Sep 25, 2026
Bisnis

Moeldoko Pimpin Ulang PERIKLINDO, Menanti Kebijakan EV 2026-2031

Berdasarkan hasil musyawarah nasional organisasi industri kendaraan listrik, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko kembali terpilih secara aklamasi untuk memimpin PERIKLINDO periode 2026-2031. Keputusan ini di...

Moeldoko Pimpin Ulang PERIKLINDO, Menanti Kebijakan EV 2026-2031

Berdasarkan hasil musyawarah nasional organisasi industri kendaraan listrik, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko kembali terpilih secara aklamasi untuk memimpin PERIKLINDO periode 2026-2031. Keputusan ini diambil di tengah momentum percepatan transisi energi nasional, ketika pemerintah menargetkan jutaan unit kendaraan bermotor listrik berbasis baterai mengaspal di jalan raya pada tahun-tahun mendatang. Konsolidasi kepemimpinan tersebut tentu tidak bisa dilepaskan dari konteks makro: pertumbuhan ekonomi yang bergerak di kisaran 5 persen year-on-year, daya beli rumah tangga yang belum sepenuhnya pulih, serta iklim investasi yang terus diuji oleh gejolak likuiditas global.

Sosok di Kursi Kepemimpinan Organisasi

Moeldoko bukan figur baru dalam ekosistem kebijakan ekonomi nasional. Sebagai Kepala Staf Kepresidenan, ia berada di simpul koordinasi antara pemerintah dan dunia usaha, termasuk dalam isu percepatan industrialisasi kendaraan listrik. Pengalaman birokrasi tersebut menjadi modal politis bagi organisasi yang anggotanya mencakup produsen, perakit, hingga pelaku rantai pasok baterai. Dalam tata kelola industri yang padat regulasi, kedekatan dengan pusat kebijakan memang sering dianggap sebagai aset strategis untuk melobi insentif fiskal dan peraturan teknis.

Di sisi lain, terpilihnya kembali seorang pemimpin dengan basis kekuatan di luar kalangan pengusaha murni memunculkan pertanyaan tentang representasi. Industri kendaraan listrik dihuni beragam aktor: dari raksasa otomotif global yang membuka pabrik perakitan di dalam negeri, sampai startup motor listrik lokal yang bergantung pada akses pembiayaan murah. Keseimbangan kepentingan ini menentukan sejauh mana organisasi mampu menjadi jembatan aspirasi yang kredibel, bukan sekadar wadah koordinasi simbolis.

Konsolidasi Kepemimpinan: Pro dan Kontra

Pro: Periode kepemimpinan lima tahun memberi kepastian agenda yang berkesinambungan. Agenda besar seperti perluasan stasiun pengisian kendaraan listrik umum, harmonisasi standar SNI, maupun penyesuaian ketentuanTKDN komponen baterai membutuhkan negosiasi panjang yang tidak bisa diselesaikan dalam satu siklus singkat. Stabilitas organisasi menurutnya menurunkan biaya koordinasi dan memperkuat posisi tawar Indonesia di hadapan investor asing yang menimbang proyeksi permintaan domestik sebelum menanamkan modal. Dalam bahasa pasar, kepemimpinan yang kembali terpilih berpotensi menurunkan risiko kebijakan yang kerap menjadi alasan investor menahan capital outflow dari sektor manufaktur.

Kontra: Di sisi lain, konsentrasi kekuasaan dalam satu figur berulang berisiko melahirkan kesamaan pandang yang monoton. Kritik terhadap kebijakan insentif misalnya, kerap muncul dari pelaku usaha yang merasa skema subsidi kendaraan listrik dinilai belum merata antara segmen mobil dan sepeda motor. Data penjualan menunjukkan mobil listrik terjual puluhan ribu unit pada 2024, sementara penetrasi di segmen sepeda motor listrik justru bergantung besar pada program bantuan pembelian yang anggarannya terbatas. Tanpa oposisi organisasional yang sehat, suara pelaku mikro dan menengah bisa tenggelam di balik prioritas perusahaan besar.

Lanskap Pasar dan Sentimen Industri

Pasar otomotif nasional sendiri menunjukkan tren pemulihan berlahan. Penjualan mobil nasional bergerak di kisaran 800 ribu hingga 900 ribu unit per tahun, dengan komponen kendaraan listrik yang porsinya terus meningkat dari tahun ke tahun. Pemerintah menahan laju permintaan lewat skema PPN dalam rangka pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah, serta pembebasan pajak barang mewah bagi model tertentu. Insentif semacam ini menopang sentimen pasar dalam jangka pendek, meski di saat yang sama menggerus penerimaan negara yang juga dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur energi.

Di pasar modal, saham-saham terkait ekosistem kelistrikan sempat mengalami kenaikan tajam sebelum masuk fase koreksi valuasi. Investor menyadari bahwa proyeksi pertumbuhan industri masih bergantung pada tiga variabel: harga litium global, kecepatan pembangunan jaringan transmisi listrik, serta daya beli konsumen yang sangat sensitif terhadap suku bunga acuan. Ketika likuiditas domestik ketat, keputusan konsumen menunda pembelian kendaraan baru menjadi tekanan nyata bagi volume penjualan.

Agenda Berat Menuju 2031

Beberapa pekerjaan rumah tampaknya akan menentukan keberhasilan periode kepemimpinan baru. Pertama, konsistensi kebijakan fiskal: insentif yang berubah-ubah dari tahun ke tahun memaksa perusahaan menunda ekspansi kapasitas produksi. Kedua, pengembangan ekosistem baterai hulu, termasuk smelter dan pabrik sel, yang menentukan struktur biaya jangka panjang industri. Ketiga, pemerataan infrastruktur pengisian daya di luar Pulau Jawa, tanpa itu tren konsumsi kendaraan listrik akan terpusat dan pertumbuhannya melambat.

Kepemimpinan Moeldoko kini diuji bukan hanya pada kemampuan merawat koordinasi, melainkan pada keberanian mengambil posisi saat kepentingan anggota saling bertabrakan. Di satu sisi, industri membutuhkan kepastian regulasi jangka panjang; di sisi lain, fiskal negara memiliki batas yang harus dijaga. Keseimbangan antara keduanya akan menentukan apakah ekosistem kendaraan listrik nasional mampu tumbuh berkelanjutan hingga akhir dekade ini, atau sekadar bertumpu pada geliat insentif jangka pendek.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User