Aug 26, 2026
Bisnis

Pembakaran Lahan Tebu Jelang Panen Picu Karhutla dan Kerugian Ekonomi Sumsel

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Sumatera Selatan tumbuh 5,05 persen pada 2023 secara year-on-year, ditopang sektor manufaktur serta pertanian yang menyumbang porsi signifika...

Pembakaran Lahan Tebu Jelang Panen Picu Karhutla dan Kerugian Ekonomi Sumsel

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Sumatera Selatan tumbuh 5,05 persen pada 2023 secara year-on-year, ditopang sektor manufaktur serta pertanian yang menyumbang porsi signifikan terhadap produk domestik regional bruto. Namun, fundamental ekonomi daerah ini kini diuji oleh musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali marak pada musim kemarau ini. Temuan lapangan mengungkap bahwa pembakaran lahan tebu jelang masa panen menjadi salah satu pencetus utama kejadian tersebut, sebuah praktik yang tampak murah di tingkat petani, tetapi mahal secara agregat bagi perekonomian provinsi.

Akar Masalah: Praktik Pembakaran Sebelum Panen

Petani tebu di sejumlah wilayah Sumsel lama mengenal teknik membakar lahan beberapa hari sebelum panen. Tujuannya pragmatis: daun kering yang menempel pada batang tebu akan terbakar sendiri sehingga proses pemanenan lebih cepat, biaya tenaga kerja menurun, serta beban angkut menjadi lebih ringan karena daun telah hilang. Dalam perhitungan petani, efisiensi semacam ini bisa memangkas biaya panen hingga 20 hingga 30 persen.

Masalahnya, api yang dinyalakan dalam kondisi cuaca ekstrem, yakni curah hujan rendah, indeks kekeringan tinggi, dan angin kencang, mudah menjalar ke pekarangan tetangga, semak belukar, hingga kawasan rawa dan gambut. Kondisi atmosfer yang kering memperparah situasi, membuat titik api berkembang pesat hanya dalam hitungan jam sebelum akhirnya sulit dikendalikan.

Dua Perspektif: Efisiensi Petani versus Biaya Sosial

Di satu sisi, pembakaran lahan tebu merupakan pilihan rasional dari sudut pandang mikro. Petani kecil dengan likuiditas terbatas umumnya tidak memiliki akses ke mesin pemanen modern maupun alat pemotong daun. Membakar adalah cara termurah untuk menyelesaikan panen tepat waktu, apalagi harga tebu di tingkat petani relatif stagnan selama beberapa tahun terakhir sehingga margin usaha mereka sangat tipis.

Di sisi lain, biaya sosial yang ditimbulkan jauh melampaui penghematan tersebut. Kabut asap menurunkan kualitas udara, meningkatkan angka infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), mengganggu aktivitas transportasi, serta menekan sentimen pasar terhadap sektor pariwisata dan iklim investasi daerah. Pengalaman episode karhutla besar tahun 2015 dan 2019 menunjukkan kerugian nasional dapat mencapai puluhan triliun rupiah, belum termasuk dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat dan degradasi kesuburan tanah.

Kalkulasi Kerugian bagi Rantai Nilai Gula

Sumsel merupakan salah satu sentra produksi gula nasional dengan areal tebu yang luas. Ketika kebakaran menghanguskan lahan menjelang panen, petani kehilangan hasil yang sudah menunggu 10 hingga 12 bulan, setara satu siklus tanam penuh. Secara kasar, satu hektare tebu siap potong bernilai Rp80 hingga Rp100 juta. Apabila ratusan hektare terdampak, nilai produksi yang lenyap bisa menembus puluhan miliar rupiah dalam satu musim saja.

Efek domino juga dirasakan pabrik gula yang bergantung pada pasokan tebu segar. Penurunan bahan baku memaksa kapasitas olah mengalami penurunan, rasio konversi tebu menjadi kristal gula memburuk, dan pendapatan pabrik tertekan. Bagi pelaku pasar modal, tren seperti ini berpotensi mereduksi valuasi emiten agroindustri terkait sekaligus menambah risiko portofolio yang terekspos komoditas gula.

"Setiap rupiah yang dihemat petani dari praktik membakar lahan berpotensi berbalik menjadi kerugian berlipat bagi perekonomian daerah, mulai dari biaya pemadaman, beban kesehatan, hingga hilangnya output pertanian," ungkap seorang ekonom pertanian yang dimintai tanggapannya terkait fenomena ini.

Jalan Keluar: Insentif, Teknologi, dan Penegakan Hukum

Para pengamat menilai pendekatan represif semata tidak akan cukup menyelesaikan persoalan berulang ini. Diperlukan kombinasi kebijakan: subsidi atau fasilitasi alat panen tanpa bakar, insentif harga bagi tebu bersertifikat ramah lingkungan, serta penegakan hukum yang konsisten terhadap pembakaran liar. Sejumlah negara produsen gula telah menerapkan skema premi hijau yang membayar petani lebih tinggi apabila tebu dipanen tanpa dibakar, model yang layak direplikasi dengan penyesuaian kondisi lokal.

Secara proyeksi jangka menengah, jika praktik pembakaran berhasil ditekan, Sumsel berpotensi mengalami kenaikan produktivitas sekaligus memperbaiki citra sebagai destinasi investasi agroindustri. Sebaliknya, bila tren karhutla terus berulang setiap musim kemarau, capital outflow dari sektor pertanian dan hilirisasi gula bukanlah hal mustahil. Keberlanjutan fundamental ekonomi Sumsel, dengan demikian, sangat bergantung pada kemampuan pemerintah daerah dan pelaku industri mengubah perilaku panen yang telah berakar puluhan tahun itu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User