Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat per kuartal III 2026, sektor akomodasi dan penyediaan makan minum di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika mencatat pertumbuhan 8,7 persen year-on-year, tertinggi di antara seluruh kabupaten di Pulau Lombok. Angka ini menjadi fondasi penting untuk membaca dampak penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 terhadap perekonomian daerah, khususnya dari sisi penyerapan tenaga kerja warga lokal.
Menyelenggarakan event balap kelas dunia bukan sekadar soal prestise. Ada rantai pasok ekonomi yang panjang: dari penyediaan jasa kebersihan, katering, transportasi, hingga tenaga keamanan dan pemandu wisata. Semua lini ini membuka peluang kerja temporer maupun permanen bagi warga sekitar Sirkuit Mandalika.
Pro: Multiplier Effect dan Peningkatan Pendapatan Rumah Tangga
Di satu sisi, kehadiran Pertamina Grand Prix 2026 menciptakan multiplier effect yang signifikan. Multiplier effect adalah efek berganda dari satu kegiatan ekonomi terhadap sektor-sektor lain di sekitarnya. Ketika ribuan penonton dan kru internasional datang, permintaan terhadap barang dan jasa lokal melonjak.
Data Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lombok Tengah mencatat sekitar 2.400 warga lokal terserap sebagai tenaga kerja langsung pada penyelenggaraan tahun ini, naik sekitar 15 persen dibandingkan edisi sebelumnya. Mereka bekerja sebagai marshal, petugas parkir, kru kebersihan, hingga staf layanan konsumsi. Rata-rata penghasilan tambahan yang diperoleh berkisar Rp2,5 juta hingga Rp7 juta selama periode event berlangsung, bergantung pada jenis dan durasi pekerjaan.
"Event ini menjadi jembatan bagi warga untuk mendapatkan pengalaman kerja berskala internasional. Mereka tidak hanya menerima upah, tetapi juga pelatihan keterampilan yang bisa dibawa ke sektor lain," ujar seorang pejabat daerah yang menangani penempatan tenaga kerja.
Selain itu, pelaku UMKM di sekitar sirkuit merasakan kenaikan omzet yang cukup tajam. Berdasarkan catatan Dinas Koperasi dan UKM setempat, sekitar 65 persen pelaku usaha mikro melaporkan kenaikan pendapatan hingga tiga kali lipat selama gelaran balap. Tren ini menunjukkan bagaimana sektor pariwisata berbasis event mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan secara langsung.
Kontra: Kerentanan Struktural dan Risiko Pasca-Event
Di sisi lain, analisis yang lebih kritis perlu disampaikan. Sebagian besar peluang kerja yang tercipta bersifat temporer dan musiman. Ketika event selesai, tenaga kerja ini kembali menghadapi ketidakpastian penghasilan. Ini adalah persoalan klasik dalam ekonomi event: lonjakan aktivitas yang tidak diikuti dengan keberlanjutan lapangan kerja permanen.
Rasio serapan tenaga kerja lokal terhadap total kebutuhan pekerja pada event ini juga perlu dicermati. Meskipun angka 2.400 orang terdengar besar, sebagian posisi strategis dengan upah lebih tinggi masih diisi tenaga terampil dari luar daerah. Ini menandakan adanya kesenjangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal yang harus menjadi pekerjaan rumah jangka panjang. Investasi dalam pelatihan vokasi dan sertifikasi keterampilan menjadi kunci agar warga lokal dapat naik kelas dalam rantai nilai event internasional.
Dari perspektif fiskal daerah, ketergantungan pada event tahunan juga menimbulkan risiko. Jika terjadi penurunan minat penyelenggara, sentimen pasar terhadap kawasan Mandalika bisa melemah, yang berujung pada capital outflow dari sektor properti dan perhotelan. Pemerintah daerah perlu menyiapkan skema transisi ekonomi, misalnya dengan mengembangkan sektor ekonomi kreatif dan agrowisata yang berkelanjutan.
Proyeksi dan Fundamental Ekonomi Jangka Panjang
Melihat data secara agregat, kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB pada 2026 diproyeksikan mencapai 22,4 persen, naik dari 19,8 persen pada 2024. Valuasi ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi daerah mulai bergeser dari dominasi pertambangan dan pertanian menuju ekonomi jasa.
Namun, keberlanjutan tren ini sangat bergantung pada kualitas kebijakan pendamping. Likuiditas investasi di kawasan Mandalika perlu dijaga dengan iklim usaha yang stabil, infrastruktur yang memadai, dan insentif yang tepat sasaran. Jika hanya mengandalkan momentum event tanpa pembenahan struktural, maka lonjakan ekonomi hanya akan bersifat sementara.
Secara keseluruhan, Pertamina Grand Prix 2026 memberikan peluang kerja nyata bagi warga lokal Lombok. Tetapi nilai ekonominya akan jauh lebih besar jika pemerintah dan pemangku kepentingan mampu mengubah pengalaman musiman menjadi kapasitas permanen. Inilah ujian sesungguhnya: bukan sekadar menghitung berapa orang yang bekerja selama balapan, melainkan seberapa besar kesejahteraan yang tersisa setelah bendera finis dikibarkan.
Comments (0)