Aug 26, 2026
Bisnis

Pengusaha Ingatkan Stabilitas Ekonomi Jadi Syarat Pertumbuhan Berkelanjutan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal II 2025, perekonomian Indonesia tercatat tumbuh 5,12 persen year-on-year, sedikit mengalami kenaikan dibandingkan capaian kuartal pertama yang ...

Pengusaha Ingatkan Stabilitas Ekonomi Jadi Syarat Pertumbuhan Berkelanjutan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal II 2025, perekonomian Indonesia tercatat tumbuh 5,12 persen year-on-year, sedikit mengalami kenaikan dibandingkan capaian kuartal pertama yang berada di kisaran 5,11 persen. Sementara itu, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) tahun 2026 berada pada level 5,3 persen. Namun di balik deretan angka yang tampak sehat tersebut, kalangan dunia usaha menegaskan satu prasyarat fundamental: stabilitas ekonomi dan ruang demokrasi yang sehat harus terus dijaga agar aktivitas masyarakat dan bisnis berjalan tanpa hambatan berarti.

Pesan itu disampaikan para pengusaha dalam sejumlah forum industri belakangan ini. Intinya sederhana, tetapi bobotnya besar. Pertumbuhan lima persenan tidak akan mudah dipertahankan apabila iklim usaha terganggu oleh ketidakpastian regulasi, gejolak sosial, maupun tekanan eksternal yang datang dari pasar keuangan global.

Stabilitas Makro sebagai Fondasi Iklim Usaha

Bagi pelaku usaha, stabilitas makroekonomi bukan sekadar jargon, melainkan variabel yang langsung menyentuh laporan keuangan perusahaan. Laju inflasi yang ditekan pada kisaran 2,5 persen plus-minus 1 persen membuat daya beli masyarakat relatif terjaga, sementara nilai tukar rupiah yang stabil membantu pengusaha menghitung biaya impor bahan baku dengan lebih akurat dan memprediksi margin secara konsisten.

Bank Indonesia sendiri telah menurunkan suku bunga acuan atau BI-Rate hingga ke level 5,00 persen sepanjang 2025, sebuah langkah untuk merangsang likuiditas perbankan dan menekan biaya pinjaman. Bagi korporasi, penurunan ini berarti beban bunga kredit investasi menjadi lebih ringan. Di sisi lain, ruang penurunan suku bunga selalu dibatasi oleh risiko capital outflow, yakni kondisi ketika dana asing menarik diri dari pasar domestik demi imbal hasil yang lebih menarik di negara lain. Fenomena semacam ini kerap menekan nilai tukar rupiah sekaligus menggerus valuasi aset finansial, mulai dari saham hingga surat utang negara.

Sensitivitas pasar terhadap sentimen juga terlihat pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mengalami kenaikan kuat menuju level 7.500-an pada pertengahan 2025, namun rentan berkoreksi setiap kali muncul kabar buruk, baik dari dalam maupun luar negeri.

Ruang Demokrasi dan Prediktabilitas Regulasi

Narasi kedua yang diangkat pengusaha menyangkut ruang demokrasi. Bagi investor, baik domestik maupun asing, ruang demokrasi yang sehat identik dengan prediktabilitas. Kebijakan publik yang lahir melalui proses deliberatif cenderung lebih awet dan tidak berbalik arah secara mendadak, sehingga rencana bisnis jangka panjang, misalnya pembangunan pabrik dengan horizon investasi sepuluh tahun, dapat disusun dengan kalkulasi risiko yang masuk akal.

'Iklim investasi yang sehat lahir dari kombinasi stabilitas makro, kepastian hukum, dan dinamika demokrasi yang terkelola. Salah satunya goyah, sentimen pasar akan cepat bereaksi,' ujar seorang pengamat ekonomi dalam forum industri, baru-baru ini.

Data realisasi investasi memberikan konteks tambahan. Sepanjang 2024, total realisasi investasi mencapai sekitar Rp1.700 triliun, dengan kontribusi penanaman modal asing melebihi separuhnya. Angka tersebut hanya dapat dicapai karena persepsi risiko Indonesia relatif rendah dibandingkan emerging market lainnya. Persepsi inilah yang bersifat rapuh dan dapat berubah cepat akibat gejolak politik maupun sosial.

Dua Sisi Mata Uang: Optimisme versus Risiko

Di satu sisi, fundamental domestik masih layak diacungi jempol. Konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh PDB bertahan di kisaran 5 persen, inflasi terkendali, dan neraca transaksi berjalan relatif aman pada posisi defisit di bawah 1 persen dari PDB. Hilirisasi mineral, booming industri digital, serta tren digitalisasi usaha mikro turut memperkaya portofolio investasi nasional.

Di sisi lain, risiko tidak bisa diabaikan begitu saja. Perlambatan ekonomi global menekan permintaan ekspor, harga komoditas berfluktuasi tajam, dan arus dana portofolio asing sangat sensitif terhadap perbedaan suku bunga antarnegara. Ketidakpastian politik domestik, ditambah kebijakan fiskal yang cenderung ekspansif, berpotensi menambah tekanan pada defisit anggaran serta rasio utang pemerintah terhadap PDB yang saat ini berada di kisaran 40 persen.

Proyeksi 2026: Pertumbuhan Berkualitas Menuntut Ketenangan

Proyeksi pertumbuhan 5,3 persen untuk 2026 menuntut lebih dari sekadar momentum sesaat. Dunia usaha menilai pemerintah perlu menjaga konsistensi koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, mempercepat reformasi struktural, serta memastikan dialog antara negara, industri, dan masyarakat berlangsung terbuka. Tanpa fondasi tersebut, target lima persenan berisiko menjadi capaian nominal tanpa kualitas penciptaan lapangan kerja yang memadai.

Pada akhirnya, pesan kalangan pengusaha dapat dirangkum dalam satu kalimat: ekonomi yang tumbuh kokoh hanya mungkin lahir dari lingkungan yang tenang, pasti, dan terbuka. Stabilitas bukanlah pilihan, melainkan prasyarat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User