Pala Bogor Naik Kelas Berkat Sentuhan Perempuan dan AURA BRI
Di sebuah sudut hijau Kabupaten Bogor, sekelompok perempuan tani membuktikan bahwa rempah lokal bisa menjelma menjadi sumber ekonomi bernilai tinggi. Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Tani Mysari Pala t...
Di sebuah sudut hijau Kabupaten Bogor, sekelompok perempuan tani membuktikan bahwa rempah lokal bisa menjelma menjadi sumber ekonomi bernilai tinggi. Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Tani Mysari Pala tidak lagi sekadar memanen dan menjual pala mentah. Kini, tangan-tangan terampil mereka menyulir daging buah, biji, dan fuli pala menjadi aneka produk olahan—mulai dari sirup, selai, manisan, hingga minyak atsiri. Transformasi ini bukan cerita instan. Di baliknya ada dukungan terstruktur dari program AURA BRI Peduli yang menyasar penguatan kapasitas usaha perempuan di wilayah pedesaan.
Menggali Potensi Pala dari Tangan Perempuan
Tanaman pala (Myristica fragrans) telah lama menjadi bagian dari bentang alam Bogor, terutama di kawasan dengan ketinggian 300–700 mdpl. Namun, selama bertahun-tahun, hasil panen petani sering kali diperdagangkan dalam bentuk gelondongan kering dengan harga yang sangat fluktuatif. Di sinilah peran KWT Bina Tani Mysari Pala menjadi krusial. Kelompok yang beranggotakan lebih dari 25 perempuan ini melihat bahwa nilai tambah terbesar pala bukan pada bijinya semata, melainkan pada diversifikasi olahan yang bisa dihasilkan.
Ketua kelompok mengisahkan awal perjalanan mereka, saat anggota hanya mengandalkan pengetahuan turun-temurun. “Kami tahu pala bisa dijadikan manisan, tetapi prosesnya sederhana dan belum memenuhi standar pasar modern,” ujarnya. Minimnya akses terhadap teknologi pengolahan yang higienis, kemasan yang tidak menarik, serta keterbatasan jaringan pemasaran membuat produk mereka hanya berputar di lingkup pasar tradisional dan oleh-oleh lokal. Padahal, permintaan produk olahan pala, terutama dari sektor kuliner dan kesehatan herbal, terus meningkat.
Jalan Terjal Menuju Produk Bernilai Tambah
Mengubah pala menjadi produk bernilai tambah bukan tanpa tantangan. Pertama, ada soal konsistensi kualitas. Buah pala segar mudah rusak, sehingga butuh penanganan pasca-panen yang cepat. Tanpa mesin pengering yang memadai, anggota kelompok sering kehilangan hingga 15–20 persen bahan baku akibat pembusukan. Kedua, kemampuan produksi yang terbatas dan belum adanya standar izin edar—seperti sertifikasi PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dan label halal—menjadi tembok tebal yang menghalangi produk masuk ke ritel modern.
Di sisi pemasaran, keterampilan digital para anggota masih sangat dasar. “Kami pernah mencoba memasarkan lewat media sosial, tetapi hanya satu-dua pesanan yang masuk. Foto produk tidak profesional, cerita di balik produk pun tidak tersampaikan,” kenang salah satu anggota kelompok yang kini bertanggung jawab di bidang penjualan. Akibatnya, omzet bulanan kelompok sering kali hanya mencapai Rp3–5 juta—jauh dari potensi sesungguhnya.
Hadirnya Program AURA BRI Peduli
Kondisi itu mulai berubah ketika program AURA (Akselerasi Usaha Rakyat) BRI Peduli hadir menyasar kelompok-kelompok usaha wanita di Bogor. Program ini dirancang bukan sekadar sebagai penyaluran bantuan, melainkan pendampingan terintegrasi yang berfokus pada tiga pilar: peningkatan kapasitas produksi, penguatan manajemen usaha, dan perluasan akses pasar. KWT Bina Tani Mysari Pala menjadi salah satu penerima manfaat yang mendapatkan intervensi menyeluruh.
Di tahap awal, BRI Peduli memfasilitasi pelatihan Good Manufacturing Practices (GMP) dan higiene pangan. Para anggota diajari cara mengolah pala mulai dari sortasi, pencucian dengan air mengalir, perendaman larutan sanitasi alami, hingga pengemasan vakum. Seperangkat alat produksi pun digulirkan: mesin pengering kabinet berkapasitas 50 kg per siklus, alat destilasi sederhana untuk minyak atsiri, serta sealer dan printer label kemasan. “Mesin pengering benar-benar mengubah efisiensi kami. Sekarang penyusutan bahan baku turun drastis di bawah 5 persen,” ucap anggota bagian produksi.
Lebih jauh, pendampingan berlanjut pada proses legalitas. Melalui kerja sama dengan dinas terkait, kelompok ini kini telah mengantongi sertifikat PIRT dan sedang dalam proses akhir mendapatkan sertifikat halal untuk tiga varian produk utamanya. Legalitas ini menjadi kunci yang membuka pintu ke toko oleh-oleh modern, koperasi karyawan, hingga kemungkinan ekspor.
Dampak Nyata: Pendapatan dan Pemberdayaan
Intervensi program AURA menunjukkan hasil yang terukur. Berdasarkan pencatatan internal kelompok, kapasitas pengolahan melonjak dari semula 40 kg pala segar per bulan menjadi 180 kg per bulan dalam waktu enam bulan setelah pendampingan. Produk yang semula hanya manisan basah kini bertambah menjadi sirup pala (kemasan 250 ml), selai pala rendah gula, minyak fuli, dan sabun herbal berbasis minyak pala. Keragaman ini memperlebar segmen konsumen, dari wisatawan lokal hingga pecinta produk alami di kota besar.
Dari sisi omzet, laporan per triwulan terakhir mencatat angka penjualan rutin mencapai Rp14–18 juta per bulan atau naik lebih dari tiga kali lipat dibandingkan sebelum program. Peningkatan ini langsung berdampak pada pendapatan per anggota yang sekarang rata-rata menerima pembagian hasil Rp600–800 ribu per bulan—bukan angka yang besar, tetapi signifikan bagi keluarga pedesaan yang sebelumnya mengandalkan penghasilan suami dari bertani atau buruh harian.
Direktur Utama salah satu bank BUMN dalam kesempatan terpisah mengungkapkan filosofi di balik program ini. “Pemberdayaan perempuan adalah investasi sosial dengan efek pengganda paling tinggi. Ketika seorang ibu memiliki penghasilan, ia cenderung mengalokasikan untuk gizi anak, pendidikan, dan tabungan darurat. Itulah yang kami dorong melalui AURA,” tegasnya. Pendapat ini sejalan dengan sejumlah riset yang menyebutkan bahwa setiap kenaikan pendapatan perempuan di sektor UMKM desa berkontribusi pada penurunan angka stunting dan peningkatan partisipasi sekolah anak.
Melangkah ke Pasar yang Lebih Luas
Tahap berikutnya yang kini dijalankan KWT Bina Tani Mysari Pala adalah penetrasi pasar digital. Melalui pelatihan lanjutan yang juga difasilitasi BRI Peduli, kelompok mulai merambah platform e-commerce dan marketplace sosial. Katalog produk digital dengan foto profesional dan narasi cerita lokal kini melengkapi akun Instagram dan Shopee mereka. “Kami belajar teknik foto flat lay, menulis copy yang menggoda, dan membalas ulasan pelanggan dengan cepat. Tantangan memang masih ada, terutama soal logistik pengiriman ke luar pulau, tetapi kemajuannya terasa,” kata pengelola pemasaran digital kelompok.
Dukungan akses permodalan juga dibuka. Dengan rekam jejak usaha yang tercatat baik, anggota kelompok kini bisa mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan skema khusus kelompok, tanpa agunan tambahan. Ini memberikan fleksibilitas saat panen raya bahan baku—ketika harga pala segar turun—mereka justru bisa menyerap lebih banyak bahan dan mengolahnya menjadi stok produk jadi.
Ke depan, kelompok ini tengah merancang kemitraan dengan sektor perhotelan dan restoran di kawasan Puncak serta Jakarta Selatan untuk penyediaan sirup pala sebagai minuman khas. Jika terealisasi, volume produksi diperkirakan kembali meningkat 30 persen dan membuka peluang perekrutan anggota baru dari kalangan perempuan muda desa.
Cerita dari Bogor ini hanyalah satu dari sekian ribu mozaik pemberdayaan yang kini bergerak di Indonesia. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa ketika kapasitas ditingkatkan, akses dibukakan, dan pendampingan diberikan secara tepat, kelompok usaha perempuan bisa menjadi penggerak ekonomi lokal yang tangguh. Pala yang tadinya hanya rempah biasa, kini benar-benar naik kelas—bukan semata karena harga, melainkan karena daya tawar dan martabat para perempuan yang mengolahnya.
Comments (0)