Sep 01, 2026
Bisnis

BI dan MAS Resmi Jalankan Sistem Pembayaran Lintas Negara Berbasis Mata Uang Lokal

Berdasarkan data Bank Indonesia dan Monetary Authority of Singapore (MAS) yang dirilis pertengahan tahun ini, kerja sama Local Currency Transaction (LCT) antara kedua negara telah resmi memasuki tahap...

BI dan MAS Resmi Jalankan Sistem Pembayaran Lintas Negara Berbasis Mata Uang Lokal

Berdasarkan data Bank Indonesia dan Monetary Authority of Singapore (MAS) yang dirilis pertengahan tahun ini, kerja sama Local Currency Transaction (LCT) antara kedua negara telah resmi memasuki tahap implementasi operasional. Kesepakatan bilateral ini memungkinkan transaksi perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Singapura dilakukan langsung menggunakan rupiah dan dollar Singapura, tanpa harus terlebih dahulu mengonversi ke mata uang dollar Amerika Serikat.

Latar Belakang Kerja Sama Bilateral

Kerja sama LCT antara Bank Indonesia dan MAS pertama kali disepakati pada 2021 sebagai bagian dari upaya memperkuat integrasi keuangan regional ASEAN. Pada tahap awal, skema ini dirancang untuk memfasilitasi kebutuhan transaksi bisnis antara pelaku usaha di kedua negara yang selama ini masih bergantung pada mata uang cadangan global sebagai perantara.

Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa Singapura merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia di kawasan ASEAN dengan total perdagangan bilateral mencapai 34,7 miliar dolar AS year-on-year pada periode Januari hingga Oktober 2024. Nilai tersebut menjadikan Singapura sebagai investor asing terbesar kedua bagi Indonesia setelah Amerika Serikat dengan aliran modal asing langsung yang tercatat sebesar 16,2 miliar dolar AS sepanjang tahun 2023.

Mekanisme dan Manfaat Sistem Pembayaran Baru

Dalam skema LCT yang baru diimplementasikan, bank-bank komersial di kedua negara получили akses langsung ke platform pembayaran lintas batas yang dikelola bersama. Mekanisme ini memungkinkan perusahaan importer dan exporter di Indonesia serta Singapura untuk menyelesaikan transaksi dalam mata uang lokal masing-masing secara real-time atau paling lambat dalam hitungan jam kerja.

Di satu sisi, pendekatan ini menawarkan efisiensi biaya transaksi yang signifikan bagi pelaku usaha. Menurut perhitungan Bank Indonesia, penggunaan LCT dapat memangkas biaya konversi mata uang hingga 60 sampai 70 basis poin dibandingkan mekanisme konvensional yang melibatkan dollar AS sebagai mata uang pengantar. Bagi perusahaan yang melakukan puluhan hingga ratusan transaksi lintas batas setiap bulan, penghematan ini dapat mencapai miliaran rupiah secara agregat.

Di sisi lain, terdapat tantangan implementasi yang perlu diperhatikan. Sistem pembayaran baru ini mensyaratkan bank-bank di kedua negara untuk menyesuaikan infrastruktur teknologi informasi dan memenuhi standar kepatuhan anti pencucian uang yang berlaku di masing-masing yurisdiksi. Proses adaptasi ini berpotensi menimbulkan biaya operasional tambahan di tahap awal, setidaknya selama enam hingga dua belas bulan pertama.

Implikasi bagi Stabilitas Moneter dan Pasar Valuta Asing

Dari perspektif stabilitas moneter, kerja sama LCT diharapkan dapat mengurangi volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang selama ini menjadi perhatian utama Bank Indonesia. Dengan berkurangnya kebutuhan konversi melalui dollar AS untuk transaksi bilateral, tekanan permintaan terhadap greenback di pasar domestik berpotensi menurun, sehingga memberikan ruang lebih bagi otoritas moneter dalam mengelola likuiditas domestik.

Proyeksi ini didukung oleh data neraca pembayaran Indonesia yang menunjukkan bahwa sekitar 23 persen dari total transaksi berjalan Indonesia melibatkan pasangan mata uang non-standar. Pengurangan ketergantungan pada dollar AS untuk segmen transaksi tersebut dapat memperkuat posisi tawar rupiah dalam jangka menengah.

Kontra dari analisis ini adalah potensi munculnya risiko baru terkait likuiditas pasangan mata uang rupiah dan dollar Singapura. Pasar valuta asing domestik untuk pasangan SGD-IDR historically memiliki kedalaman pasar yang terbatas dibandingkan pasangan major currencies. Jika volume transaksi LCT meningkat secara substansial, spread bid-ask yang lebih lebar berpotensi反而 meningkatkan biaya transaksi bagi pelaku pasar kecil dan menengah.

Prospek dan Tantangan ke Depan

Melihat tren integrasi keuangan regional ASEAN, implementasi LCT Indonesia-Singapura dapat menjadi model referensi bagi kerja sama serupa dengan negara-negara lain di kawasan. Thailand, Malaysia, dan Filipina telah mengeksplorasi mekanisme serupa dalam kerangka ASEAN Payment Connectivity, dan keberhasilan implementasi bilateral ini dapat mempercepat tercapainya sistem pembayaran regional yang lebih terintegrasi.

Namun, keberhasilan jangka panjang skema LCT sangat bergantung pada tingkat adopsi oleh sektor swasta. Otoritas moneter di kedua negara perlu memastikan bahwa insentif ekonomi dari penggunaan LCT cukup menarik bagi pelaku bisnis untuk beralih dari mekanisme konvensional. Edukasi pasar dan penyediaan infrastruktur pendukung yang user-friendly menjadi kunci untuk mencapai target adopsi yang ditetapkan.

Secara keseluruhan, implementasi LCT antara Bank Indonesia dan MAS mencerminkan tren de-dolarisasi bertahap di kawasan Asia Tenggara. Meskipun demikian, dollar AS kemungkinan besar tetap akan mendominasi transaksi global dalam waktu yang cukup lama. Skema ini lebih tepat dipandang sebagai pelengkap diversifikasi mekanisme pembayaran, bukan pengganti sepenuhnya terhadap sistem yang sudah mapan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User