Oct 08, 2026
Bisnis

Mobil Pustaka Keliling Revitalisasi Dorong Literasi Pelajar Jakarta

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Susenas 2023, indeks literasi nasional masih menunjukkan kesenjangan yang signifikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Skor kemampuan membaca si...

Mobil Pustaka Keliling Revitalisasi Dorong Literasi Pelajar Jakarta

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Susenas 2023, indeks literasi nasional masih menunjukkan kesenjangan yang signifikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Skor kemampuan membaca siswa Indonesia dalam asesmen PISA 2022 tercatat 359 poin, masih tertinggal jauh dari rata-rata negara OECD yang berada di angka 476 poin. Angka ini menjadi latar belakang penting mengapa inisiatif seperti program perpustakaan keliling kembali menjadi sorotan publik, terutama di kawasan padat penduduk seperti Jakarta.

Sebuah unit mobil perpustakaan keliling hadir di lingkungan Bahtera LiteraSEA, Jakarta, sebagai bagian dari upaya revitalisasi fasilitas literasi bagi anak-anak dan pelajar. Program ini tidak sekadar menyediakan tumpukan buku, tetapi juga dirancang untuk mendekatkan akses bahan bacaan ke permukiman yang selama ini terkendala jarak ke perpustakaan umum. Fenomena ini menarik untuk dianalisis dari dua sisi: sebagai terobosan pemerataan akses, sekaligus tantangan keberlanjutan di tengah keterbatasan anggaran daerah.

Di Satu Sisi: Akses Literasi yang Lebih Merata

Menurut data Perpustakaan Nasional (Perpusnas) per 2023, rasio ketersediaan perpustakaan di Indonesia baru mencapai sekitar 1 perpustakaan untuk setiap 4.000 penduduk. Standar ideal yang direkomendasikan IFLA adalah satu perpustakaan untuk setiap 1.000 hingga 3.000 jiwa. Artinya, terdapat defisit infrastruktur literasi yang cukup lebar. Kehadiran mobil pustaka keliling menjadi solusi taktis untuk memangkas jarak fisik antara anak dan bahan bacaan.

Dari kacamata ekonomi pendidikan, setiap rupiah yang diinvestasikan untuk akses bacaan memiliki multiplier effect jangka panjang. Studi Bank Dunia pada 2021 menyebutkan bahwa peningkatan skor literasi sebesar 10 persen berkorelasi dengan kenaikan produktivitas tenaga kerja hingga 2,3 persen dalam satu dekade berikutnya. Dengan populasi pelajar DKI Jakarta yang mencapai lebih dari 1,4 juta jiwa pada tahun ajaran 2023/2024, intervensi berbasis mobil keliling berpotensi menjangkau segmen yang selama ini terpinggirkan secara geografis.

"Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi fondasi daya saing suatu bangsa. Akses yang tidak merata adalah bentuk ketimpangan struktural yang harus diintervensi," ujar seorang pengamat pendidikan dalam sebuah forum diskusi literasi nasional.

Di Sisi Lain: Tantangan Keberlanjutan dan Efektivitas

Meski terdengar menjanjikan, program perpustakaan keliling menghadapi persoalan mendasar soal keberlanjutan. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi belanja fungsi pendidikan pada APBN 2023 mencapai Rp612 triliun atau sekitar 20 persen dari total belanja negara. Namun, alokasi untuk layanan perpustakaan keliling masih belum menjadi prioritas dalam struktur anggaran daerah. Keterbatasan ini berdampak pada biaya operasional kendaraan, pengadaan koleksi buku baru, hingga honor petugas.

Selain itu, muncul pertanyaan soal valuasi efektivitas. Sebuah kajian akademik tahun 2022 memperkirakan bahwa tingkat kunjungan ulang program pustaka keliling di beberapa kota besar hanya berkisar 30 sampai 40 persen dari total pengunjung awal. Artinya, antusiasme awal sering tidak diikuti dengan pembinaan minat baca berkelanjutan. Tanpa pendampingan, kegiatan ini berisiko menjadi seremonial belaka.

Dari perspektif likuiditas anggaran, pemerintah daerah juga dihadapkan pada pilihan sulit antara membiayai program literasi keliling atau memenuhi kebutuhan infrastruktur pendidikan formal seperti rehabilitasi ruang kelas. Sentimen pasar kebijakan pun turut memengaruhi, terutama ketika isu literasi diangkat hanya menjelang momen tertentu tanpa kesinambungan program.

Proyeksi dan Arah Fundamental Jangka Panjang

Jika merujuk tren Kemendikbudristek, target indeks literasi nasional pada 2025 adalah mencapai skor 70 dari skala 100, naik dari capaian sekitar 62,5 pada 2023. Untuk mengejar proyeksi tersebut, diperlukan integrasi antara program keliling, digitalisasi bahan bacaan, serta pelibatan komunitas lokal. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil menjadi kunci agar revitalisasi fasilitas seperti yang terjadi di Bahtera LiteraSEA tidak berhenti pada simbolistik.

Kesimpulannya, kehadiran mobil pustaka keliling adalah langkah positif untuk memperbaiki fundamental literasi masyarakat. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada tata kelola anggaran, inovasi layanan, dan konsistensi kebijakan. Tanpa itu, program ini hanya akan menjadi portofolio kegiatan tanpa dampak struktural yang nyata bagi generasi pelajar Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User