Krisis air bersih untuk sektor pertanian kian mencekik ribuan petani di lumbung padi nasional, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Ribuan hektare tanaman padi berumur muda di sedikitnya enam kecamatan kini terancam mengalami gagal panen alias puso. Di tengah ancaman kerugian miliaran rupiah, para petani melontarkan kritik tajam kepada instansi terkait yang dinilai memaksakan program tanam serentak tanpa memperhitungkan keandalan pasokan debit irigasi.
Kondisi tanah persawahan yang mulai merekah dan daun padi yang menguning menjadi pemandangan kontras di sentra produksi beras Jawa Barat tersebut. Waktu terus berjalan, sementara pasokan air dari saluran irigasi primer tak kunjung mengalir deras hingga ke petak-petak tersier di ujung hilir.
Kronologi Krisis Air: Dari Instruksi Tanam Hingga Sawah Retak
Berdasarkan penelusuran lapangan dan keterangan serikat tani setempat, krisis ini berakar dari ketidaksiapan manajemen irigasi menyusul instruksi percepatan masa tanam:
- Instruksi Percepatan Tanam (Bulan Lalu): Petani diimbau mengikuti jadwal tanam serentak demi mengejar target swasembada pangan. Benih disemai dan modal jutaan rupiah per hektare digelontorkan untuk olah tanah dan pupuk.
- Penyusutan Debit Saluran Sekunder (Dua Pekan Lalu): Saat tanaman padi memasuki fase vegetatif awal yang sangat membutuhkan genangan air, debit air dari bendungan utama menyusut drastis dan hanya membasahi area hulu.
- Kekeringan Meluas di Enam Kecamatan (Pekan Ini): Saluran irigasi mengering total. Tanpa pasokan air, lebih dari 2.500 hektare lahan di enam kecamatan mengalami kekeringan ekstrem hingga memicu keretakan tanah sedalam 10 hingga 20 sentimeter.
"Pemerintah selalu menyuruh tanam serentak demi target nasional, tapi giliran kami butuh air, salurannya kering kerontang. Jangan cuma menuntut hasil panen melimpah kalau infrastruktur airnya tidak pernah disiapkan matang," tegas salah seorang perwakilan kelompok tani di Indramayu.
Petani Tercekik Biaya Pompanisasi Mandiri
Kondisi darurat ini memaksa para petani mengambil langkah spekulatif dengan menyedot sisa-sisa air di kubangan sungai atau sumur pantek darurat. Namun, langkah ini justru memicu beban ekonomi baru akibat lonjakan biaya operasional.
- Biaya Bahan Bakar Membengkak: Petani harus merogoh kocek tambahan antara Rp100.000 hingga Rp150.000 per hari hanya untuk membeli solar mesin pompa.
- Perebutan Sumber Air: Terbatasnya titik sumur bor memicu antrean panjang hingga perselisihan antarpetani di malam hari demi mendapatkan giliran sedot air.
- Ancaman Gagal Panen Total: Jika dalam satu pekan ke depan tidak ada suplai air irigasi yang masuk, tanaman padi usia 20-40 hari dipastikan mati mengering.
Investigasi di lapangan menunjukkan tata kelola pembagian air (*giringan air*) kerap kali tidak diawasi secara ketat, sehingga petani di hilir selalu menjadi korban kekeringan tahunan yang berulang. Para petani kini mendesak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta Dinas Pertanian segera membuka pintu air bendungan secara maksimal dan mengawal distribusinya agar merata hingga petak sawah paling ujung.
Comments (0)