Oct 07, 2026
Nasional

Mendag Pertimbangkan Subsidi Imbas Harga Kedelai Naik

JAKARTA — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso akhirnya buka suara soal lonjakan harga kedelai yang kian mencekik perajin tahu dan tempe di berbagai d

Mendag Pertimbangkan Subsidi Imbas Harga Kedelai Naik

JAKARTA — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso akhirnya buka suara soal lonjakan harga kedelai yang kian mencekik perajin tahu dan tempe di berbagai daerah. Pemerintah membuka opsi pemberian subsidi guna menahan beban pelaku usaha kecil yang terpaksa memperkecil ukuran produk demi menyelamatkan margin.

Pernyataan ini mencuat setelah gelombang keluhan dari sentra produksi tahu dan tempe di Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi. Harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama dilaporkan terus merangkak naik dalam beberapa pekan terakhir, memicu kekhawatiran akan gelombang pengurangan tenaga kerja hingga penutupan usaha.

Kronologi Kenaikan Harga Kedelai

  1. Lonjakan bertahap: Harga kedelai di tingkat pedagang besar dilaporkan naik signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu, menembus ambang psikologis yang selama ini dihindari perajin.
  2. Perajin mulai tercekik: Sejumlah perajin mengaku keuntungan tergerus hingga di bawah 10 persen, sementara biaya produksi lain seperti gas dan listrik tidak ikut turun.
  3. Respons asosiasi: Asosiasi perajin tahu dan tempe mengirim surat terbuka ke Kementerian Perdagangan, meminta intervensi harga dan kepastian pasokan.
  4. Mendag buka suara: Budi Santoso menyatakan pemerintah tengah mengkaji sejumlah instrumen, termasuk subsidi langsung bagi perajin skala mikro dan kecil.
  5. Rencana tindak lanjut: Kementerian akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dan Bulog untuk menghitung skema subsidi yang realistis dan tepat sasaran.

Perajin Terpaksa Perkecil Produk

Di sejumlah pasar tradisional, konsumen mulai merasakan dampaknya secara langsung. Ukuran tahu dan tempe yang dijual di lapak-lapak dilaporkan menyusut, meski harga jual di tingkat konsumen tidak ikut turun. Fenomena ini menjadi indikator nyata betapa berat tekanan yang dihadapi perajin.

"Kami tidak punya pilihan selain menyesuaikan ukuran. Kalau harga dinaikkan, pembeli langsung berkurang. Yang paling aman memang memperkecil porsi," ujar seorang perajin di kawasan Jakarta Timur.

Praktik ini, menurut pengamat pangan, berbahaya dalam jangka panjang karena berpotensi menggerus kepercayaan konsumen sekaligus menurunkan standar kualitas pangan rakyat. Tahu dan tempe merupakan sumber protein murah yang menjadi andalan keluarga Indonesia, terutama di kelompok menengah ke bawah.

Subsidi: Solusi atau Tambal Sulam?

Rencana subsidi menuai respons beragam. Sebagian pihak menilai langkah ini sebagai solusi jangka pendek yang diperlukan untuk menstabilkan pasar. Namun, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa subsidi tanpa perbaikan struktur pasokan hanya akan menjadi tambal sulam yang membebani anggaran negara.

  • Dukungan: Subsidi dianggap mampu menahan laju kenaikan harga di tingkat konsumen.
  • Kritik: Pemerintah diminta mendorong produksi kedelai lokal agar tidak terus bergantung pada impor.
  • Catatan: Distribusi subsidi harus diawasi ketat agar tidak salah sasaran.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi mengenai besaran maupun mekanisme subsidi. Namun, sinyal dari Mendag menunjukkan pemerintah mulai menyadari bahwa tekanan terhadap perajin tahu dan tempe tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User