Aug 24, 2026
Bisnis

Airlangga: Mundur Perry Warjiyo Tak Ganggu Stabilitas Ekonomi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memastikan bahwa pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, tidak akan memengaruhi stabilitas ekonomi nasional maupun p...

Airlangga: Mundur Perry Warjiyo Tak Ganggu Stabilitas Ekonomi

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memastikan bahwa pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, tidak akan memengaruhi stabilitas ekonomi nasional maupun pergerakan nilai tukar rupiah. Pernyataan tegas ini disampaikan Airlangga di Jakarta, menepis kekhawatiran pasar yang sempat bergolak menyusul kabar mengejutkan tersebut pada awal pekan ini.

Konteks Pengunduran Diri

Perry Warjiyo, yang telah memimpin BI sejak 2018 dan dikenal arsitek kebijakan moneter kontra-siklus selama pandemi, memutuskan mundur lebih cepat dari masa jabatannya yang seharusnya berakhir pada 2028. Meski alasan resmi disebutkan sebagai faktor pribadi dan kesehatan, spekulasi beredar mengenai perbedaan pandangan dengan arah kebijakan fiskal pemerintah. Namun, sejumlah pejabat tinggi membantah adanya friksi internal. Mundurnya Perry terjadi di tengah kondisi perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian akibat perlambatan ekonomi utama dan dinamika geopolitik.

Jaminan dari Pemerintah

Dalam keterangan persnya, Airlangga menekankan bahwa Bank Indonesia memiliki fondasi kelembagaan yang kokoh dan mekanisme tata kelola yang baku. "Siapapun yang memimpin, BI akan tetap independen dan fokus pada mandat tunggalnya, yaitu menjaga stabilitas nilai rupiah," ujar Airlangga, merujuk pada Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Ia menambahkan bahwa Dewan Gubernur BI lainnya akan segera menggelar rapat untuk memastikan operasional harian tidak tersendat, sementara pemerintah bersama DPR akan mempercepat proses pemilihan gubernur baru yang kredibel. Pemerintah bersama BI juga telah menyepakati bauran kebijakan melalui Tim Pengendalian Inflasi Nasional (TPN) yang akan terus diintensifkan.

Respons Pasar dan Analis

Sempat terjadi gejolak intraday pada saat pengumuman, di mana rupiah melemah hingga 0,25% ke level Rp16.090 per dolar AS, namun berbalik arah pada sesi perdagangan berikutnya dan ditutup menguat tipis di Rp16.020. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tercatat naik 0,4% didorong aksi beli investor domestik. Ekonom senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Teuku Riefky, menilai pasar telah terlalu cepat bereaksi. "Kredibilitas BI bukan pada figur semata, melainkan pada kerangka kebijakan yang telah diuji berkali-kali. Cadangan devisa yang mencapai US$152 miliar per Juni 2026 lebih dari cukup untuk meredam gejolak spekulatif," katanya. Sementara itu, data transaksi menunjukkan capital outflow hanya sebesar Rp1,2 triliun pada hari pengumuman, jauh di bawah arus keluar saat taper tantrum 2013.

Fundamental Ekonomi Masih Solid

Stabilitas fundamental menjadi benteng utama. Inflasi inti pada Juli 2026 tercatat terkendali di level 2,3% secara tahunan (year-on-year), masih dalam sasaran BI sebesar 2,5±1%. Neraca perdagangan pada semester I-2026 membukukan surplus US$21,8 miliar, melanjutkan tren positif selama 50 bulan berturut-turut. Pertumbuhan kredit perbankan tumbuh 11,4% yoy, menopang konsumsi dan investasi. Likuiditas perekonomian, yang tercermin dari rasio M2 terhadap PDB, juga memadai di kisaran 45%. Rasio utang luar negeri Indonesia terhadap PDB tetap rendah di bawah 30%, dan peringkat utang sovereign masih pada level layak investasi dari seluruh lembaga pemeringkat utama seperti Fitch, Moody's, dan S&P. "Pasar tidak akan terganggu selama data ekonomi tetap baik," ujar seorang analis di bank asing di Jakarta.

Langkah ke Depan

Wakil Presiden yang juga membidangi urusan ekonomi dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa transisi kepemimpinan di BI akan berjalan mulus karena adanya jajaran deputi gubernur yang berpengalaman. Deputi Gubernur Senior yang ada saat ini akan menjalankan tugas sementara hingga pengganti definitif dilantik. Koordinasi antara BI, Kementerian Keuangan, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dipastikan tetap berjalan melalui Forum Stabilitas Sistem Keuangan (FKSS). Airlangga menegaskan, pemerintah akan menghormati independensi BI sekaligus menjaga komunikasi kebijakan yang erat agar tidak terjadi mispersepsi. "Kita sudah melalui berbagai krisis, dan kali ini kita lebih siap. Tidak ada alasan fundamental bagi pasar untuk meragukan ketahanan ekonomi kita," tutup Airlangga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User