Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan total kontribusi mencapai Rp9.580 triliun. Dari angka tersebut, subsektor ekonomi kreatif—termasuk kriya atau produk handmade—menempati porsi yang terus mengalami kenaikan, seiring tren global yang mengarah pada produk buatan tangan bernilai estetika tinggi. Salah satu pelaku yang mencuri perhatian adalah EKKYTA, usaha kriya yang berawal dari hobi merajut dan kini menembus pasar ekspor.
Dari Hobi Merajut Menjadi Bisnis Bernilai Tambah
Perjalanan EKKYTA dimulai pada 2011, ketika kegiatan merajut yang semula sekadar hobi berubah menjadi unit usaha produktif. Pendekatan yang dipakai bukan sekadar menjual produk, melainkan membangun ekosistem inovasi dan pelatihan bagi perajin lokal. Strategi ini sejalan dengan karakteristik industri kriya yang padat karya dan sarat nilai budaya, sehingga memiliki daya tarik tersendiri di pasar internasional. Dalam konteks ekonomi, produk handmade memiliki elastisitas harga yang relatif rendah di segmen premium—artinya, konsumen global cenderung tetap membeli meski harga naik, selama nilai keunikan terjaga.
Di satu sisi, keberhasilan menembus ekspor menunjukkan bahwa kualitas produk UMKM Indonesia mampu bersaing di pasar global. Nilai ekspor produk kriya nasional pada 2023 tercatat sekitar USD 1,2 miliar, dengan pangsa pasar utama ke Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Tren ini diperkuat oleh sentimen pasar internasional yang menggemari produk berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Peran Literasi Keuangan dan Akses Pembiayaan
Di sisi lain, capaian tersebut tidak lepas dari dukungan pembiayaan dan pendampingan usaha. Berdasarkan data OJK per Desember 2024, rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan berada di kisaran 19,4 persen, dengan target pemerintah menembus 30 persen dalam beberapa tahun ke depan. Likuiditas yang memadai memungkinkan pelaku usaha seperti EKKYTA melakukan ekspansi kapasitas produksi, pelatihan tenaga kerja, serta sertifikasi standar ekspor.
"UMKM kriya memiliki fundamental kuat karena basisnya komunitas dan kearifan lokal. Tantangannya ada pada konsistensi kualitas dan akses pasar global," ujar seorang analis industri kreatif.
Pendampingan literasi keuangan menjadi krusial. Pelaku usaha yang sebelumnya mengelola keuangan secara sederhana perlu memahami pencatatan arus kas, penetapan harga berbasis biaya produksi, hingga pengelolaan portofolio pesanan ekspor yang siklus pembayarannya lebih panjang. Tanpa itu, pertumbuhan pesanan justru bisa menekan likuiditas internal.
Pro dan Kontra Ekspansi UMKM ke Pasar Global
Pro: ekspor membuka ruang valuasi produk yang lebih tinggi, mendorong diversifikasi pasar di tengah pelemahan daya beli domestik, serta memperkuat cadangan devisa negara. Setiap kenaikan ekspor kriya juga berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja, mengingat industri ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar per unit output.
Kontra: ketergantungan pada pasar ekspor membuat UMKM rentan terhadap gejolak eksternal, seperti perlambatan ekonomi global, kebijakan tarif, hingga risiko capital outflow yang melemahkan nilai tukar dan menaikkan biaya impor bahan baku. Selain itu, biaya logistik dan sertifikasi sering menjadi penghambat utama bagi usaha berskala kecil.
Proyeksi ke depan, pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia diperkirakan tetap positif di kisaran 5–6 persen year-on-year hingga 2026, didukung digitalisasi pemasaran dan platform e-commerce lintas negara. Namun, keberlanjutan tren ini bergantung pada sinergi antara pelaku usaha, lembaga pembiayaan, dan pemerintah dalam memperkuat fundamental—bukan sekadar mengandalkan sentimen pasar sesaat.
Kisah EKKYTA menjadi cermin bahwa produk handmade dengan inovasi dan pelatihan berkelanjutan mampu menjadi duta ekonomi Indonesia di panggung global. Selama ekosistem pendukungnya terjaga, sektor ini berpotensi menjadi salah satu pilar ketahanan ekonomi nasional yang berbasis pada kreativitas dan kearifan lokal.
Comments (0)