Aug 28, 2026
Bisnis

Pertamina Kembangkan SAF dari Minyak Jelantah untuk Penerbangan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan laporan sektor energi per 27 Agustus 2026, industri penerbangan menghadapi tekanan untuk menekan emisi karbon tanpa mengurangi konektivitas udara. Dalam kont...

Pertamina Kembangkan SAF dari Minyak Jelantah untuk Penerbangan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan laporan sektor energi per 27 Agustus 2026, industri penerbangan menghadapi tekanan untuk menekan emisi karbon tanpa mengurangi konektivitas udara. Dalam konteks tersebut, PT Pertamina mendorong pengolahan minyak jelantah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF), yakni bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang dirancang mengurangi jejak karbon dibandingkan bahan bakar jet konvensional.

Pengembangan ini menempatkan limbah rumah tangga dan usaha makanan sebagai bahan baku bernilai ekonomi. Minyak goreng bekas yang selama ini berisiko mencemari lingkungan dapat dikumpulkan, dimurnikan, lalu diproses menjadi komponen bahan bakar pesawat. Produk tersebut telah menarik perhatian maskapai internasional, termasuk Cathay Pacific, yang membeli SAF hasil pengolahan tersebut untuk mendukung kebutuhan penerbangannya.

Minyak Jelantah Masuk Rantai Nilai Energi

Minyak jelantah merupakan minyak goreng yang telah digunakan berulang kali sehingga tidak lagi layak dikonsumsi. Jika dibuang sembarangan, limbah ini dapat menyumbat saluran air dan menurunkan kualitas lingkungan. Namun, melalui teknologi pengolahan tertentu, kandungan minyaknya bisa diubah menjadi bahan baku energi rendah emisi.

Langkah Pertamina mencerminkan perubahan tren dalam industri energi. Perusahaan tidak hanya mengandalkan minyak mentah, tetapi juga mencari sumber bahan baku alternatif yang berasal dari limbah. Pendekatan ini disebut ekonomi sirkular, yaitu sistem yang mempertahankan nilai suatu material selama mungkin melalui penggunaan kembali, pengolahan, dan pemanfaatan ulang.

Di satu sisi, pemanfaatan minyak jelantah dapat memperluas pasokan bahan baku SAF sekaligus mengurangi beban pencemaran. Model ini juga berpotensi menciptakan pendapatan tambahan bagi masyarakat, restoran, dan pelaku usaha pengumpulan limbah. Apabila jaringan pengumpulan semakin terorganisasi, biaya bahan baku dapat ditekan dan kapasitas produksi berpeluang mengalami kenaikan.

Di sisi lain, tantangan logistik tidak kecil. Minyak jelantah tersebar di banyak lokasi dengan volume yang berbeda-beda. Pengumpulan, penyaringan, penyimpanan, dan pengujian kualitas membutuhkan sistem yang konsisten. Tanpa pengawasan, bahan baku dapat tercampur dengan air, residu makanan, atau minyak lain sehingga menurunkan efisiensi pengolahan.

Permintaan Maskapai Menjadi Penggerak Pasar

Pembelian SAF oleh Cathay Pacific memperlihatkan bahwa permintaan terhadap bahan bakar penerbangan berkelanjutan mulai terbentuk secara komersial. Maskapai global berada di bawah tekanan regulator, penumpang, dan investor untuk menurunkan emisi. Penerbangan menggunakan energi dalam jumlah besar, sehingga penggantian sebagian bahan bakar fosil dengan SAF dapat menjadi salah satu instrumen transisi.

SAF tidak berarti pesawat terbang tanpa emisi. Proses pembakaran di mesin tetap menghasilkan karbon dioksida. Perbedaannya terletak pada keseluruhan siklus hidup bahan bakar, mulai dari sumber bahan baku, produksi, distribusi, hingga penggunaan. Karena berasal dari limbah, emisi bersihnya dapat lebih rendah dibandingkan bahan bakar konvensional, meskipun besarnya pengurangan bergantung pada teknologi dan rantai pasok.

Penggunaan limbah sebagai bahan baku energi perlu dinilai dari seluruh siklus hidupnya, bukan hanya dari tahap pembakaran di mesin pesawat.

Di satu sisi, keterlibatan pembeli internasional meningkatkan kredibilitas proyek dan membuka peluang kontrak jangka panjang. Kepastian permintaan dapat membantu produsen menghitung investasi kilang, fasilitas pemurnian, serta infrastruktur distribusi. Hal itu penting karena produksi SAF umumnya memerlukan modal besar dan standar mutu yang ketat.

Di sisi lain, harga SAF masih berpotensi lebih tinggi daripada bahan bakar jet biasa. Perbedaan harga dipengaruhi ketersediaan bahan baku, skala produksi, biaya sertifikasi, dan proses teknologi. Apabila seluruh biaya dibebankan kepada maskapai, dampaknya dapat tercermin pada biaya operasional dan harga tiket. Karena itu, ekspansi pasar membutuhkan keseimbangan antara target lingkungan, kemampuan industri, dan daya beli konsumen.

Prospek, Risiko, dan Fundamental Pengembangan SAF

Fundamental pengembangan SAF ditentukan oleh tiga faktor utama: pasokan bahan baku, kesiapan teknologi, dan regulasi. Pasokan minyak jelantah harus memiliki asal-usul yang jelas agar tidak menimbulkan masalah legalitas maupun kualitas. Teknologi pengolahan harus mampu menghasilkan bahan bakar yang memenuhi spesifikasi keselamatan penerbangan. Sementara itu, regulasi perlu memberikan kepastian mengenai standar keberlanjutan, insentif, dan mekanisme pengurangan emisi.

Indonesia memiliki peluang karena jumlah penduduk, aktivitas kuliner, dan konsumsi minyak goreng menciptakan sumber minyak jelantah yang relatif besar. Namun, potensi tersebut tidak otomatis menjadi pasokan industri. Sebagian minyak jelantah telah masuk jalur perdagangan informal, sementara sebagian lain mungkin tidak terkumpul secara rutin. Diperlukan sistem insentif dan edukasi agar masyarakat tidak membuang limbah atau menggunakannya kembali untuk konsumsi.

Risiko lain terkait dengan persaingan bahan baku. Minyak jelantah juga dibutuhkan industri biodiesel dan produk oleokimia. Jika permintaan dari berbagai sektor meningkat secara bersamaan, harga bahan baku dapat mengalami kenaikan. Kondisi itu akan memengaruhi valuasi proyek, margin pengolahan, dan proyeksi biaya SAF.

Dalam jangka menengah, sentimen pasar terhadap energi bersih kemungkinan tetap menjadi faktor pendukung. Investor institusional semakin memperhatikan indikator lingkungan, sosial, dan tata kelola dalam membentuk portofolio. Meski demikian, keputusan komersial tetap akan dipengaruhi likuiditas, rasio biaya terhadap pendapatan, serta kemampuan proyek menghasilkan arus kas yang stabil.

Dengan demikian, pemanfaatan minyak jelantah untuk SAF menawarkan manfaat ekonomi dan lingkungan, tetapi bukan solusi tunggal bagi dekarbonisasi penerbangan. Keberhasilannya bergantung pada pengumpulan bahan baku yang transparan, efisiensi pengolahan, standar keselamatan, dan komitmen pembeli. Proyeksi pertumbuhan sektor ini akan lebih kuat apabila seluruh rantai pasok berkembang secara serempak, bukan hanya kapasitas produksinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User