Oct 08, 2026
Bisnis

UMKM Fesyen Makassar Angkat Aksara Lontara ke Pasar Modern

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional, dengan serapan tenaga kerja menc...

UMKM Fesyen Makassar Angkat Aksara Lontara ke Pasar Modern

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional, dengan serapan tenaga kerja mencapai 97 persen dari total angkatan kerja. Di tengah dominasi angka makro tersebut, cerita-cerita mikro seperti yang datang dari Makassar menjadi penting untuk dibedah: bagaimana sebuah usaha fesyen berbasis warisan budaya mampu bertahan, bertumbuh, dan menembus pasar yang lebih luas.

Salah satu contoh yang menarik dicermati adalah Ripuji Lontaratta, sebuah jenama fesyen asal Sulawesi Selatan yang memadukan desain kontemporer dengan kekayaan aksara Lontara. Pendirinya, As'ad Fadli, membangun usaha ini bukan sekadar untuk mengejar margin, melainkan untuk menjaga keberlangsungan salah satu warisan literasi Nusantara yang semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di Satu Sisi: Budaya sebagai Nilai Tambah Ekonomi

Dari perspektif ekonomi kreatif, langkah Ripuji Lontaratta mencerminkan apa yang dalam literatur ekonomi disebut sebagai cultural value added atau nilai tambah budaya. Produk tekstil biasa mungkin dihargai berdasarkan biaya bahan dan tenaga kerja. Namun ketika sebuah motif atau aksara memiliki makna kultural, produk tersebut dapat memperoleh premium harga yang cukup signifikan. Data Badan Ekonomi Kreatif (kini Kemenparekraf) menunjukkan subsektor kriya dan fesyen menyumbang kontribusi ekspor sekitar USD 6 miliar pada 2022, dengan tren year-on-year yang terus naik.

As'ad Fadli sendiri menyatakan bahwa aksara Lontara bukan hanya ornamen, melainkan identitas. "Kami ingin generasi muda mengenal aksara ini bukan dari buku pelajaran, tapi dari pakaian yang mereka pakai setiap hari," ujarnya dalam sebuah kesempatan wawancara.

Pendekatan ini sejalan dengan teori experience goods dalam ekonomi, di mana konsumen membeli bukan hanya fungsi produk, tetapi juga cerita dan nilai yang melekat padanya. Sentimen pasar terhadap produk lokal yang autentik memang sedang menguat, terutama di kalangan milenial dan Gen Z. Survei internal sebuah lembaga riset pasar pada 2023 mencatat sekitar 68 persen konsumen muda Indonesia bersedia membayar lebih untuk produk yang memiliki nilai budaya lokal.

Di Sisi Lain: Tantangan Skala dan Likuiditas

Namun, gambaran optimistis ini perlu diimbangi dengan realitas yang lebih keras. UMKM fesyen berbasis budaya menghadapi persoalan klasik: keterbatasan akses pembiayaan, kapasitas produksi yang belum efisien, serta ketergantungan pada pasar niche. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan nasional per September 2023 berada di kisaran 19 persen, belum mencapai target pemerintah sebesar 30 persen.

Selain itu, produk dengan muatan budaya sering kali menghadapi tantangan dalam hal perlindungan kekayaan intelektual. Tanpa sertifikasi dan perlindungan merek yang kuat, motif dan desain berisiko ditiru oleh pemain besar tanpa kompensasi kepada pengrajin asli. Hal ini dapat menekan valuasi jenama dalam jangka panjang dan memicu persaingan tidak sehat.

Dari sisi likuiditas, UMKM seperti Ripuji juga rentan terhadap fluktuasi harga bahan baku dan biaya logistik antarpulau. Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis, tetapi distribusi ke Jawa masih menelan biaya tambahan yang tidak kecil. Dalam konteks capital outflow global, volatilitas nilai tukar turut memengaruhi harga bahan impor seperti pewarna tekstil dan mesin jahit.

Peran Intermediasi dan Proyeksi ke Depan

Di sinilah peran lembaga intermediasi seperti perbankan menjadi krusial. Sejumlah bank BUMN telah mengembangkan program pembinaan UMKM yang menyasar sektor kreatif, termasuk pendampingan ekspor dan digitalisasi. Jika pola ini diperluas, proyeksi pertumbuhan UMKM fesyen berbasis budaya bisa mencapai 7-9 persen per tahun dalam lima tahun ke depan, dengan catatan stabilitas makro tetap terjaga.

Namun, ada juga pandangan pesimistis: tanpa ekosistem yang mendukung, jenama seperti Ripuji berpotensi stagnan sebagai usaha kecil yang kuat secara narasi tetapi lemah secara skala. Fundamental bisnis tetap harus dibangun, bukan hanya mengandalkan sentimen pasar sesaat.

Pada akhirnya, kisah Ripuji Lontaratta bukan hanya tentang fesyen. Ia adalah cermin bagaimana ekonomi dan budaya dapat berjalan beriringan -- asalkan ada ekosistem pembiayaan, perlindungan hukum, dan pasar yang sehat. Tanpa itu, pelestarian aksara Lontara bisa berhenti sebagai proyek mulia tanpa keberlanjutan ekonomi. Dengan itu, ia dapat menjadi model bagi ribuan UMKM lain di seluruh nusantara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User