Sep 24, 2026
Bisnis

Mar'ie Muhammad Larang Anak Masuk Birokrasi karena Risiko Korupsi

Jakarta – Mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Mar’ie Muhammad, menyampaikan pesan yang cukup mengejutkan bagi kalangan pegawai negeri. Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan keluarga dan k...

Mar'ie Muhammad Larang Anak Masuk Birokrasi karena Risiko Korupsi

Jakarta – Mantan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Mar’ie Muhammad, menyampaikan pesan yang cukup mengejutkan bagi kalangan pegawai negeri. Dalam sebuah kesempatan diskusi dengan keluarga dan kerabat, ia secara terbuka mengungkapkan harapannya agar anak-anak kandungnya tidak meniti karier sebagai aparatur sipil negara. Alasan utamanya adalah kekhawatiran mendalam terhadap lingkungan birokrasi yang dinilai sarat akan risiko korupsi.

Mar’ie Muhammad, yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan pada era pemerintahan Presiden Soeharto dan kemudian melanjutkan di masa transisi, dikenal luas dengan julukan “Mr. Clean” berkat reputasi integritasnya yang tanpa cela. Rekam jejaknya yang bersih dan tegas dalam memberantas kebocoran anggaran membuat pandangannya kali ini menjadi sorotan. Ia tidak sekadar menganjurkan, melainkan secara eksplisit melarang anak-anaknya masuk ke dalam lingkaran birokrasi.

Keprihatinan dari Dalam Sistem

Pernyataan Mar’ie Muhammad lahir dari pemahaman mendalam tentang seluk-beluk mesin pemerintahan. Semasa aktif di Kabinet, ia menyaksikan sendiri bagaimana sistem yang lemah dapat menjebak individu-individu yang pada awalnya berintegritas. "Saya sudah melihat terlalu banyak kasus di mana orang baik terpeleset hanya karena berada di posisi yang salah dan lingkungan yang tidak mendukung," ujarnya, sebuah kalimat yang kini menjadi refleksi dirinya sebagai orang tua. Ia menegaskan bahwa larangan ini bukanlah bentuk merendahkan profesi pegawai negeri, melainkan upaya melindungi anak-anaknya dari potensi godaan yang bisa menghancurkan masa depan mereka.

Birokrasi di Indonesia, menurut sejumlah pengamat, memang masih terjebak dalam berbagai praktik yang membuka celah korupsi, mulai dari pengadaan barang dan jasa, perizinan, hingga alokasi anggaran daerah. Meskipun upaya reformasi birokrasi terus digulirkan, resistensi internal dan kultur patronase belum sepenuhnya hilang. Mar’ie Muhammad, yang juga pernah memimpin upaya reformasi di Kementerian Keuangan, menyadari betul bahwa godaan itu nyata dan seringkali sulit dihindari tanpa benteng moral yang kuat dan pengawasan sistem yang ketat.

Mendorong Wirausaha dan Profesional

Sebagai gantinya, tokoh yang kini banyak berkecimpung di bidang sosial keagamaan itu mengarahkan anak-anaknya untuk menekuni sektor swasta atau membangun usaha mandiri. "Lebih baik mereka berdagang, menjadi pengusaha, atau profesional di luar pemerintahan," katanya. Baginya, sektor swasta yang kompetitif akan membentuk karakter yang lebih tahan banting dan mengajarkan nilai-nilai transparansi melalui mekanisme pasar. Sementara itu, menjadi wirausaha dianggap mampu menciptakan lapangan kerja, kontribusi yang tak kalah penting bagi negara.

Pandangan tersebut sejalan dengan semakin seringnya tokoh-tokoh publik yang mengingatkan akan beratnya menjadi bagian dari birokrasi yang membutuhkan komitmen antikorupsi luar biasa. Bukan berarti tidak ada pegawai negeri yang bersih, namun Mar’ie melihat bahwa tanpa perbaikan total pada sistem pengawasan dan kesejahteraan, peluang tergelincir tetap besar. Ia tidak ingin anaknya menjadi “korban” berikutnya dari institusi yang semestinya menjadi pelayan rakyat.

Pesan untuk Reformasi Birokrasi

Larangan ini sekaligus menjadi kritik terselubung terhadap lambatnya pembenahan tata kelola pemerintahan. Bagi Mar’ie, ketika seorang mantan menteri sekaliber dirinya sampai berpikir untuk menjauhkan generasi penerus dari birokrasi, artinya ada masalah fundamental yang belum terselesaikan. "Ini alarm bagi kita semua. Jika orang yang paham dari dalam saja tidak percaya, apa yang harus diperbaiki?" ujar seorang pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia yang dimintai tanggapan.

Di sisi lain, sejumlah pegawai negeri yang tergabung dalam forum-forum antikorupsi justru mengapresiasi ketegasan Mar’ie. Mereka menilai, pernyataan itu bukanlah vonis bahwa birokrasi adalah sarang penjahat, melainkan cerminan realistis bahwa godaan di dalamnya memerlukan penanganan serius. Mereka berharap pemerintah makin serius meningkatkan kesejahteraan, memperkuat sistem whistle blowing, dan menjatuhkan sanksi yang membuat jera, agar stigma negatif tidak terus melekat.

Terlepas dari pro dan kontra, pesan Mar’ie Muhammad berhasil menyentak kesadaran banyak pihak. Sebagai figur yang dihormati karena integritasnya, kata-katanya menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah pemberantasan korupsi belum selesai. Ia memilih melindungi keluarganya di ranah privat, namun dampaknya menggema ke ruang publik.

Warisan pemikiran Mar’ie Muhammad ini akan menjadi catatan penting dalam sejarah upaya mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi. Bukan hanya tentang seorang ayah yang ingin yang terbaik bagi anak-anaknya, tetapi juga tentang bagaimana seorang negarawan memandang sistem yang pernah ia pimpin.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User