Oct 13, 2026
Bisnis

Harga Pangan Naik, Strategi Belanja agar Dompet Tetap Aman

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan laporan Bank Indonesia mengenai perkembangan harga, tekanan inflasi pada kelompok makanan bergejolak (volatile food) kembali menjadi perhatian menjelan...

Harga Pangan Naik, Strategi Belanja agar Dompet Tetap Aman

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan laporan Bank Indonesia mengenai perkembangan harga, tekanan inflasi pada kelompok makanan bergejolak (volatile food) kembali menjadi perhatian menjelang periode akhir tahun. Harga sejumlah komoditas pokok seperti beras, cabai, telur, dan minyak goreng tercatat mengalami kenaikan year-on-year, meski laju inflasi umum relatif terkendali. Kondisi ini memaksa rumah tangga melakukan penyesuaian anggaran belanja agar daya beli tidak tergerus. Pertanyaannya, bagaimana mengatur belanja agar keuangan tetap sehat di tengah tren harga yang terus naik?

Membaca Sumber Tekanan Harga Pangan

Secara fundamental, kenaikan harga pangan dipicu oleh kombinasi beberapa faktor. Di satu sisi, faktor musiman seperti cuaca ekstrem dan gangguan pasokan distribusi menyebabkan kelangkaan sementara di sejumlah daerah. Ini tercermin dari indeks harga pangan yang bergerak naik pada beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, sentimen pasar global, pelemahan nilai tukar, serta kenaikan biaya input produksi turut mendorong harga di tingkat konsumen.

Menurut catatan BPS, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan maupun struktur konsumsi rumah tangga Indonesia, dengan porsi di atas 30 persen dari total pengeluaran. Artinya, setiap lonjakan harga pangan berdampak langsung pada portofolio belanja keluarga, terutama kelompok menengah ke bawah.

"Tekanan harga pangan bersifat regresif, artinya paling dirasakan oleh rumah tangga berpenghasilan rendah karena porsi belanja makanannya paling besar," ujar seorang ekonom dalam sebuah diskusi publik.

Pro: Menyusun Anggaran dan Prioritas Belanja

Di satu sisi, perencana keuangan menilai bahwa kenaikan harga justru menjadi momentum bagi rumah tangga untuk lebih disiplin menyusun anggaran. Langkah awal adalah memisahkan kebutuhan pokok dan keinginan. Belanja bahan makanan sebaiknya dialokasikan maksimal 30 hingga 40 persen dari pendapatan bulanan. Dengan mencatat pengeluaran secara rutin, rumah tangga dapat mengidentifikasi pos mana yang paling membebani.

Strategi lain adalah membeli dalam jumlah besar untuk komoditas tahan simpan seperti beras, gula, dan minyak, sehingga harga per unit lebih murah. Memanfaatkan diskon, kupon, atau platform belanja daring yang menawarkan harga kompetitif juga dapat menekan biaya. Selain itu, menyusun menu mingguan berbasis bahan lokal dan musiman membantu menekan pengeluaran sekaligus menjaga gizi.

Pro dari pendekatan ini adalah terbentuknya kebiasaan finansial yang lebih sehat, likuiditas rumah tangga lebih terjaga, serta kemampuan menghadapi guncangan harga di masa depan meningkat.

Kontra: Keterbatasan Daya Beli dan Jebakan Utang

Di sisi lain, tidak semua rumah tangga memiliki ruang fiskal untuk bermanuver. Bagi kelompok berpenghasilan rendah, kenaikan harga pangan langsung menggerus sisa anggaran, sehingga pilihan yang tersisa hanyalah mengurangi porsi atau kualitas konsumsi. Dalam kondisi ekstrem, sebagian rumah tangga terpaksa mengakses pinjaman konsumtif atau paylater untuk menutup kebutuhan pokok, yang justru menambah beban bunga dan berpotensi menciptakan jebakan utang.

Selain itu, strategi belanja hemat tidak selalu efektif ketika harga naik secara serentak di seluruh pasar. Persaingan harga antarperitel pun tidak selalu signifikan menurunkan harga di tingkat konsumen, terutama untuk komoditas yang pasokannya terbatas. Ini menandakan bahwa solusi individual saja tidak cukup tanpa intervensi kebijakan, seperti operasi pasar, stabilisasi pasokan, dan bantuan sosial yang tepat sasaran.

Dari kacamata makro, bila daya beli melemah berkelanjutan, konsumsi rumah tangga sebagai motor pertumbuhan ekonomi bisa melambat. Proyeksi pertumbuhan ekonomi pun berpotensi terpangkas bila capital outflow dan ketidakpastian global turut menekan sentimen pasar.

Kesimpulan: Sinergi Kebijakan dan Literasi Keuangan

Pada akhirnya, kenaikan harga pangan adalah persoalan dua sisi. Dari sisi rumah tangga, pengelolaan belanja yang cermat, pencatatan anggaran, dan prioritas kebutuhan pokok menjadi kunci menjaga kesehatan finansial. Dari sisi pemerintah, stabilisasi harga dan penguatan jaring pengaman sosial menjadi prasyarat agar daya beli masyarakat tidak tergerus. Kombinasi literasi keuangan yang baik dan kebijakan yang responsif akan menentukan seberapa tangguh perekonomian menghadapi tren harga pangan yang masih bergejolak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User