Aug 25, 2026
Bisnis

Peringatan Ekonom: Gen Z Kian Terjebak di Sektor Informal

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, struktur ketenagakerjaan Indonesia masih diwarnai oleh dominasi sektor informal yang menyerap lebih dari 58 persen total pekerja. Namun y...

Peringatan Ekonom: Gen Z Kian Terjebak di Sektor Informal

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, struktur ketenagakerjaan Indonesia masih diwarnai oleh dominasi sektor informal yang menyerap lebih dari 58 persen total pekerja. Namun yang menjadi sorotan tajam para ekonom adalah semakin derasnya arus Generasi Z—kelompok usia produktif yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012—memasuki segmen ini. Fenomena gig economy yang semula dipandang sebagai batu loncatan karier kini berubah menjadi jebakan struktural yang mengancam kualitas sumber daya manusia nasional.

Pergeseran Preferensi dan Tekanan Struktural

Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) mengungkapkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja usia muda mengalami kenaikan year-on-year sebesar 1,8 persen, namun ironisnya, porsi mereka yang terserap di pekerjaan formal justru mengalami kontraksi. Sekitar 65 dari 100 pekerja muda saat ini berstatus sebagai pekerja informal—entah sebagai pengemudi ojek daring, kurir, content creator lepas, atau pedagang di lokapasar digital. Angka ini naik signifikan dibandingkan periode 2019 yang masih berada di kisaran 52 persen.

Di satu sisi, kemunculan platform digital membuka akses penghasilan yang sebelumnya tidak tersedia. Modal yang dibutuhkan relatif rendah, jam kerja fleksibel, dan tidak ada proses rekrutmen berlapis yang harus dilewati. Karakteristik ini sangat sesuai dengan preferensi Gen Z yang menghargai otonomi dan keseimbangan hidup. Ekonomi berbagi juga menawarkan mekanisme pendapatan harian yang memberikan ilusi kemandirian finansial.

Di sisi lain, kenyamanan semu ini menutupi biaya tersembunyi yang sangat besar. Tidak adanya kepesertaan dalam program BPJS Ketenagakerjaan, nihilnya tunjangan hari raya, serta hilangnya akses terhadap pelatihan dan jenjang karier merupakan harga mahal yang dibayar dalam jangka panjang. Fundamental ketenagakerjaan yang rapuh ini membuat posisi tawar pekerja Gen Z sangat lemah ketika berhadapan dengan algoritma platform yang sewaktu-waktu dapat mengubah skema komisi atau memberlakukan kebijakan sepihak.

Dua Perspektif: Peluang versus Jebakan

Para ekonom terbelah dalam menilai fenomena ini. Kubu pertama melihat gig economy sebagai katup pengaman di tengah melambatnya penyerapan tenaga kerja formal. Dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,0 persen, sektor formal dinilai belum mampu menciptakan lapangan kerja yang memadai bagi sekitar 3,5 juta angkatan kerja baru setiap tahunnya. Dalam konteks ini, sektor informal berfungsi sebagai penyangga yang mencegah ledakan pengangguran terbuka.

Peneliti senior dari sebuah lembaga kajian ekonomi independen menegaskan bahwa gig economy memberikan ruang transisi yang penting. "Masalahnya bukan pada eksistensinya, melainkan pada ketiadaan regulasi yang melindungi pekerja," ujarnya, seraya menambahkan bahwa negara perlu hadir dalam bentuk skema portabilitas jaminan sosial yang dapat mengikuti pekerja lintas platform.

Namun kubu kedua justru mengkhawatirkan efek jangka panjang berupa de-skilling atau penurunan keterampilan. Gen Z yang terlalu lama berkutat di pekerjaan informal cenderung kehilangan kesempatan mengembangkan kompetensi teknis dan non-teknis yang biasanya diperoleh melalui lingkungan kerja profesional. Pola kerja yang terfragmentasi—berpindah dari satu gig ke gig lainnya—tidak membangun akumulasi keahlian yang dibutuhkan untuk bersaing di pasar tenaga kerja global.

Konsekuensi Makroekonomi yang Mengintai

Dari perspektif makroekonomi, membesarnya sektor informal memiliki implikasi serius terhadap basis perpajakan dan keberlanjutan dana pensiun. Pekerja informal umumnya berada di luar sistem perpajakan formal karena pendapatan mereka sulit dilacak. Dalam jangka panjang, hal ini menggerus kapasitas fiskal negara untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan layanan publik. Capital outflow tidak langsung juga menjadi ancaman karena minimnya tabungan domestik yang berasal dari kelompok pekerja muda.

Rasio tabungan nasional juga berpotensi mengalami tekanan. Survei terbaru menunjukkan bahwa hanya 28 persen pekerja Gen Z di sektor informal yang memiliki dana darurat lebih dari tiga bulan pengeluaran. Tanpa kepastian pendapatan, mereka terjebak dalam pola konsumsi subsisten yang membuat akumulasi aset hampir mustahil dilakukan. Indeks inklusi keuangan memang menunjukkan perbaikan, tetapi literasi keuangan dan kemampuan menabung masih menjadi persoalan struktural yang belum terselesaikan.

Proyeksi demografi menunjukkan bahwa Indonesia akan mencapai puncak bonus demografi pada tahun 2030-an. Jika mayoritas penduduk usia produktif hanya mampu mengakses pekerjaan informal dengan produktivitas rendah, maka potensi lonjakan pertumbuhan ekonomi dari dividen demografi akan menguap begitu saja. Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia berisiko stagnan di level menengah dalam jangka waktu yang lebih lama dari proyeksi sebelumnya. Valuasi sumber daya manusia yang seharusnya menjadi mesin pertumbuhan justru mengalami depresiasi akibat minimnya investasi pengembangan keterampilan.

Mencari Jalan Tengah yang Berkelanjutan

Solusi yang ditawarkan para pemangku kepentingan mencakup beberapa dimensi sekaligus. Pertama, insentif fiskal bagi perusahaan yang menciptakan lapangan kerja formal bagi lulusan baru perlu ditingkatkan secara signifikan. Kedua, program magang bersertifikasi dengan komponen jaminan sosial harus diperluas cakupannya ke lebih banyak sektor industri. Ketiga, literasi karier perlu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan menengah dan tinggi agar Gen Z memiliki pemahaman yang lebih utuh tentang implikasi jangka panjang dari pilihan pekerjaan mereka.

Pada akhirnya, gig economy bukanlah musuh yang harus diberantas, melainkan realitas baru yang perlu dikelola dengan kebijakan yang lebih adaptif dan inklusif. Tanpa intervensi yang terarah, Indonesia berisiko membesarkan generasi pekerja yang kehilangan daya saing di tengah persaingan global yang semakin ketat. Pilihan ada di tangan pembuat kebijakan: bertindak sekarang dengan regulasi yang melindungi sekaligus memberdayakan, atau menuai konsekuensi sosial-ekonomi yang mahal dalam satu hingga dua dekade mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User