaligus membuktikan bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan baru tetap memegang teguh prinsip bebas aktif, yaitu tidak memihak blok kekuatan manapun, namun sangat vokal dalam menyuarakan keadilan.

Dengan mendorong PBB agar lebih konkret dan responsif, Indonesia berharap dapat menggerakkan gelombang reformasi di tubuh organisasi internasional tersebut, sehingga mampu menjawab tantangan ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, dan ancaman konflik global secara lebih efektif di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User