Pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia (BI) mengejutkan pasar keuangan, namun pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI, Destry Damayanti, langsung turun tangan meredakan kekhawatiran. Ia meminta pelaku pasar tidak melakukan aksi panik yang dapat memperburuk stabilitas sistem keuangan domestik.
Pergantian di Tengah Tekanan Eksternal
Mundurnya Perry Warjiyo terjadi saat ekonomi global tengah dihadapkan pada ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat dan melambatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa. Di dalam negeri, tekanan terhadap mata uang rupiah terus berlanjut seiring aliran modal asing yang keluar. Bursa saham Indonesia sempat terkoreksi cukup dalam pada pertengahan pekan lalu, mencerminkan sentimen investor yang gelisah terhadap arah kebijakan bank sentral pasca-kepemimpinan Perry. Destry Damayanti, yang sehari-harinya menjabat Deputi Gubernur Senior BI, ditunjuk sebagai pelaksana tugas hingga terpilihnya gubernur definitif. Pengalaman panjangnya dalam kebijakan moneter dan makroprudensial menjadi modal penting di tengah situasi menekan ini.
Imbauan Tenang untuk Stabilitas Rupiah
Dalam pernyataannya yang dirilis hari ini, Destry menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih solid. "Kita punya cadangan devisa yang cukup, inflasi terkendali, dan kinerja perdagangan masih mencatat surplus. Tidak ada alasan untuk overreaksi," ujarnya. Pihaknya mengakui adanya fluktuasi nilai tukar, namun dinilai masih dalam batas wajar mengingat dinamika global. Cadangan devisa per akhir Juni 2026 tercatat sebesar 154,8 miliar dolar AS, setara untuk membayar 6,7 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional tiga bulan. Selain itu, inflasi inti pada Juli 2026 tetap terjaga di level 2,58% secara tahunan (year-on-year), masih dalam kisaran sasaran BI sebesar 2,5±1%.
Dukungan Bauran Kebijakan
Destry juga memastikan bahwa BI akan tetap melakukan intervensi di pasar valuta asing dan membeli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder untuk menstabilkan rupiah. "Strategi triple intervention kami lanjutkan, sementara operasi moneter tetap akomodatif," katanya. Di sisi fiskal, Menteri Keuangan pun telah menyatakan koordinasi erat dengan otoritas moneter untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi. Pasar merespons positif; imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun bergerak turun tipis setelah pernyataan tersebut, menandakan kepercayaan yang mulai pulih.
Namun demikian, analis dari sejumlah bank asing memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih mungkin berlanjut hingga kepastian arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS dan hingga presiden menunjuk Gubernur BI tetap yang baru. "Selama masa transisi, kredibilitas kebijakan sangat bergantung pada kemampuan Dewan Gubernur untuk menjaga stabilitas dan komunikasi yang jelas," ungkap ekonom senior Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI, Teuku Riefky, dalam wawancara terpisah.
Prospek dan Agenda Ke Depan
Melihat ke depan, tugas berat menanti Destry Damayanti, tidak hanya meredakan gejolak jangka pendek tapi juga memastikan proses transisi berjalan mulus. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI berikutnya yang akan membahas suku bunga acuan, dijadwalkan pada pekan ketiga Agustus, menjadi titik kritis. "Kami akan terus mencermati data dan perkembangan terkini untuk keputusan yang terbaik," ungkapnya. BI-7 Day Reverse Repo Rate saat ini berada di level 5,75%, dan ekspektasi pasar terbelah antara menahan atau menaikkan suku bunga. Destry enggan memberikan sinyal arah kebijakan namun menegaskan bahwa keputusan akan berbasis pada data terbaru (data dependent).
Stabilitas sektor perbankan juga menjadi perhatian. Destry menyebut rasio kecukupan modal (CAR) industri perbankan tetap kuat di kisaran 24% dan rasio kredit bermasalah (NPL) gross terjaga di bawah 3%. Likuiditas perbankan juga melimpah, tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang tinggi. Dengan indikator-indikator tersebut, ia optimistis guncangan akibat pergantian pimpinan hanya akan bersifat temporer. "Ini bukan pertama kalinya BI mengalami transisi. Sistem kerja kami kolektif dan kolegial, sehingga stabilitas tetap terjamin," tegasnya.
Pasar memang sempat diguncang sentimen negatif saat pengumuman mundurnya Perry, namun respons cepat dari pjs Gubernur BI mampu meredam pelemahan lebih dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat anjlok 1,2% di sesi pagi berhasil memangkas separuh kerugiannya di penutupan. Pelaku pasar kini menanti aksi nyata, tidak sekadar kata-kata, untuk menguji apakah ketenangan yang diimbau benar-benar bisa dipertahankan.
Comments (0)