Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2026, penyelenggaraan event motorsport berskala internasional di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat, konsisten menyumbang tambahan kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik. Dalam konteks itu, gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia kembali menjadi katalis bagi sektor pariwisata dan ekonomi daerah, dengan salah satu pendorongnya adalah program touring motor Mandalika Ride Out yang diikuti ratusan peserta dari berbagai kota di Pulau Jawa dan Bali.
Program ini secara operasional bukan sekadar konvoi sepeda motor menuju lokasi balapan. Peserta menempuh rute perjalanan darat hingga sekitar 1.400 kilometer, melewati sejumlah titik yang menjadi bagian dari rantai distribusi dan layanan energi. Di sepanjang perjalanan, peserta diperkenalkan pada lini bisnis energi, mulai dari bahan bakar, pelumas, hingga infrastruktur pendukung. Pendekatan ini menjadikan event olahraga sebagai kanal pemasaran berbasis pengalaman, sebuah strategi yang oleh sejumlah pelaku industri disebut sebagai experiential marketing, yaitu pemasaran yang menekankan pengalaman langsung konsumen terhadap produk.
Di Satu Sisi: Dorongan Nyata bagi Ekonomi Daerah
Di satu sisi, kehadiran peserta ride out dan penonton event balap memberikan dampak berganda bagi perekonomian lokal. Mengutip data Dinas Pariwisata NTB, tingkat hunian hotel di kawasan Mandalika dan Mataram pada periode balapan tahun sebelumnya mengalami kenaikan signifikan, dengan okupansi yang menyentuh kisaran 85-95 persen pada akhir pekan lomba, dibandingkan rata-rata harian di luar event yang berkisar 50-60 persen. Tingkat hunian atau occupancy rate adalah rasio kamar terisi terhadap total kamar tersedia, indikator sederhana untuk mengukur permintaan akomodasi.
Selain akomodasi, sektor UMKM, kuliner, transportasi lokal, hingga jasa penyewaan kendaraan turut merasakan sentimen positif. Pengeluaran peserta selama perjalanan panjang menciptakan arus likuiditas di kota-kota transit, mulai dari penginapan, konsumsi bahan bakar, hingga belanja oleh-oleh. Bagi daerah yang perekonomiannya bergantung pada sektor pertanian dan pariwisata, aliran pengeluaran ini berperan sebagai stimulus jangka pendek yang dapat meningkatkan pendapatan asli daerah.
Di Sisi Lain: Fundamental yang Harus Diuji
Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa dampak event bersifat temporer dan bergantung pada keberlanjutan infrastruktur pasca-event. Ada risiko crowding out, yakni ketika lonjakan permintaan selama event justru menaikkan harga kamar dan jasa secara berlebihan, sehingga wisatawan reguler menunda kunjungan. Fenomena ini pernah tercatat pada sejumlah kota tuan rumah event internasional, di mana harga akomodasi melonjak dua hingga tiga kali lipat dan menurunkan daya tarik wisatawan non-event.
"Event besar memang menciptakan lonjakan permintaan yang cepat, tetapi yang menentukan keberlanjutan adalah bagaimana kapasitas infrastruktur dan kualitas layanan dijaga setelah sorotan berakhir," ujar seorang pengamat ekonomi regional dalam sebuah diskusi panel publik.
Dari sudut pandang korporasi, program ride out juga menghadapi uji valuasi biaya dan manfaat. Investasi pada aktivitas pemasaran berbasis event harus dibandingkan dengan rasio efektivitas terhadap penetrasi pasar. Jika konversi peserta menjadi loyalitas merek tidak terukur, maka biaya yang dikeluarkan berpotensi hanya menjadi beban promosi tanpa dampak jangka panjang. Di sisi lain, jika program ini mampu memperkuat posisi di segmen pengguna roda dua yang jumlahnya puluhan juta, maka nilai strategisnya dapat melampaui sekadar exposure sesaat.
Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan
Melihat tren dua tahun terakhir, sektor pariwisata NTB menunjukkan pemulihan pasca-pandemi dengan pertumbuhan kunjungan year-on-year yang positif. Proyeksi ke depan akan sangat bergantung pada kalender event yang berkelanjutan, konektivitas penerbangan, serta kesiapan sumber daya manusia lokal. Sentimen pasar terhadap kawasan Mandalika pun cenderung positif, tercermin dari minat investor pada sektor perhotelan dan properti, meski volume transaksi masih fluktuatif.
Pada akhirnya, Mandalika Ride Out adalah cermin bagaimana event olahraga dan aktivitas korporasi bertemu dalam satu gelaran. Di satu sisi, ia menghadirkan efek pengganda bagi ekonomi lokal dan memperkuat citra destinasi. Di sisi lain, keberlanjutannya menuntut perencanaan fiskal, pengendalian harga, serta strategi bisnis yang terukur. Tanpa itu, euforia yang hadir setiap tahun berisiko tinggal menjadi momentum seremonial, bukan fondasi pertumbuhan yang fundamental.
Comments (0)