Berdasarkan data Dinas PPKUKM Provinsi DKI Jakarta per triwulan IV 2024, tercatat sebanyak 1.284 pasar tradisional beroperasi di wilayah Jakarta. Dari jumlah tersebut, mayoritas bangunan pasar memerlukan renovasi menyeluruh akibat usia pemakaian yang rata-rata telah mencapai dua dekade. Kondisi ini mendorong Perumda Pasar Jaya untuk menggencarkan program revitalisasi, salah satunya targeting Pasar Sunter Podomoro di Jakarta Utara.
Rencana Revitalisasi dan Cakupan Pekerjaan
Perumda Pasar Jaya mengumumkan rencana revitalisasi Pasar Sunter Podomoro dalam waktu dekat. Langkah ini diambil setelah evaluasi menyeluruh terhadap kondisi fisik bangunan yang menunjukkan sejumlah aspek memerlukan pembaruan mendasar.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, cakupan pekerjaan revitalisasi mencakup tiga area utama. Pertama, perkuatan struktur bangunan untuk memastikan keamanan dan ketahanan gedung terhadap kondisi lingkungan di kawasan Sunter yang memiliki elevasi tanah relatif rendah. Kedua, pembaruan sistem mekanikal dan elektrikal yang meliputi instalasi kelistrikan, sistem ventilasi, serta infrastruktur sanitasi. Ketiga, penataan kios dan los dagangan yang mencakup penataan zonasi agar distribusi dagangan lebih terorganisir dan aksesibilitas pembeli meningkat.
Program ini merupakan bagian dari roadmap Perumda Pasar Jaya periode 2023-2027 yang menargetkan minimal 15 pasar tradisional direvitalisasi setiap tahun. Hingga akhir 2024, tercatat telah tujuh pasar tuntas direvitalisasi, termasuk Pasar Grogol dan Pasar Kramat Jati yang telah rampung pada semester pertama.
Pro: Keamanan, Kenyamanan, dan Nilai Ekonomi
Di satu sisi, revitalisasi Pasar Sunter Podomoro membawa sejumlah manfaat substantif bagi berbagai pihak. Dari aspek keselamatan, perkuatan struktur bangunan menjadi urgensi mengingat usia rata-rata bangunan pasar tradisional di Jakarta yang telah melampaui 20 tahun. Evaluasi teknis menunjukkan beberapa titik struktur mengalami degradasi yang jika tidak ditangani berpotensi menimbulkan risiko keamanan bagi ribuan pedagang dan pembeli yang beraktivitas setiap hari.
Dari perspektif kenyamanan belanja, pembaruan sistem mekanikal-elektrikal diharapkan meningkatkan pengalaman konsumen. Sistem pencahayaan yang lebih baik, sirkulasi udara yang lancar, serta instalasi kelistrikan yang terstandarisasi mampu menarik segmen konsumen kelas menengah yang selama ini cenderung memilih mal atau swalayan modern.
Secara fundamental ekonomi, penataan zonasi kios dan los berpotensi meningkatkan omzet pedagang. Studi kasus dari revitalisasi Pasar Tanah Abang pada 2022 menunjukkan peningkatan traffic pembeli hingga 18 persen pasca-penataan zonasi. Pedagang yang sebelumnya terdesak di area kurang strategis mendapat alokasi lokasi yang lebih prime, sehingga distribusi pendapatan antarpedagang menjadi lebih merata.
Kontra: Potensi Gangguan Aktivitas dan Biaya Transisi
Di sisi lain, terdapat kekhawatiran dari kalangan pedagang terkait dampak langsung terhadap aktivitas jual beli selama masa konstruksi. Pasar Sunter Podomoro melayani kebutuhan sehari-hari bagi sekitar 35.000 warga di kawasan Sunter, Kelapa Gading, dan Tanjung Priok. Penutupan total atau sebagian area pasar selama masa revitalisasi berpotensi memaksa konsumen beralih ke pasar informal atau retail modern yang lokasinya tidak sedekat Pasar Sunter.
Asosiasi Pedagang Pasar Sunter Podomoro menyampaikan aspirasi mengenai biaya transisi yang akan ditanggung pedagang. Selama masa relokasi sementara, pedagang memerlukan modal tambahan untuk transportasi ke lokasi darurat, penyesuaian stok barang, serta potensi kehilangan pelanggan tetap yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Tanpa skema kompensasi atau relokasi yang terencana baik, revitalisasi yang seharusnya meningkatkan kesejahteraan justru berpotensi menjadi beban ekonomi sementara bagi pedagang kecil.
Selain itu, terdapat pertanyaan mengenai komitmen pendanaan dan timeline yang realistis. Mengacu pada pengalaman revitalisasi pasar serupa di Jakarta, beberapa proyek mengalami penundaan akibat keterbatasan anggaran daerah. Jika proses revitalisasi molor, ketidakpastian ini dapat menggerus kepercayaan pedagang dan menghambat aktivitas ekonomi pasar dalam jangka panjang.
Proyeksi dan Skema Relokasi
Menanggapi kekhawatiran tersebut, manajemen Perumda Pasar Jaya menyatakan sedang menyusun skema relokasi sementara yang memungkinkan pedagang tetap beroperasi selama masa konstruksi. Opsi yang tengah dievaluasi meliputi penyediaan lapak darurat di kawasan sekitar pasar serta koordinasi dengan manajemen mal atau pasar modern terdekat untuk mekanisme simbiosis.
Secara makroekonomi, revitalisasi pasar tradisional merupakan bagian dari strategi pemerintah provinsi dalam menjaga likuiditas ekonomi lokal dan mempertahankan kontribusi sektor informal terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta. Data BPS mencatat sektor perdagangan eceran tradisional menyumbang sekitar 6,2 persen terhadap PDRB DKI Jakarta per triwulan III 2024.
Keberhasilan revitalisasi Pasar Sunter Podomoro akan menjadi barometer penting bagi program serupa di 1.200 lebih pasar tradisional lainnya di Jakarta. Diperlukan koordinasi solid antara manajemen Perumda Pasar Jaya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan pedagang dalam memastikan proses revitalisasi berjalan efisien, minim gangguan, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh pemangku kepentingan.
Comments (0)