Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per triwulan IV 2024, tingkat pengangguran terbuka di kelompok usia 15-24 tahun atau generasi Z masih tercatat sebesar 16,84 persen, tertinggi di antara kelompok usia lainnya. Fenomena urbanisasi yang terus berlangsung menjadi salah satu faktor utama mengapa potensi ekonomi pedesaan belum tergarap secara optimal. Menyadari kondisi tersebut, Bank BJB hadir dengan program strategis yang mengajak generasi muda untuk kembali ke desa dan mengelola potensi lokal secara berkelanjutan.
Memutus Mata Rantai Urbanisasi
Di satu sisi, urbanisasi menawarkan peluang kerja dan akses pendidikan yang lebih beragam di kota-kota besar. Namun, di sisi lain, arus urbanisasi yang tidak terkendali justru menggerus tenaga kerja produktif di sektor pertanian dan ekonomi kreatif pedesaan. Bank BJB memandang bahwa ketimpangan ini perlu dijawab dengan mengembalikan minat generasi Z terhadap potensi ekonomi desa.
Program yang digagaskan mencakup pemberian akses permodalan dengan suku bunga terjangkau bagi generasi muda yang ingin memulai usaha di bidang pertanian, perikanan, hingga ekonomi digital pedesaan. Bank BJB juga menyediakan pendampingan manajemen usaha dan pelatihan literasi keuangan agar para pelaku usaha muda dapat mengelola portofolio bisnis mereka secara profesional.
Dua Perspektif: Peluang dan Tantangan
Pro: Pendekatan Bank BJB ini memiliki fundamentasi yang kuat. Pertama, potensi pertanian Indonesia menyumbang sekitar 12,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional berdasarkan data BPS 2024. Kedua, desa-desa di Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang belum dioptimalkan sepenuhnya. Dengan melibatkan generasi Z yang memiliki kemampuan teknologi digital, potensi tersebut dapat diolah menjadi nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Kontra: Di sisi lain, terdapat tantangan struktural yang tidak bisa diabaikan. Infrastruktur di pedesaan masih tertinggal dibandingkan wilayah perkotaan. Akses internet yang belum merata menjadi hambatan bagi generasi Z yang terbiasa dengan ekonomi digital. Selain itu, stigma masyarakat bahwa bekerja di desa identik dengan pekerjaan kelas rendah masih sulit dihilangkan dalam waktu singkat.
Sinergi untuk Ekonomi Berkelanjutan
Bank BJB menyadari bahwa keberhasilan program ini memerlukan sinergi antara perbankan, pemerintah daerah, dan masyarakat. Oleh karena itu, kolaborasi dengan perangkat desa dan kelompok usaha bersama menjadi bagian integral dari strategi implementasi. Pendampingan tidak hanya bersifat teknis keuangan, tetapi juga mencakup pengembangan kapasitas sumber daya manusia di tingkat desa.
Dalam jangka panjang, program ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi pedesaan yang lebih kuat dan berdaya saing. Generasi Z yang kembali ke desa tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga agen perubahan yang mampu menginisiasi inovasi dan transformsai ekonomi lokal. Hal ini pada akhirnya akan berkontribusi pada pemerataan pembangunan ekonomi dan pengurangan kesenjangan antara perkotaan dan pedesaan.
Fundamental ekonomi pedesaan yang kuat akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih inklusif. Dengan pendekatan yang terencana dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, mimpi untuk melihat generasi muda kembali membangun desa bukan lagi sesuatu yang mustahil. Indikator keberhasilan program ini akan dapat diukur dari penurunan tingkat pengangguran terbuka di kelompok usia muda dan peningkatan indeks kesejahteraan masyarakat pedesaan dalam beberapa tahun ke depan.
Comments (0)