Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per kuartal IV 2025, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatatkan pertumbuhan signifikan, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 12,4 persen, naik dari 10,8 persen pada periode yang sama tahun 2024. Angka ini menjadi fondasi penting dalam menyambut perhelatan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, yang kembali menghadirkan para pembalap kelas dunia untuk berinteraksi langsung dengan penggemar di Tanah Air.
Kegiatan semacam ini bukan sekadar ajang olahraga, melainkan instrumen ekonomi yang memiliki multiplier effect (efek berganda) terhadap perekonomian lokal. Para pembalap dijadwalkan menyapa penggemar dalam rangkaian acara yang melibatkan masyarakat luas, menciptakan sentimen pasar yang positif terhadap sektor pariwisata, akomodasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan Mandalika.
Pro: Dorongan Likuiditas dan Tren Kunjungan Wisatawan
Di satu sisi, kehadiran para pembalap MotoGP dalam acara sapaan penggemar memberikan dampak langsung terhadap likuiditas ekonomi daerah. Berdasarkan proyeksi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, ajang ini diproyeksikan menarik lebih dari 100.000 wisatawan domestik dan mancanegara, dengan estimasi belanja rata-rata per orang mencapai Rp4,5 juta selama periode acara. Dengan demikian, potensi perputaran uang mencapai Rp450 miliar, yang tersebar di sektor perhotelan, kuliner, transportasi, dan cendera mata.
Indeks Okupansi Hotel (IOH) di kawasan Mandalika dan Mataram diprediksi mengalami kenaikan hingga 95 persen pada puncak acara, dibandingkan rata-rata harian yang berkisar 60 persen. Tren ini mencerminkan peningkatan permintaan yang signifikan, sekaligus menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi regional yang lebih inklusif. Selain itu, interaksi langsung antara pembalap dan penggemar menciptakan pengalaman emosional yang memperkuat loyalitas konsumen terhadap destinasi wisata Indonesia, yang pada gilirannya meningkatkan valuasi brand pariwisata nasional di mata investor global.
"Event internasional seperti MotoGP Mandalika memiliki efek berganda yang terukur, terutama pada sektor jasa dan perdagangan. Namun, pemerintah daerah perlu memastikan distribusi manfaat ekonomi tidak hanya terpusat di kawasan elit sirkuit, melainkan juga menjangkau pelaku UMKM di pinggiran," ujar seorang ekonom senior dalam sebuah diskusi panel ekonomi pariwisata.
Kontra: Risiko Capital Outflow dan Beban Infrastruktur
Di sisi lain, terdapat sejumlah risiko fundamental yang perlu dicermati. Pertama, potensi capital outflow (aliran modal keluar) dari sektor riil ke sektor spekulatif selama periode acara. Pengalaman pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa lonjakan permintaan mendadak sering kali diikuti oleh kenaikan harga yang tidak terkendali, terutama pada tarif akomodasi dan transportasi. Hal ini dapat menggerus daya beli masyarakat lokal dan menciptakan kesenjangan ekonomi antarwilayah.
Kedua, beban fiskal untuk penyiapan infrastruktur dan keamanan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan laporan anggaran daerah, alokasi belanja untuk perbaikan jalan, penerangan, dan fasilitas umum menjelang acara mencapai Rp1,2 triliun. Angka ini menimbulkan pertanyaan mengenai rasio manfaat-biaya (cost-benefit ratio) jangka panjang, terutama jika tidak diimbangi dengan strategi pasca-acara yang berkelanjutan.
Ketiga, sentimen pasar yang berlebihan (overoptimisme) dapat menciptakan asset bubble (gelembung aset) pada sektor properti dan lahan di sekitar Mandalika. Harga tanah dilaporkan mengalami kenaikan hingga 40 persen year-on-year dalam dua tahun terakhir, yang berpotensi menyulitkan masyarakat lokal untuk mengakses hunian terjangkau.
Proyeksi Ekonomi Jangka Menengah dan Pentingnya Tata Kelola
Mengacu pada data historis, penyelenggaraan MotoGP 2022 dan 2023 masing-masing memberikan kontribusi terhadap PDRB NTB sebesar Rp3,7 triliun dan Rp4,2 triliun. Untuk tahun 2026, dengan peningkatan kapasitas infrastruktur dan promosi yang lebih agresif, proyeksi kontribusi dapat mencapai Rp5,1 triliun atau setara 1,8 persen dari total PDRB provinsi. Namun, angka ini sangat bergantung pada stabilitas makroekonomi, termasuk inflasi yang diproyeksikan berada di kisaran 2,8 hingga 3,2 persen, serta nilai tukar rupiah yang stabil terhadap dolar AS.
Dari perspektif portofolio investasi daerah, keberhasilan acara ini dapat meningkatkan indeks daya saing pariwisata Indonesia di kancah global. Namun, tanpa tata kelola yang transparan dan akuntabel, manfaat ekonomi yang diharapkan dapat terdistorsi oleh praktik rente dan kebocoran anggaran. Oleh karena itu, pengawasan oleh lembaga independen serta pelibatan masyarakat lokal dalam rantai pasok ekonomi menjadi prasyarat mutlak.
Secara keseluruhan, acara sapaan pembalap Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 merupakan fenomena ekonomi dua sisi. Di satu sisi, ia menawarkan peluang pertumbuhan yang nyata melalui peningkatan likuiditas, okupansi, dan citra destinasi. Di sisi lain, ia mengandung risiko struktural yang memerlukan mitigasi cermat. Keseimbangan antara eksploitasi peluang dan pengelolaan risiko akan menentukan apakah event ini menjadi katalis transformasi ekonomi jangka panjang atau sekadar lonjakan musiman yang tidak berkelanjutan.
Comments (0)