Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal II 2026, ekonomi Indonesia masih tumbuh di kisaran 5 persen year-on-year, sejalan dengan posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak di sekitar level 7.800 serta nilai tukar rupiah yang bertahan di kisaran Rp16.500 per dolar AS. Di tengah fundamental makro yang relatif terjaga itu, gelombang aksi massa yang digelar di sejumlah kota pada 27 Agustus 2026, termasuk di depan gedung DPR, menjadi sorotan baru kalangan bisnis. Pelaku usaha kemudian menyampaikan pesan yang cukup seragam: stabilitas keamanan serta situasi sosial-politik harus dijaga agar aktivitas ekonomi tidak terganggu.
Pesan Pelaku Usaha: Dialog Dibanding Konfrontasi
Salah satu suara yang menonjol datang dari Ade Jona Prasetyo. Pelaku usaha itu menekankan bahwa komunikasi dan dialog merupakan instrumen paling efektif untuk menjaga keadaan tetap kondusif. Dalam pandangannya, setiap persoalan, betapapun kompleksnya, seharusnya dapat diselesaikan melalui jalur perundingan antara pemerintah, wakil rakyat, dan masyarakat, tanpa harus mengorbankan aktivitas produksi, distribusi, dan perdagangan yang menjadi sumber pencarian hidup jutaan orang.
Argumen tersebut memiliki pijakan empiris. Pengalaman sejumlah aksi besar sebelumnya memperlihatkan pola yang hampir selalu berulang: pusat perbelanjaan dan perkantoran memilih tutup lebih awal, rantai pasok logistik terhambat, serta omzet usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi aksi mengalami penurunan tajam hingga 30-50 persen pada hari kejadian. Bagi sektor dengan margin tipis, gangguan satu hari saja mampu menggerus arus kas operasional selama sepekan.
Di Satu Sisi: Sentimen Pasar dan Potensi Capital Outflow
Dari kacamata pasar keuangan, kekhawatiran kalangan usaha bukan sekadar retorika. Sentimen pasar, yakni perasaan kolektif investor terhadap prospek suatu negara, dikenal sangat reaktif terhadap ketidakpastian. Beberapa sesi perdagangan terakhir mencatatkan tren aksi jual investor asing di bursa domestik dengan nilai net sell yang dilaporkan menembus Rp1 triliun lebih, sementara imbal hasil obligasi negara tenor 10 tahun mengalami kenaikan ke kisaran 6,7 persen. Kenaikan yield semacam ini mencerminkan tuntutan imbal hasil yang lebih tinggi ketika persepsi risiko sedang meningkat.
Bila ketidakpastian berlarut, skenario capital outflow, yaitu perpindahan dana portofolio asing keluar dari pasar domestik, dapat memperbesar tekanan pada rupiah sekaligus menggerus likuiditas pasar. Likuiditas sendiri secara sederhana berarti kemudahan membeli atau menjual aset tanpa mengganggu harganya. Kabar baiknya, valuasi saham Indonesia saat ini masih dinilai menarik dibanding bursa regional dengan rasio harga terhadap laba di kisaran 13 kali, sehingga indeks berpotensi pulih cepat begitu sentimen membaik.
Di Sisi Lain: Aspirasi Sosial sebagai Masukan Kebijakan
Namun, membaca situasi hanya dari sisi pasar tentu tidak lengkap. Di sisi lain, sejumlah ekonom menilai aksi massa merupakan saluran aspirasi yang sah dalam sistem demokrasi dan justru dapat menjadi koreksi bagi kebijakan yang dirasa tidak menyentuh akar persoalan. Keluhan mengenai daya beli masyarakat yang tertekan serta lapangan kerja formal yang terbatas tidak bisa diabaikan begitu saja, sebab konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto. Bila daya beli terus melemah, proyeksi pertumbuhan 5,1-5,3 persen untuk tahun berjalan akan sulit tercapai, terlepas dari kondusifnya situasi keamanan.
Dengan kata lain, stabilitas yang diminta pengusaha tidak semestinya dimaknai sebagai membungkam kritik, melainkan sebagai situasi ketika dialog berjalan dua arah. Pemerintah dan DPR dituntut hadir mendengarkan, sementara penyampaian aspirasi diharapkan tetap damai agar tidak melahirkan kerugian ekonomi baru.
Proyeksi: Fundamental Kuat, Kejelasan Kebijakan Jadi Kunci
Secara fundamental, posisi tawar ekonomi nasional dinilai masih memadai. Cadangan devisa tercatat di kisaran USD155 miliar, cukup untuk membiayai impor lebih dari enam bulan, sementara rasio kredit bermasalah perbankan yang bertahan di bawah 3 persen menandakan sektor keuangan tetap sehat. Inflasi yang terjaga di kisaran 2 persen juga memberi ruang bagi otoritas moneter menjaga aras suku bunga yang mendukung iklim usaha, ditopang dana pihak ketiga perbankan yang terus mengalami kenaikan.
Ke depan, arah tren akan sangat bergantung pada dua hal: kemampuan otoritas menjaga kepastian kebijakan serta keberhasilan menjembatani aspirasi masyarakat melalui dialog. Bila keduanya terpenuhi, sentimen pasar berpeluang membaik pada kuartal III-IV 2026 dan proyeksi pertumbuhan di kisaran 5 persen tetap relevan. Sebaliknya, bila ketegangan berkepanjangan, biaya ekonominya tidak hanya dirasakan pengusaha, melainkan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Pesan kalangan usaha pada akhirnya sederhana: kebebasan berekspresi dan kepentingan ekonomi tidak harus saling mengalahkan, karena keduanya dapat berjalan beriringan melalui komunikasi yang terbuka.
Comments (0)