Oct 13, 2026
Bisnis

Mafia Pangan Diduga Picu Lonjakan Harga Ayam dan Telur

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juni 2026, harga rata-rata nasional daging ayam ras mengalami kenaikan year-on-year sebesar 12,4 persen, sementara harga telur ayam ras naik 9,8 persen...

Mafia Pangan Diduga Picu Lonjakan Harga Ayam dan Telur

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juni 2026, harga rata-rata nasional daging ayam ras mengalami kenaikan year-on-year sebesar 12,4 persen, sementara harga telur ayam ras naik 9,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini melampaui laju inflasi umum yang tercatat 3,2 persen secara tahunan, sehingga komoditas pangan hewani ini menjadi salah satu penyumbang utama tekanan inflasi volatile food. Menteri Pertanian dalam rapat koordinasi lintas kementerian menyoroti fenomena serupa yang juga terjadi pada komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), di mana harga dunia naik namun harga di tingkat petani justru turun—indikasi kuat adanya distorsi rantai pasok.

Dugaan Permainan Aktor di Rantai Distribusi

Menteri Dalam Negeri, dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa praktik mafia pangan tidak boleh dibiarkan mendapat ruang. Ia menduga ada aktor-aktor tertentu yang sengaja menahan pasokan (withholding) untuk menciptakan kelangkaan buatan di pasar, sehingga harga melonjak di luar kewajaran fundamental. Pola ini, menurutnya, harus diberantas karena merugikan konsumen sekaligus peternak kecil.

Di satu sisi, indikasi permainan kartel memang terlihat dari disparitas harga yang tajam antara harga di tingkat produsen dan harga di tingkat konsumen. Data Kementerian Pertanian menunjukkan harga telur di peternak sekitar Rp22.000 per kilogram, namun di pasar ritel mencapai Rp31.500 per kilogram—selisih 43 persen yang menurut sejumlah pengamat terlalu besar untuk sekadar mencerminkan biaya distribusi. Rasio seperti ini, dalam analisis ekonomi, sering menjadi sinyal adanya penyalahgunaan posisi dominan dalam rantai pasok.

Di sisi lain, sebagian ekonom mengingatkan bahwa kenaikan harga pangan tidak selalu identik dengan mafia. Faktor struktural seperti kenaikan harga pakan jagung (naik 15 persen year-on-year), pelemahan nilai tukar rupiah, serta gangguan cuaca yang menekan produksi juga berkontribusi signifikan. Mereka menilai narasi mafia berpotensi menyederhanakan masalah kompleks dan mengalihkan perhatian dari persoalan fundamental sektor peternakan.

"Kalau strukturnya begini terus, tidak akan pernah beres. Ini bukan sekadar soal pasokan, tapi soal siapa yang mengendalikan pasar. Mafia tidak boleh diberi ruang," ujar Menteri Dalam Negeri dalam rapat koordinasi tersebut.

Respons Kebijakan dan Proyeksi ke Depan

Pemerintah saat ini tengah menyiapkan langkah operasi pasar terpadu, pengetatan pengawasan distribusi, serta evaluasi sistem tata niaga pangan hewani. Otoritas persaingan usaha juga diminta memperdalam penyelidikan terhadap dugaan kartel di sektor perunggasan. Namun, efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada kualitas data dan kecepatan eksekusi di lapangan.

Pro: Penindakan terhadap dugaan mafia pangan berpotensi memperbaiki efisiensi rantai pasok, menekan disparitas harga, dan mengembalikan marjin yang adil bagi peternak. Jika berhasil, indeks harga pangan bisa turun 3–5 persen dalam dua kuartal, sekaligus meredam ekspektasi inflasi yang saat ini berada di kisaran 4,1 persen untuk volatile food. Stabilitas ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok bawah yang porsi belanja pangannya mencapai 60 persen dari total pengeluaran.

Kontra: Tanpa perbaikan struktural—seperti penguatan industri pakan dalam negeri, diversifikasi sumber protein, dan pembenahan logistik antarpulau—penindakan mafia bersifat sementara. Risiko capital outflow dari sektor agribisnis juga membayangi jika iklim usaha dianggap tidak kondusif. Selain itu, fokus berlebihan pada isu mafia bisa menutupi kebutuhan investasi jangka panjang di riset bibit unggul dan infrastruktur rantai dingin yang masih minim.

Yang jelas, sentimen pasar terhadap pangan saat ini sedang rentan. Portofolio kebijakan harus dirancang agar tidak menimbulkan guncangan likuiditas di sektor perdagangan. Tanpa perbaikan fundamental dan penegakan hukum yang konsisten, fluktuasi harga ayam dan telur akan terus berulang, membebani anggaran rumah tangga dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi kuartal berikutnya. Pemerintah perlu membuktikan bahwa langkah ini bukan sekadar retorika musiman, melainkan reformasi tata niaga yang terukur dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User