Oct 10, 2026
Bisnis

Harga Ayam Anjlok, Peternak Tertekan di Tengah Biaya Produksi

Berdasarkan data Kementerian Pertanian per akhir pekan ini, harga ayam ras Pedaging di tingkat peternak mengalami penurunan tajam hingga menyentuh kisaran Rp 12.000–14.000 per kilogram, jauh di bawa...

Harga Ayam Anjlok, Peternak Tertekan di Tengah Biaya Produksi

Berdasarkan data Kementerian Pertanian per akhir pekan ini, harga ayam ras Pedaging di tingkat peternak mengalami penurunan tajam hingga menyentuh kisaran Rp 12.000–14.000 per kilogram, jauh di bawah harga pokok produksi yang berada di level Rp 16.000–18.000 per kilogram. Kondisi ini memicu gelombang keluhan dari kalangan peternak yang mengaku merugi karena selisih harga jual dan biaya operasional kian melebar dalam beberapa pekan terakhir.

Kementerian Pertanian sendiri membuka suara merespons tekanan yang dialami para peternak. Pemerintah menegaskan tengah menelusuri akar persoalan di sepanjang rantai pasok, mulai dari ketersediaan bibit, harga pakan, hingga pola distribusi yang selama ini menjadi penentu pembentukan harga di tingkat konsumen.

Ilustrasi peternakan ayam potong

Tekanan di Sisi Hulu: Pakan dan Kelebihan Pasokan

Di satu sisi, sejumlah pengamat menilai penurunan harga ayam merupakan konsekuensi dari over supply atau kelebihan pasokan yang terjadi di pasar. Produksi yang melonjak tanpa diimbangi serapan pasar membuat harga tertekan. Komponen biaya pakan yang menyumbang sekitar 70 persen dari total struktur biaya produksi juga ikut memperberat posisi peternak, terutama ketika harga jagung dan bungkil kedelai di pasar global berfluktuasi mengikuti sentimen pasar komoditas.

Selain itu, distribusi yang tidak merata antarwilayah menciptakan disparitas harga. Di sejumlah sentra produksi seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah, pasokan melimpah sementara di daerah konsumen justru terjadi kelangkaan yang membuat harga tetap tinggi. Fenomena ini mencerminkan belum optimalnya integrasi logistik dan sistem informasi harga di tingkat nasional.

"Harga di kandang tidak mencerminkan nilai keekonomian usaha peternak. Yang perlu dibenahi adalah tata niaga dan transparansi rantai pasok," ujar seorang ekonom pertanian di sebuah forum diskusi baru-baru ini.

Pro dan Kontra di Tengah Dinamika Pasar

Pro: Bagi konsumen, harga ayam yang lebih rendah memberikan kelegaan, terutama di tengah inflasi pangan yang masih menjadi perhatian. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kelompok pengeluaran makanan masih menyumbang andil signifikan terhadap inflasi umum. Harga protein hewani yang terjangkau dapat membantu menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah serta menekan year-on-year inflasi pangan.

Kontra: Dalam jangka panjang, tekanan berkepanjangan berpotensi menekan fundamental industri peternakan rakyat. Jika peternak berhenti beroperasi karena tidak sanggup menanggung rugi, pasokan di masa depan bisa menciut dan justru memicu lonjakan harga baru. Ini merupakan pola siklus yang berulang dalam sektor peternakan nasional, di mana fase harga tinggi disusul fase kelebihan pasokan tanpa sistem buffer yang memadai.

Respons Kebijakan dan Proyeksi ke Depan

Pemerintah disebut tengah menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari penataan kuota impor bibit, stabilisasi harga pakan, hingga dorongan penyerapan hasil peternak melalui kerja sama dengan industri pengolahan dan lembaga pengadaan. Namun, efektivitas kebijakan ini bergantung pada kecepatan eksekusi dan koordinasi antara pusat dan daerah.

Dari sisi likuiditas dan pembiayaan, pelaku usaha peternakan skala kecil menghadapi kendala akses modal yang mahal. Rasio utang terhadap pendapatan yang memburuk membuat valuasi usaha diperkirakan turun dalam jangka pendek. Proyeksi sejumlah analis menyebut harga ayam berpotensi mulai stabil pada kuartal berikutnya apabila terjadi penyesuaian pasokan dan penguatan permintaan musiman.

Kesimpulannya, penurunan harga ayam merupakan cermin ketidakseimbangan antara produksi, konsumsi, dan distribusi. Di satu sisi menguntungkan konsumen, di sisi lain menekan keberlanjutan usaha peternak. Tanpa perbaikan struktural yang mencakup penguatan data pasokan, pembenahan tata niaga, serta perlindungan margin peternak, gejolak harga akan terus berulang setiap siklus produksi.

Pemerintah dan pelaku industri perlu membangun sistem peringatan dini harga serta memperkuat kelembagaan peternak agar posisi tawar mereka meningkat di sepanjang rantai nilai. Dengan demikian, stabilitas harga dan keberlanjutan usaha peternakan dapat tercapai secara simultan, tidak hanya bersifat reaktif terhadap gejolak pasar sesaat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User