Pemberdayaan BRI Bawa Tenun Troso KAINRATU Menembus Pasar Global
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia serta menye...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia serta menyerap hampir 97 persen tenaga kerja nasional. Di tengah fundamental tersebut, kabar menembusnya produk tenun ikat Troso asal Jepara, Jawa Tengah, ke pasar global melalui merek KAINRATU menjadi sinyal positif bagi tren pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Program pembinaan yang dijalankan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, meliputi pelatihan, pendampingan, dan pembukaan akses pasar, disebut menjadi katalis di balik ekspansi usaha tersebut.
Portofolio UMKM BRI dan Strategi Pemberdayaan
Dari sisi korporasi, langkah BRI sejalan dengan komposisi portofolio kreditnya yang memang berorientasi pada segmen mikro dan kecil. Hingga kuartal I 2024, penyaluran kredit UMKM perseroan tercatat menembus Rp 1.100 triliun atau setara sekitar 83 persen dari total kredit yang disalurkan. Rasio tersebut menjadikan BRI sebagai bank dengan porsi pembiayaan UMKM terbesar di industri perbankan nasional. Likuiditas yang kuat, dengan rasio loan to deposit ratio (LDR) di kisaran 85–88 persen, memberi ruang bagi perseroan untuk terus menggelontorkan pembiayaan sekaligus program pendampingan non-kredit seperti pelatihan desain, standardisasi mutu, dan kurasi produk.
Bagi KAINRATU, dukungan tersebut mencakup pelatihan teknik produksi tenun ikat, penataan manajemen usaha, hingga fasilitasi pameran dagang bertaraf internasional. Hasilnya, produk tenun Troso, kain tradisional yang ditenun dengan teknik ikat khas Jepara, kini mulai dilirik pembeli dari sejumlah negara. Dari sisi valuasi usaha, akses pasar ekspor berpotensi mengangkat margin karena harga jual produk kerajinan di pasar global umumnya 30–50 persen lebih tinggi dibandingkan pasar domestik.
Di Satu Sisi: Peluang Ekspor Produk Kerajinan
Di satu sisi, prospek pasar global untuk produk tekstil bernilai budaya masih terbuka. Data Kementerian Perindustrian mencatat ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia berada di kisaran USD 11–12 miliar pada 2023, meski mengalami penurunan sekitar 14 persen secara year-on-year akibat perlambatan permintaan global. Produk kerajinan tangan seperti tenun ikat justru memiliki ceruk pasar tersendiri karena masuk kategori barang bernilai tambah tinggi dengan permintaan yang relatif stabil. Tren konsumsi berkelanjutan atau sustainable fashion di Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang turut menjadi angin segar, sebab konsumen di pasar tersebut bersedia membayar premi untuk produk etis dan ramah lingkungan.
Produk warisan budaya yang dikurasi dengan baik dan didukung akses pembiayaan perbankan memiliki daya saing struktural. Kuncinya ada pada konsistensi kualitas, kapasitas produksi, dan kemampuan memenuhi standar pasar tujuan, ujar seorang pengamat ekonomi kreatif dari Universitas Indonesia.
Sentimen pasar terhadap produk kriya Indonesia juga ditopang oleh kurs rupiah yang bergerak di kisaran Rp 15.800–16.300 per dolar AS sepanjang 2024. Pelemahan nilai tukar, dalam konteks ini, membuat harga produk ekspor Indonesia lebih kompetitif dibandingkan pesaing dari India dan Vietnam.
Di Sisi Lain: Tantangan Struktural yang Tak Bisa Diabaikan
Di sisi lain, sejumlah risiko tetap membayangi. Pertama, kapasitas produksi tenun ikat yang bergantung pada keterampilan perajin membuat skala usaha sulit dinaikkan secara cepat, mengingat satu lembar kain tenun Troso berkualitas membutuhkan waktu pengerjaan berhari-hari hingga berminggu-minggu. Kedua, biaya logistik dan sertifikasi ekspor masih menjadi beban bagi UMKM, dengan ongkos kirim kontainer dari Indonesia ke Eropa yang sempat mengalami kenaikan tajam pasca-pandemi. Ketiga, dari sisi makro, potensi capital outflow dan ketidakpastian arah suku bunga global dapat menekan daya beli di negara tujuan ekspor.
Indeks kepercayaan konsumen di sejumlah ekonomi utama juga belum sepenuhnya pulih, sehingga proyeksi permintaan produk non-esensial seperti kriya premium masih dibayangi ketidakpastian. Selain itu, ketergantungan pada satu lembaga pembina menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan usaha apabila program berakhir. Kemandirian akses pasar dan diversifikasi kanal penjualan digital menjadi prasyarat agar fundamental usaha tetap kokoh dalam jangka panjang.
Proyeksi: Hilirisasi Kriya sebagai Motor Ekonomi Daerah
Ke depan, keberhasilan KAINRATU dapat menjadi replika bagi sentra tenun lain di Nusantara. Apabila model pemberdayaan serupa diterapkan pada 100 sentra kerajinan dengan rata-rata kenaikan ekspor 20 persen per tahun, kontribusi sektor kriya terhadap devisa berpotensi mengalami kenaikan signifikan dalam lima tahun. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 berada di kisaran 4,7–5,5 persen, dan sektor UMKM berorientasi ekspor dipandang sebagai salah satu penopangnya.
Namun, analisis yang berimbang menuntut kehati-hatian: keberhasilan satu merek tidak otomatis mencerminkan kesiapan seluruh ekosistem. Dibutuhkan koordinasi antara perbankan, pemerintah daerah, dan pelaku usaha agar tren positif ini tidak berhenti sebagai cerita tunggal, melainkan berkembang menjadi lompatan struktural bagi ekonomi kreatif nasional.
Comments (0)