Oct 14, 2026
Bisnis

Pertamina Apresiasi Kolaborasi MotoGP Mandalika 2026, Ekonomi NTB Berpotensi Naik

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI) per kuartal IV 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan tren ken...

Pertamina Apresiasi Kolaborasi MotoGP Mandalika 2026, Ekonomi NTB Berpotensi Naik

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia (BI) per kuartal IV 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan tren kenaikan year-on-year sebesar 6,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam konteks itu, penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 menjadi salah satu katalis yang diproyeksikan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya Nusa Tenggara Barat (NTB). PT Pertamina (Persero) menyatakan apresiasinya terhadap kolaborasi lintas sektor yang dinilai menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan ajang balap dunia tersebut, sekaligus memperluas manfaatnya bagi pariwisata, pelaku usaha, dan masyarakat.

Direktur Utama Pertamina menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), swasta, dan masyarakat lokal merupakan fondasi penting dalam menyukseskan perhelatan berskala internasional. Menurutnya, kolaborasi tersebut tidak hanya berdampak pada kelancaran acara, tetapi juga pada multiplier effect yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan menengah di sekitar kawasan Mandalika.

Dampak Ekonomi dan Proyeksi Pertumbuhan NTB

Di satu sisi, sejumlah analis memperkirakan penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 berpotensi menyumbang tambahan pertumbuhan ekonomi NTB sebesar 1,5 hingga 2,3 persen pada tahun berjalan. Angka ini berasal dari sektor akomodasi, transportasi, kuliner, serta perdagangan ritel yang mengalami kenaikan permintaan selama periode acara. Data Dinas Pariwisata NTB mencatat tingkat hunian hotel (occupancy rate) di kawasan Mandalika dan Mataram pada gelaran sebelumnya mencapai 92 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 58 persen.

Dari sisi likuiditas, perputaran uang selama event diperkirakan menembus angka Rp1,2 triliun, dengan kontribusi signifikan dari belanja wisatawan mancanegara yang memiliki daya beli lebih tinggi. Hal ini turut memperkuat fundamental ekonomi daerah, terutama pada subsektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja di NTB.

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa manfaat tersebut bersifat temporer dan bergantung pada keberlanjutan kunjungan wisatawan pasca-acara. Tanpa strategi pasca-event yang matang, lonjakan ekonomi hanya akan menjadi sentimen pasar sesaat, bukan transformasi struktural. Risiko capital outflow juga perlu diwaspadai apabila investor jangka pendek menarik dananya setelah perhelatan selesai.

Kolaborasi sebagai Kunci Daya Saing Destinasi

Pertamina menekankan bahwa kolaborasi yang dibangun bukan sekadar soal penyediaan energi dan infrastruktur, tetapi juga mencakup pengembangan kapasitas masyarakat lokal. Program pelatihan, pendampingan UMKM, serta penyediaan fasilitas pendukung menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memastikan manfaat ekonomi tersebar merata.

"Kolaborasi ini menjadi kekuatan kami dalam menghadirkan ajang balap dunia, serta memperluas manfaatnya bagi pariwisata, pelaku usaha, dan masyarakat," ujar Direktur Utama Pertamina dalam keterangan resminya.

"Event internasional seperti MotoGP harus dilihat sebagai instrumen untuk memperkuat valuasi destinasi wisata nasional, bukan hanya sebagai pesta sesaat. Kuncinya ada pada keberlanjutan program dan konsistensi kebijakan," ujar seorang ekonom senior di Jakarta.

Dari perspektif industri, kehadiran MotoGP Mandalika memberikan efek reputasi yang sulit diukur secara nominal. Indeks daya saing pariwisata Indonesia di kancah global berpotensi mengalami kenaikan, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan arus investasi di sektor properti, perhotelan, dan infrastruktur.

Pro dan Kontra dalam Membaca Manfaat Jangka Panjang

Pro: Penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 membuka peluang ekspansi sektor jasa, meningkatkan devisa dari kunjungan wisatawan mancanegara, serta mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung di NTB. Proyeksi penerimaan devisa dari sektor pariwisata nasional pada 2026 mencapai USD14,5 miliar, dengan NTB sebagai salah satu kontributor utama.

Kontra: Sebagian pengamat menilai biaya penyelenggaraan yang tinggi, termasuk subsidi dan belanja infrastruktur, perlu diuji secara rasional terhadap manfaat bersih (net benefit) yang diterima daerah. Rasio antara biaya dan manfaat harus transparan agar tidak menimbulkan beban fiskal jangka panjang. Selain itu, ketergantungan pada event tunggal berisiko menciptakan kerentanan terhadap fluktuasi sentimen pasar global dan perubahan prioritas anggaran.

Dengan demikian, keberhasilan MotoGP Mandalika 2026 tidak cukup diukur dari jumlah penonton atau liputan media, melainkan dari seberapa besar nilai tambah yang tertinggal bagi perekonomian lokal. Kolaborasi yang dibangun perlu diarahkan pada penguatan fundamental, bukan sekadar mengikuti tren musiman. Hanya dengan begitu, manfaat ekonomi dari ajang balap dunia ini dapat bertahan jauh setelah bendera finis dikibarkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User