Oct 14, 2026
Bisnis

Pertamina Dorong Ekonomi Pesisir Lewat Sekolah Alam

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, sekitar 7,2 juta jiwa atau hampir 26 persen penduduk Indonesia bermukim di kawasan pesisir dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB)...

Pertamina Dorong Ekonomi Pesisir Lewat Sekolah Alam

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, sekitar 7,2 juta jiwa atau hampir 26 persen penduduk Indonesia bermukim di kawasan pesisir dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional yang belum optimal. Kesenjangan ini menjadi latar belakang langkah PT Pertamina Patra Niaga yang mendorong pemberdayaan masyarakat pesisir melalui Program Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik, Nusa Tenggara Barat. Program ini menyasar anak-anak dan keluarga nelayan dengan pendekatan edukasi lingkungan sekaligus penguatan ekonomi rumah tangga.

Langkah tersebut menarik dicermati karena menyentuh dua isu fundamental sekaligus: rendahnya kualitas sumber daya manusia di wilayah pesisir dan terbatasnya akses pasar bagi produk warga. Di satu sisi, intervensi korporasi semacam ini berpotensi mempercepat transfer pengetahuan dan keterampilan. Di sisi lain, pertanyaan mengenai keberlanjutan program setelah pendanaan awal berakhir kerap menjadi catatan kritis para pengamat kebijakan publik.

Mengapa Kawasan Pesisir Tertinggal Secara Struktural

Secara makro, kawasan pesisir menyumbang sekitar 25 persen dari total PDB nasional melalui sektor perikanan, pariwisata bahari, dan transportasi laut. Namun, angka kemiskinan di desa pesisir tercatat 12,5 persen pada 2023, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di kisaran 9,36 persen. Artinya, ada paradoks: kekayaan sumber daya laut tidak berkorelasi linear dengan kesejahteraan warga yang hidup di sekitarnya.

Ekonom pembangunan menyebut fenomena ini sebagai resource curse skala lokal, yakni kondisi ketika kekayaan sumber daya alam tidak diimbangi kapasitas manusia dan kelembagaan untuk mengelolanya. Rasio ketergantungan nelayan terhadap tengkulak masih tinggi, sementara literasi keuangan dan pemasaran digital di desa pesisir baru menyentuh 31 persen rumah tangga, berdasarkan survei OJK 2023.

Edukasi Sebagai Instrumen Pemberdayaan Ekonomi

Program Sekolah Alam Anak Pesisir di Desa Cendi Manik menyasar kelompok usia sekolah dengan materi yang menggabungkan literasi lingkungan, konservasi mangrove, dan pengenalan wirausaha berbasis hasil laut. Pendekatan ini sejalan dengan teori human capital yang menempatkan pendidikan sebagai investasi jangka panjang terhadap produktivitas.

"Setiap rupiah yang ditanam untuk pendidikan anak di kawasan pesisir berpotensi menghasilkan pengembalian sosial hingga tiga kali lipat dalam dua dekade, terutama bila disertai akses pasar," ujar seorang ekonom pembangunan yang meneliti kawasan timur Indonesia, dalam sebuah diskusi akademik.

Dari sisi korporasi, keterlibatan dalam pemberdayaan masyarakat juga berdampak pada reputasi dan lisensi sosial untuk beroperasi. Tren environmental, social, and governance (ESG) membuat emiten energi semakin dituntut menunjukkan dampak sosial terukur, bukan sekadar donasi sesaat. Sentimen pasar terhadap perusahaan dengan skor ESG baik cenderung lebih stabil, meski valuasi tetap ditentukan oleh kinerja keuangan.

Pro dan Kontra Intervensi Korporasi

Pro: program semacam ini menghadirkan modal, jaringan, dan disiplin manajerial yang sering absen dari program pemerintah daerah. Kehadiran fasilitator lapangan dapat mempercepat kurva pembelajaran warga. Bila dikawinkan dengan program tanggung jawab sosial yang berkelanjutan, dampaknya bisa bersifat multiplikatif terhadap perekonomian desa.

Kontra: kritik klasik menyebut pendekatan filantropi korporasi berisiko menciptakan ketergantungan dan cenderung berorientasi citra. Tanpa integrasi ke dalam rencana pembangunan daerah dan anggaran desa, program berpotensi berhenti ketika periode pendanaan usai. Selain itu, dampak terhadap pendapatan rumah tangga sering sulit diukur karena tidak ada baseline data yang ketat.

Merujuk data Kementerian Desa, Dana Desa 2024 dialokasikan sekitar Rp71 triliun untuk 74.961 desa. Jika program pesisir dapat diintegrasikan dengan belanja desa, keberlanjutannya lebih terjamin. Namun, kapasitas aparatur desa dalam menyusun program berbasis data masih menjadi kendala di banyak wilayah.

Proyeksi dan Catatan ke Depan

Ke depan, keberhasilan pemberdayaan pesisir bergantung pada tiga variabel: konsistensi pendampingan, akses pembiayaan mikro yang terjangkau, serta konektivitas digital untuk pemasaran produk. Tanpa ketiganya, program edukasi berisiko menjadi pulau kecil di tengah luasnya persoalan struktural.

Dari kacamata makro, pemberdayaan pesisir berpotensi mendorong pertumbuhan inklusif yang selama ini menjadi pekerjaan rumah. Kontribusi kawasan pesisir terhadap PDB bisa naik bila kapasitas sumber daya manusia membaik dan likuiditas usaha mikro di sana meningkat. Sebaliknya, tanpa keberlanjutan, program hanya menjadi catatan baik tanpa jejak ekonomi yang signifikan bagi warga Desa Cendi Manik dan desa pesisir lain di Nusa Tenggara Barat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User