Mundurnya Gubernur BI Guncang Pasar, IHSG dan Rupiah Tergelincir

Guncangan di Bursa Saham: IHSG Anjlok 1,8 Persen Pasar saham domestik dibuka dengan tekanan hebat pada Senin pagi, seiring tersebarnya kabar pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia yang mengejutkan....

Jul 28, 2026 - 02:43
0 0
Mundurnya Gubernur BI Guncang Pasar, IHSG dan Rupiah Tergelincir

Guncangan di Bursa Saham: IHSG Anjlok 1,8 Persen

Pasar saham domestik dibuka dengan tekanan hebat pada Senin pagi, seiring tersebarnya kabar pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia yang mengejutkan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung anjlok ke level 6.850, turun 1,8 persen dari penutupan akhir pekan lalu. Ini merupakan penurunan harian terbesar dalam lebih dari tiga pekan. Seluruh indeks sektoral kompak melemah, dipimpin oleh saham-saham perbankan dan properti yang masing-masing terpangkas 2,1 persen dan 1,9 persen.

Volume perdagangan tercatat lebih rendah dari biasanya, dengan nilai transaksi hanya mencapai Rp9,2 triliun, jauh di bawah rata-rata harian bulan ini yang sebesar Rp12,5 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa banyak investor memilih untuk wait and see, mengurangi aktivitas beli hingga ada kejelasan arah kebijakan. Investor asing menjadi pihak yang paling agresif melepas kepemilikan, mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,4 triliun, melanjutkan tren arus modal keluar yang sudah terjadi sejak dua hari sebelumnya.

Analis teknikal menyebut level support IHSG berikutnya berada di 6.720. Jika tidak bertahan, maka indeks berpotensi menuju 6.500 yang merupakan level psikologis penting bagi kepercayaan investor ritel. “Ketidakpastian politik di bank sentral seringkali memicu risk-off yang lebih dalam dibandingkan ketidakpastian fiskal karena dampaknya langsung terasa di sektor keuangan,” ujar seorang analis pasar modal.

Rupiah Terdepresiasi Mendekati Rp15.700 per Dolar AS

Di pasar valuta asing, rupiah mengalami tekanan yang tak kalah tajam. Mata uang Garuda diperdagangkan melemah 0,7 persen ke level Rp15.680 per dolar AS, bergerak mendekati ambang psikologis Rp15.700 yang menjadi level krusial bagi sentimen jangka pendek. Kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) yang dirilis pagi ini juga mengalami kenaikan, menandakan permintaan valas yang lebih tinggi dibandingkan pasokan.

Beberapa faktor eksternal ikut memperburuk situasi, seperti ekspektasi kenaikan suku bunga Fed yang masih tinggi serta kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Namun, sentimen domestik terkait kekosongan pucuk pimpinan BI menjadi pemicu utama pelemahan hari ini. Pelaku pasar mengantisipasi potensi tertundanya keputusan suku bunga acuan yang akan diambil dalam RDG mendatang, sehingga mereka cenderung melakukan lindung nilai (hedging) melalui pembelian dolar AS. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun pun ikut naik ke level 6,82 persen, naik 8 basis poin, mencerminkan meningkatnya persepsi risiko.

Dua Sisi Mata Uang: Peluang dan Risiko Jangka Pendek

Di tengah kepanikan, beberapa kalangan justru melihat peluang. “Jika pemerintah mampu menunjuk figur pengganti yang independen dan profesional dalam waktu dekat, pasar akan cepat pulih. Ini hanya persoalan sentimen sesaat,” kata seorang ekonom senior. Di sisi lain, kalangan pesimistis mengkhawatirkan bahwa proses suksesi di DPR bisa berlarut-larut dan dipolitisasi, sehingga menciptakan ketidakpastian kebijakan moneter yang berkepanjangan.

Sejarah mencatat, ketika terjadi transisi kepemimpinan BI pada tahun 2013, IHSG sempat tertekan namun mampu rebound setelah pengganti definitif diumumkan. Namun, kondisi saat ini berbeda karena tekanan eksternal jauh lebih kuat. Dengan inflasi global yang masih tinggi dan perang suku bunga antar bank sentral, ketiadaan figur sentral di BI dapat membuat Indonesia rentan terhadap gejolak aliran modal asing.

Respons Pemerintah dan Skenario Stabilisasi

Kementerian Keuangan bersama OJK segera menggelar rapat koordinasi untuk meredam gejolak. Sumber resmi menyebutkan bahwa Presiden akan segera mengirimkan nama calon Gubernur BI ke DPR untuk menjalani fit and proper test. Deputi Gubernur Senior BI kini menjalankan tugas operasional, namun wewenangnya terbatas untuk keputusan strategis seperti perubahan suku bunga acuan.

Bank Indonesia sendiri diyakini akan menggencarkan triple intervention, yaitu intervensi di pasar spot, pembelian SBN di pasar sekunder, dan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Intervensi ini bertujuan menahan volatilitas rupiah yang berlebihan. Cadangan devisa Indonesia yang masih berada di level USD 138 miliar per akhir bulan lalu dianggap cukup untuk membendung spekulasi.

“Kami optimis stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. Pasar perlu memahami bahwa BI adalah institusi yang kuat, bukan hanya satu orang,” ujar seorang pejabat BI yang enggan disebutkan namanya. Namun, ia mengakui bahwa kejelasan kepemimpinan sangat diperlukan untuk memberikan sinyal positif kepada investor, terutama asing yang sangat sensitif terhadap risiko governance.

Ke depan, mata pelaku pasar akan tertuju pada pengumuman calon Gubernur BI. Nama-nama seperti deputi gubernur saat ini, mantan menteri keuangan, atau ekonom senior kandidat independen mulai disebut-sebut. Masing-masing figur memiliki implikasi kebijakan yang berbeda, sehingga pasar akan mencermati rekam jejaknya dalam menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar. Hingga pengganti definitif terpilih, volatilitas menjadi keniscayaan yang harus dikelola dengan hati-hati oleh seluruh pemangku kepentingan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User