LONDON — Langkah gemilang pembalap muda Selandia Baru, Liam Lawson, bersama tim Racing Bulls di awal musim Formula 1 2025 ini menuai pujian luas. Analis dan mantan pembalap profesional, Naomi Schiff, secara khusus menyoroti ketangguhan mental Lawson yang mampu bangkit dengan impresif setelah menjalani pengalaman pahit dan penuh tekanan di tim utama Red Bull Racing pada penghujung musim lalu.

Dalam sebuah sesi analisis yang dilaporkan oleh kontributor Beritadua.com dari paddock, Schiff menilai bahwa apa yang ditunjukkan Lawson bukan sekadar kece

Jul 08, 2026 - 01:49
0 0

Dalam sebuah sesi analisis yang dilaporkan oleh kontributor Beritadua.com dari paddock, Schiff menilai bahwa apa yang ditunjukkan Lawson bukan sekadar kecepatan di lintasan, melainkan sebuah deklarasi kematangan seorang pembalap yang berhasil mengubah keterpurukan menjadi batu loncatan. "Kita semua tahu betapa brutalnya lingkungan di Red Bull. Masuk ke sana sebagai pembalap muda dan harus bersaing langsung dengan Max Verstappen adalah mimpi buruk bagi karier siapa pun," ujar Schiff. "Tapi apa yang kita saksikan dari Lawson sekarang adalah kebalikannya. Dia tidak hancur, dia justru kembali ke Racing Bulls dengan fundamental yang lebih solid."

Dari Debutan Kilat Hingga Bayang-Bayang Kursi Kedua Red Bull

Kisah Lawson bersama orbit Red Bull adalah sebuah drama olahraga yang penuh tikungan. Pada musim 2023, ia melakukan debut mendadak sebagai pengganti Daniel Ricciardo yang cedera saat masih membela AlphaTauri (kini Racing Bulls). Penampilannya yang langsung kompetitif dan bahkan sesekali mengungguli pembalap senior Yuki Tsunoda sontak membuat namanya diperhitungkan sebagai aset masa depan Red Bull.

Namun, promosi tak terduga ke tim utama pada pertengahan 2024 untuk menggantikan Sergio Perez justru berubah menjadi ujian berat. Dihadapkan pada mobil yang secara filosofi sulit dikendalikan dan tekanan performa untuk mendukung Verstappen di papan atas klasemen, Lawson kesulitan mengekstraksi performa konsisten. Alih-alih bersinar, ia justru terlempar kembali ke tim satelit hanya dalam hitungan beberapa balapan—sebuah rollercoaster emosional yang menurut Schiff bisa dengan mudah mematahkan karier pembalap muda manapun.

"Menyaksikan Liam sekarang, Anda tidak akan bisa menebak bahwa ia baru saja melalui fase paling sulit dalam kariernya di Formula 1. Ketangguhan itu adalah kualitas langka. Racing Bulls pantas mendapatkan kredit karena telah menciptakan lingkungan yang memungkinkan pemulihan mental secepat ini," tegas Schiff dalam laporan yang dikutip redaksi Beritadua.com.

Racing Bulls: Lebih dari Sekadar Tim Satelit

Pujian Schiff tidak hanya tertuju pada sang pembalap, tetapi juga pada infrastruktur pendukung di Racing Bulls. Tim yang kini dipimpin oleh Laurent Mekies itu dinilai berhasil memainkan peran krusial sebagai "rumah yang aman" sekaligus "sekolah yang keras" bagi jebolan akademi Red Bull. Alih-alih membiarkan Lawson larut dalam kekecewaan akibat degradasi yang dialaminya, tim yang berbasis di Faenza, Italia ini justru memberinya kepercayaan penuh dan mobil yang terasa lebih bersahabat.

"Kita sering lupa bahwa Racing Bulls melakukan pekerjaan fenomenal dalam membangun kembali kepercayaan diri para pembalap ini. Lihatlah bagaimana mereka memoles Pierre Gasly dulu, atau bagaimana mereka mempertahankan motivasi Tsunoda selama bertahun-tahun. Sekarang giliran Lawson," lanjut Schiff. "Dukungan yang diberikan tim ini bukan sekedar memberikan mobil yang kompetitif, tapi memberikan ruang bagi pembalap untuk menyembuhkan luka mental."

Bukti dari efektivitas dukungan tersebut langsung terlihat di lintasan. Di awal musim 2025, Lawson kembali menunjukkan performa agresif dan presisi tinggi yang dulu menjadi ciri khasnya. Dalam sesi kualifikasi dan balapan pembuka, ia langsung masuk dalam persaingan ketat di papan tengah, bahkan beberapa kali berhasil mengamankan posisi finis yang menyaingi tim-tim papan atas menengah seperti Aston Martin dan McLaren. Pace-nya yang konsisten dan kemampuan bertarung dari wheel-to-wheel yang mumpuni seolah menjadi jawaban keras atas kritik yang menderanya selama ini.

Para pengamat kini mulai berspekulasi bahwa pengalaman pahit di Red Bull malah menjadi katalis tak terduga bagi pertumbuhan Lawson. Ia kini membalap dengan lebih matang, lebih sabar dalam membaca situasi balapan, namun tetap mempertahankan agresivitas yang membuatnya ditakuti di trek. Ini adalah perpaduan sempurna yang langka ditemukan pada pembalap seusianya.

Dengan kontrak jangka panjang di tim Racing Bulls dan performa yang kian menanjak, masa depan Liam Lawson di Formula 1 kembali bersinar terang. Sementara pintu menuju Red Bull mungkin belum akan terbuka lagi dalam waktu dekat—karena dominasi Verstappen dan kursi kedua yang kini diisi oleh pembalap senior berpengalaman—Lawson kini memiliki kemewahan yang tidak dimiliki banyak pembalap muda lain: waktu, kepercayaan tim, dan fondasi mental baja yang telah teruji dalam salah satu lingkungan paling kejam di dunia motorsport, sebagaimana dituturkan dalam laporan redaksi Beritadua.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User