Oct 10, 2026
Bisnis

Pembiayaan Hijau Jadi Kunci Tekan Potensi Kerugian Rp544 Triliun

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional per akhir 2024, potensi kerugian ekonomi akibat perubahan iklim jika dibiarkan tanpa int...

Pembiayaan Hijau Jadi Kunci Tekan Potensi Kerugian Rp544 Triliun

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional per akhir 2024, potensi kerugian ekonomi akibat perubahan iklim jika dibiarkan tanpa intervensi pendanaan yang memadai mencapai Rp544 triliun. Angka ini mencerminkan akumulasi risiko pada sektor pertanian, kelautan, infrastruktur pesisir, hingga kesehatan masyarakat. Dalam konteks makro, nilai tersebut setara dengan sekitar 2,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, sebuah rasio yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh otoritas fiskal maupun moneter.

Menghadapi tekanan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menawarkan lima mesin pertumbuhan hijau sebagai kerangka pembiayaan iklim. Pendekatan ini menempatkan transisi energi, ekonomi sirkular, pertanian berkelanjutan, transportasi rendah karbon, dan sektor jasa lingkungan sebagai motor penggerak. Pertanyaannya, apakah kerangka ini cukup fundamental untuk mengubah tren pembiayaan nasional, atau hanya menjadi sentimen pasar jangka pendek?

Lima Mesin Pertumbuhan dan Peta Jalan Pembiayaan

Lima mesin pertumbuhan hijau yang ditawarkan mencakup pengembangan energi terbarukan, industri pengolahan berbasis daur ulang, pertanian presisi rendah emisi, elektrifikasi transportasi publik, serta perdagangan karbon dan jasa ekosistem. Setiap mesin memiliki kebutuhan pendanaan yang berbeda. Berdasarkan proyeksi internal pemerintah, kebutuhan investasi transisi energi saja diperkirakan menembus USD 1,3 triliun hingga 2050, atau sekitar Rp20.000 triliun dengan asumsi kurs Rp15.500 per dolar Amerika Serikat.

Di satu sisi, pemerintah menegaskan bahwa pembiayaan iklim bukan sekadar biaya, melainkan investasi yang menciptakan lapangan kerja baru. Setiap Rp1 triliun yang dialokasikan ke proyek energi terbarukan diproyeksikan menyerap sekitar 8.000 hingga 12.000 tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Angka ini menjadi argumen kuat bahwa kebijakan hijau memiliki efek berganda terhadap konsumsi rumah tangga dan penerimaan pajak daerah.

Di sisi lain, kalangan dunia usaha mengingatkan bahwa struktur pendanaan saat ini masih didominasi oleh instrumen konvensional. Porsi kredit bank untuk sektor hijau baru mencapai sekitar 12 persen dari total kredit perbankan nasional per September 2024. Likuiditas yang tersedia belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan jangka panjang, terutama karena tenor proyek hijau umumnya berkisar 15 hingga 25 tahun, sementara sumber dana perbankan didominasi deposito jangka pendek.

"Pembiayaan iklim memerlukan kolaborasi lintas sektor. Tanpa kemitraan antara pemerintah, swasta, dan lembaga multilateral, target penurunan emisi akan sulit dicapai," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dalam sebuah forum ekonomi baru-baru ini.

Pro: Peluang Pertumbuhan Baru dan Valuasi Aset Hijau

Dari perspektif pro, kerangka lima mesin pertumbuhan hijau membuka ruang valuasi baru bagi instrumen keuangan berkelanjutan. Obligasi hijau (green bonds) yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi mengalami kenaikan minat investor institusi. Hingga November 2024, nilai outstanding obligasi hijau domestik tercatat sekitar Rp63 triliun, naik 18 persen year-on-year dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, taksonomi keuangan berkelanjutan Indonesia yang diluncurkan pada 2022 memberikan panduan klasifikasi sektor hijau. Kehadiran kerangka ini menurunkan risiko greenwashing dan meningkatkan kepercayaan investor asing. Capital inflow ke instrumen hijau berpotensi menstabilkan nilai tukar rupiah, terutama saat sentimen pasar global sedang volatil akibat ketidakpastian suku bunga Federal Reserve.

Pertumbuhan ekonomi hijau juga menciptakan portofolio aset baru bagi dana pensiun dan asuransi yang membutuhkan instrumen berpendapatan tetap dengan risiko terkendali. Dalam jangka panjang, diversifikasi ini memperkuat fundamental pasar keuangan domestik dan mengurangi ketergantungan pada sektor komoditas ekstraktif yang rentan siklus harga global.

Kontra: Risiko Fiskal dan Keterbatasan Kapasitas Serap

Namun, perspektif kontra tidak bisa diabaikan. Pertama, kapasitas serap anggaran hijau masih rendah. Realisasi belanja iklim dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 hanya mencapai sekitar 85 persen dari pagu yang ditetapkan. Keterlambatan perencanaan, perizinan lahan, dan kesiapan proyek menjadi penyebab utama.

Kedua, risiko fiskal jangka panjang meningkat jika pembiayaan dilakukan melalui utang. Rasio utang terhadap PDB saat ini berada di kisaran 39 persen, masih dalam batas aman menurut Undang-Undang Keuangan Negara. Namun, penambahan utang untuk proyek hijau memerlukan disiplin alokasi yang ketat agar tidak menekan ruang fiskal untuk belanja sosial dan pendidikan.

Ketiga, ketergantungan pada teknologi impor membuat biaya awal transisi energi tetap tinggi. Komponen panel surya, turbin angin, dan baterai masih banyak didatangkan dari luar negeri. Ini menciptakan defisit neraca perdagangan jangka pendek sekaligus mengekspos nilai tukar terhadap gejolak eksternal. Tanpa pengembangan industri manufaktur dalam negeri, multiplier effect pembiayaan hijau berpotensi bocor ke ekonomi negara lain.

Proyeksi dan Indeks Pembiayaan Hijau ke Depan

Berdasarkan proyeksi Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia per triwulan IV 2024, kebutuhan pembiayaan hijau nasional hingga 2030 diperkirakan mencapai Rp1.500 triliun hingga Rp1.800 triliun. Kesenjangan pendanaan (financing gap) terhadap kemampuan perbankan dan pasar modal diperkirakan masih sekitar 40 persen. Artinya, tanpa instrumen campuran seperti blended finance, dana filantropi, dan jaminan pemerintah, target transisi energi akan tersendat.

Indeks keuangan berkelanjutan yang dilacak bursa domestik menunjukkan tren positif, dengan kenaikan sekitar 9 persen year-on-year per November 2024. Meski demikian, likuiditas instrumen hijau masih tipis dibanding obligasi korporasi konvensional. Hal ini menandakan bahwa sentimen pasar masih menunggu kepastian regulasi dan insentif fiskal yang lebih konkret.

Ke depan, kunci keberhasilan terletak pada konsistensi kebijakan dan transparansi pengukuran dampak. Pembiayaan iklim bukan ajang hype, melainkan kerja panjang yang menuntut disiplin data, tata kelola, dan kemitraan lintas sektor. Tanpa itu, target pertumbuhan hijau hanya akan menjadi proyeksi di atas kertas. Namun jika dikelola dengan fundamental yang kuat, lima mesin pertumbuhan hijau berpotensi menjadi fondasi ekonomi baru yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User