Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2023, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja. Di tengah dominasi angka makro tersebut, muncul kisah mikro yang menarik dicermati: sebuah usaha kreatif bernama EKKYTA yang berawal dari hobi merajut pada 2011, kini menembus pasar ekspor dengan produk handmade. Fenomena ini menjadi cermin bagaimana hobi yang dikelola serius bisa menjelma menjadi unit usaha dengan orientasi global.
Dari Hobi Merajut ke Unit Usaha Berorientasi Ekspor
EKKYTA berdiri sejak 2011 dengan modal awal keterampilan merajut dan benang. Selama lebih dari satu dekade, usaha ini mengalami transformasi dari produksi rumahan menjadi entitas yang mampu memenuhi permintaan pasar luar negeri. Menurut pelaku usaha, kunci utama bukan sekadar keunikan desain, melainkan konsistensi inovasi produk dan pelatihan sumber daya manusia secara berkelanjutan. Dalam konteks ekonomi, langkah ini sejalan dengan strategi diversifikasi produk ekspor non-migas yang selama ini menjadi andalan pemerintah untuk memperkuat neraca perdagangan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor produk kerajinan dan kriya Indonesia pada 2023 mencapai sekitar USD 900 juta, tumbuh 7,2 persen year-on-year dibandingkan 2022. Angka ini relatif kecil dibandingkan total ekspor nasional, namun memiliki nilai tambah tinggi karena padat karya dan berbasis kearifan lokal. Produk handmade seperti rajutan menempati ceruk pasar yang spesifik, umumnya dibeli oleh konsumen di negara maju yang menghargai unsur keberlanjutan dan keaslian.
Pro: Nilai Tambah, Penyerapan Tenaga Kerja, dan Citra Produk Lokal
Di satu sisi, keberhasilan EKKYTA menunjukkan bahwa UMKM kreatif mampu menciptakan nilai tambah jauh di atas produk massal. Harga jual produk handmade di pasar ekspor bisa mencapai 3 hingga 5 kali lipat dibandingkan harga domestik. Selain itu, usaha ini membuka lapangan kerja bagi perajin lokal, terutama perempuan, sehingga berkontribusi pada inklusi ekonomi. Dari sisi citra, produk kriya Indonesia memperkuat posisi "Made in Indonesia" sebagai produk berkualitas dan ramah lingkungan.
Kontribusi terhadap devisa juga tidak bisa diabaikan. Setiap dolar yang masuk dari ekspor kriya menambah likuiditas valuta asing dan membantu menstabilkan nilai tukar rupiah. Pemerintah melalui berbagai program fasilitasi ekspor, seperti pelatihan dan sertifikasi, terus mendorong UMKM naik kelas. Jika tren ini berlanjut, proyeksi Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan kontribusi UMKM terhadap ekspor naik dari sekitar 15 persen menjadi 20 persen pada 2025.
Kontra: Tantangan Fundamental dan Sentimen Pasar Global
Di sisi lain, perjalanan UMKM kriya menuju pasar ekspor tidak lepas dari hambatan fundamental. Pertama, keterbatasan kapasitas produksi. Permintaan global yang fluktuatif seringkali tidak diimbangi kemampuan produksi rumahan yang masih manual. Kedua, akses pembiayaan. Berdasarkan data OJK per Desember 2023, rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan baru sekitar 19 persen, jauh dari target 30 persen. Ini membuat ekspansi usaha bergantung pada modal sendiri.
Ketiga, sentimen pasar global yang rentan. Perlambatan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat berdampak langsung pada permintaan produk discretionary seperti kriya. Capital outflow dari pasar negara berkembang juga melemahkan rupiah, yang di satu sisi menguntungkan eksportir, namun di sisi lain meningkatkan biaya bahan baku impor seperti benang berkualitas. Keempat, persaingan dari negara produsen lain seperti Vietnam dan India yang menawarkan produk serupa dengan harga lebih kompetitif.
"UMKM ekspor kita punya kekuatan pada orisinalitas dan kearifan lokal, tetapi kelemahannya ada pada skala dan standar kualitas yang konsisten. Tanpa pendampingan serius, potensi ini hanya akan jadi cerita sesaat," ujar seorang pengamat ekonomi kreatif dalam sebuah diskusi panel di Jakarta.
Membaca Tren dan Proyeksi ke Depan
Melihat tren yang ada, keberlanjutan usaha seperti EKKYTA sangat bergantung pada tiga hal: inovasi produk, kapasitas produksi, dan akses pasar. Dari sisi valuasi usaha, UMKM kriya yang mampu menembus ekspor umumnya memiliki indeks keberlanjutan lebih baik karena tidak bergantung pada satu pasar. Namun, tanpa dukungan portofolio pembiayaan yang memadai, risiko stagnasi tetap besar.
Pemerintah perlu memperkuat ekosistem ekspor UMKM, mulai dari pelatihan digital marketing, fasilitasi sertifikasi internasional, hingga insentif fiskal. Bagi pelaku usaha, diversifikasi pasar menjadi kunci agar tidak rentan terhadap guncangan ekonomi satu negara. Dengan begitu, kisah hobi merajut yang menjadi bisnis ekspor bukan sekadar anomali, melainkan awal dari pergeseran struktur ekonomi yang lebih inklusif dan bernilai tambah.
Comments (0)