Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal III 2026, sektor pariwisata mencatat kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 4,2 persen, mengalami kenaikan year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya di angka 3,8 persen. Angka ini menjadi sinyal positif bahwa industri perjalanan mulai kembali menemukan momentumnya setelah melewati fase konsolidasi pasca-pandemi. Dorongan terbaru datang dari gelaran pameran perjalanan berskala nasional di Jakarta yang dihadiri ratusan pelaku usaha, mulai dari maskapai, agen perjalanan, hingga penyedia akomodasi.
Kegiatan semacam ini dinilai bukan sekadar ajang promosi, melainkan instrumen untuk memacu konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi. Sebab, belanja wisata masuk dalam kategori konsumsi discretionary, yaitu pengeluaran yang bersifat opsional namun memiliki multiplier effect cukup besar terhadap sektor jasa, transportasi, dan usaha mikro di daerah tujuan wisata.
Pro: Stimulus Konsumsi dan Efek Berganda
Di satu sisi, penyelenggaraan pameran perjalanan menjelang akhir tahun efektif menjadi katalis. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai 735 juta perjalanan, naik sekitar 8,5 persen secara year-on-year. Angka ini mendekati proyeksi tahunan sebesar 1,05 miliar perjalanan. Tren tersebut diperkuat oleh momen libur akhir tahun yang secara historis menyumbang sekitar 20 persen dari total perjalanan wisata tahunan.
“Sektor pariwisata memiliki elastisitas permintaan yang tinggi terhadap sentimen masyarakat. Ketika ada gelaran yang mendorong ekspektasi dan kemudahan akses, konsumsi biasanya ikut bergerak,” ujar seorang ekonom pariwisata dalam sebuah diskusi terbatas di Jakarta pekan ini.
Dari sisi pelaku usaha, pameran ini juga menjadi ruang negosiasi harga dan paket perjalanan. Maskapai dan hotel biasanya menawarkan tarif promosi dengan potongan berkisar 15 hingga 30 persen untuk pemesanan dini. Ini memberi insentif nyata bagi konsumen untuk mengunci pengeluaran lebih awal, sekaligus membantu pelaku usaha memperbaiki proyeksi arus kas dan tingkat okupansi di kuartal IV.
Kontra: Daya Beli dan Risiko Sentimen Pasar
Di sisi lain, terdapat sejumlah catatan yang patut dicermati. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia per September 2026 berada di level 124,5, masih di zona optimistis, namun pertumbuhannya melambat dibanding bulan sebelumnya. Kelompok pengeluaran menengah ke bawah cenderung lebih selektif dalam belanja non-esensial. Artinya, dorongan konsumsi dari sektor wisata berpotensi terpusat pada segmen menengah atas, sehingga efek bergandanya tidak merata.
Faktor eksternal juga menjadi variabel penting. Nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp16.200 per dolar AS, ditambah potensi capital outflow akibat ketidakpastian kebijakan moneter global, dapat menekan daya beli untuk wisata ke luar negeri. Meski demikian, kondisi ini justru bisa menjadi berkah bagi pariwisata domestik jika dikelola dengan baik, karena wisatawan cenderung mengalihkan rencana perjalanan ke destinasi dalam negeri.
Selain itu, likuiditas pelaku usaha kecil di daerah tujuan wisata masih menjadi pekerjaan rumah. Rasio kredit usaha mikro terhadap total kredit perbankan baru mencapai sekitar 19 persen. Tanpa dukungan pembiayaan, pelaku usaha lokal sulit menangkap lonjakan permintaan akhir tahun secara optimal.
Proyeksi dan Fundamental Sektor
Ke depan, proyeksi pertumbuhan sektor pariwisata tahun 2027 berkisar 6 hingga 7 persen, dengan catatan stabilitas makroekonomi terjaga dan infrastruktur konektivitas terus diperbaiki. Valuasi sektor ini pun relatif menarik, tercermin dari indeks saham sektor pariwisata yang diperdagangkan pada kisaran 14 kali price-to-earnings ratio, sedikit di bawah rata-rata lima tahun terakhirnya.
Kesimpulannya, gelaran pameran perjalanan memang bukan obat tunggal, melainkan bagian dari strategi yang lebih luas untuk menjaga tren konsumsi. Fundamental sektor ini masih solid, namun sentimen pasar dan daya beli rumah tangga tetap menjadi penentu utama. Pemerintah dan pelaku usaha perlu memastikan bahwa momentum akhir tahun tidak hanya dinikmati segmen tertentu, tetapi juga menjangkau pelaku usaha kecil di daerah.
Comments (0)