Oct 10, 2026
Bisnis

Pertamina Dorong Homestay Lokal Mandalika Lewat Pelatihan dan Energi Terbarukan

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per akhir 2023, kunjungan wisatawan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Nusa Tenggara Barat, mengalami kenaikan signifikan pasca peny...

Pertamina Dorong Homestay Lokal Mandalika Lewat Pelatihan dan Energi Terbarukan

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per akhir 2023, kunjungan wisatawan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Nusa Tenggara Barat, mengalami kenaikan signifikan pasca penyelenggaraan MotoGP. Tren positif ini membawa dampak bergulir bagi sektor akomodasi berbasis masyarakat, khususnya homestay yang dikelola penduduk lokal. Dalam konteks tersebut, PT Pertamina (Persero) memperluas perannya melalui program pembinaan pengelolaan homestay serta inisiatif Desa Energi Berdikari (DEB) di kawasan penyangga sirkuit.

Fundamental Ekonomi di Balik Homestay Mandalika

Secara fundamental, lonjakan permintaan kamar selama gelaran MotoGP menjadi sentimen pasar yang menguntungkan pemilik homestay. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel non-bintang di Lombok Tengah menembus di atas 60 persen pada periode event, dibandingkan rata-rata normal yang berkisar 35 hingga 40 persen. Artinya, ada lonjakan sekitar 20 hingga 25 poin persentase yang menciptakan peluang pendapatan tambahan bagi rumah tangga lokal. Namun, peluang ini hanya dapat ditangkap bila kapasitas pengelolaan, kualitas layanan, dan kesiapan infrastruktur dasar memadai. Di sinilah intervensi korporasi menjadi relevan, karena homestay bukan sekadar penyedia kamar, melainkan bagian dari rantai nilai pariwisata yang menuntut standar kebersihan, pemasaran digital, dan manajemen keuangan sederhana.

Di satu sisi, program pelatihan yang menyasar pengelola homestay berpotensi meningkatkan valuasi aset warga. Sebuah homestay dengan tingkat hunian stabil dapat menghasilkan pendapatan bulanan yang jauh melampaui sewa rumah konvensional. Jika dihitung dengan asumsi tarif Rp250 ribu hingga Rp400 ribu per malam dan okupansi 50 persen, pemilik dapat mengantongi sekitar Rp3,75 juta sampai Rp6 juta per bulan, angka yang signifikan bagi ekonomi desa. Program Desa Energi Berdikari menambah dimensi lain: ketersediaan energi terbarukan, misalnya panel surya, menurunkan biaya operasional listrik dan meningkatkan ketahanan layanan saat beban puncak. Ini adalah bentuk investasi produktif yang memperkuat struktur biaya usaha mikro.

Pro dan Kontra Skema Kemitraan Korporasi

Pro: pendekatan ini menciptakan efek berganda. Pelatihan sumber daya manusia meningkatkan kualitas layanan, sementara infrastruktur energi menekan biaya variabel. Keduanya memperbaiki margin usaha dan memperpanjang masa tinggal wisatawan. Kolaborasi semacam ini juga memperkecil ketergantungan pada operator akomodasi besar, sehingga aliran devisa dan belanja wisatawan lebih lama berputar di tingkat desa. Dari sisi likuiditas daerah, peningkatan transaksi homestay mendorong perputaran uang tunai yang lebih cepat di pasar lokal, warung, dan penyedia jasa transportasi.

Kontra: sejumlah pengamat mengingatkan risiko ketergantungan pada siklus event. Bila kalender MotoGP berubah atau terjadi gangguan global, permintaan dapat menurun tajam. Tanpa diversifikasi pasar, homestay berisiko mengalami penurunan okupansi yang drastis. Selain itu, kesenjangan kapasitas antarwilayah dapat melebar, di mana desa yang dekat sirkuit menikmati lonjakan, sementara desa penyangga yang lebih jauh tertinggal. Pertanyaan lain menyangkut keberlanjutan pendampingan pasca-program: apakah pelatihan berlanjut, atau berhenti setelah periode proyek berakhir.

"Pariwisata berbasis masyarakat hanya berkelanjutan jika ada transfer pengetahuan dan kepastian pasar, bukan sekadar bantuan teknis sesaat," ujar seorang ekonom pariwisata yang meneliti dampak event internasional terhadap UMKM lokal.

Proyeksi dan Indeks Kesiapan Daerah

Ke depan, keberhasilan inisiatif ini akan bergantung pada beberapa indikator: rasio okupansi tahunan, pertumbuhan pendapatan rumah tangga penerima manfaat, serta indeks kesiapan digital pengelola homestay. Pemerintah daerah perlu menyelaraskan program dengan tata ruang, akses air bersih, dan pengelolaan sampah, karena tanpa itu, lonjakan kunjungan justru menimbulkan biaya eksternal. Dari kacamata portofolio pembangunan, kombinasi pelatihan, energi terbarukan, dan pendampingan pemasaran merupakan paket yang relatif seimbang, selama disertai monitoring berbasis data.

Dengan demikian, dukungan terhadap homestay lokal di Mandalika bukan sekadar program tanggung jawab sosial, melainkan upaya membangun fundamental ekonomi kawasan yang lebih inklusif. Jika tren kunjungan berlanjut dan tata kelola diperkuat, homestay berpotensi menjadi tulang punggung akomodasi yang menyerap tenaga kerja sekaligus menjaga capital outflow tetap terkendali di tingkat lokal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User