Oct 13, 2026
Bisnis

Pertamina Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Bank Sampah Mandalika

Penyelenggaraan ajang balap internasional di kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat, tidak hanya menjadi magnet bagi wisatawan dan pelaku industri otomotif, tetapi juga membuka ruang bagi penguatan pr...

Pertamina Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Bank Sampah Mandalika

Penyelenggaraan ajang balap internasional di kawasan Mandalika, Nusa Tenggara Barat, tidak hanya menjadi magnet bagi wisatawan dan pelaku industri otomotif, tetapi juga membuka ruang bagi penguatan program pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan. Salah satu inisiatif yang mencuat adalah pengelolaan bank sampah di Desa Kuta Mandalika yang digerakkan bersama oleh operator energi nasional dan komunitas lokal. Langkah ini menempatkan perhelatan berskala global sebagai katalis bagi terbentuknya aktivitas ekonomi sirkular di tingkat desa.

Bank Sampah sebagai Instrumen Ekonomi Mikro

Bank sampah bukan sekadar tempat pemilahan limbah. Dalam kerangka ekonomi, institusi ini berfungsi mengubah sampah rumah tangga menjadi instrumen bernilai ekonomis yang dapat ditabung, ditukar, atau dikonversi menjadi rupiah. Masyarakat Desa Kuta Mandalika diajak memilah limbah organik dan anorganik, lalu menyetorkannya ke pengelola untuk ditimbang dan dicatat layaknya rekening bank konvensional.

Setoran dalam bentuk plastik, kertas, dan logam kemudian dijual kembali ke pengepul atau industri daur ulang, sementara nilai hasil penjualan dikembalikan kepada warga sebagai saldo tabungan. Skema ini secara bertahap menciptakan aliran pendapatan tambahan bagi rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki akses ke sumber penghasilan alternatif. Dari sisi makro, aktivitas tersebut menambah likuiditas di tingkat komunitas dan memperkuat daya beli lokal.

"Pengelolaan sampah yang terorganisir bisa menjadi fondasi ekonomi desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan," ujar seorang penggerak komunitas lingkungan di kawasan Mandalika.

Di Satu Sisi: Dorongan bagi Pariwisata Berkelanjutan

Di satu sisi, keterlibatan korporasi energi dalam program bank sampah di sekitar sirkuit memberi sinyal positif bagi tren pariwisata berkelanjutan. Wisatawan asing maupun domestik kian sensitif terhadap isu lingkungan, sehingga destinasi yang mampu menunjukkan pengelolaan limbah yang rapi berpotensi memperoleh valuasi reputasi lebih tinggi di mata pasar. Kawasan Mandalika yang bersih menjadi nilai tambah tersendiri bagi citra Indonesia di panggung internasional.

Dari perspektif investasi, program tanggung jawab sosial semacam ini memperkuat aspek environmental, social, and governance (ESG) yang kini menjadi pertimbangan penting bagi investor institusi. Perusahaan dengan skor ESG yang baik cenderung memiliki biaya modal lebih rendah dan akses pendanaan yang lebih luas. Selain itu, kegiatan ini berpotensi menyerap tenaga kerja lokal, mulai dari petugas penimbangan, pencatat administrasi, hingga pengelola logistik pengangkutan.

Di Sisi Lain: Tantangan Keberlanjutan dan Skala

Di sisi lain, keberlanjutan bank sampah masih menghadapi sejumlah tantangan fundamental. Volume sampah yang dikelola bergantung pada partisipasi warga, sementara harga jual bahan daur ulang sangat fluktuatif dan ditentukan oleh sentimen pasar komoditas global. Ketika harga plastik daur ulang melemah, insentif bagi warga untuk memilah bisa menurun secara signifikan.

Selain itu, bank sampah kerap menghadapi keterbatasan kapasitas manajemen, pembukuan, dan pemasaran. Tanpa pendampingan berkelanjutan, program semacam ini berisiko berhenti setelah momentum acara besar berlalu. Proyeksi jangka panjang juga bergantung pada seberapa besar dukungan pemerintah daerah dalam bentuk regulasi, insentif fiskal, maupun integrasi dengan sistem pengelolaan sampah kabupaten.

Rasio efektivitas program perlu diukur secara transparan, misalnya berapa ton limbah yang berhasil dialihkan dari tempat pembuangan akhir per bulan, berapa nilai ekonomi yang dihasilkan, dan berapa rumah tangga yang aktif terlibat. Tanpa data semacam itu, klaim keberhasilan sulit diverifikasi dan rentan menjadi narasi tanpa substansi.

Proyeksi dan Arah ke Depan

Ke depan, penguatan bank sampah di Desa Kuta Mandalika berpotensi menjadi model percontohan bagi desa wisata lain di Indonesia. Kombinasi antara event berskala global, dukungan korporasi, dan partisipasi warga dapat menciptakan efek berganda, mulai dari perbaikan sanitasi, peningkatan pendapatan rumah tangga, hingga pengurangan capital outflow berupa impor bahan baku daur ulang.

Namun demikian, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada konsistensi kebijakan, pendampingan teknis, dan diversifikasi produk olahan sampah bernilai tambah. Jika dikelola optimal, bank sampah tidak lagi dipandang sebagai proyek sosial semata, melainkan sebagai unit usaha mikro yang berkontribusi nyata terhadap perekonomian desa dan citra pariwisata nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User