Berdasarkan data terbaru dari sejumlah lembaga riset kekayaan global per awal 2025, kekayaan pribadi Liang Wenfeng, pendiri perusahaan kecerdasan buatan DeepSeek, diperkirakan menembus angka Rp715 triliun. Angka itu menempatkannya sebagai salah satu orang terkaya di China, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu figur terpenting dalam peta industri AI dunia. Bagi pembaca awam, nilai tersebut setara dengan sekitar 0,3 persen dari Produk Domestik Bruto Indonesia, sebuah ilustrasi betapa besarnya konsentrasi kekayaan di sektor teknologi saat ini.
Liang bukanlah figur yang tiba-tiba muncul. Latar belakangnya sebagai lulusan matematika terapan dari Zhejiang University membuatnya memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan para pendiri startup teknologi pada umumnya.
Dari Matematika Terapan ke Industri Modal Ventura
Sebelum mendirikan DeepSeek, Liang dikenal sebagai salah satu pendiri High-Flyer, sebuah perusahaan hedge fund kuantitatif yang berbasis di Hangzhou. Perusahaan itu mengandalkan model matematika dan algoritma untuk mengambil keputusan investasi di pasar modal. Pada 2019, High-Flyer mengelola dana dengan nilai aset di atas US$1 miliar, atau sekitar Rp15,8 triliun pada kurs saat itu.
Pengalaman mengelola portofolio berbasis algoritma inilah yang menjadi fondasi berdirinya DeepSeek pada 2023. Perusahaan itu tidak hanya mengandalkan dana ventura dari luar, tetapi sebagian besar dibiayai oleh internal High-Flyer. Model pendanaan semacam ini jarang ditemui di industri AI global, yang umumnya bergantung pada putaran pendanaan bertahap dari investor institusi.
Pro: Model Efisiensi Biaya yang Mengubah Peta Industri
Di satu sisi, sejumlah analis menilai pendekatan DeepSeek sebagai terobosan. Perusahaan dilaporkan mampu melatih model bahasa besar dengan biaya jauh lebih rendah dibandingkan para pemain global. Salah satu model unggulannya diklaim dilatih dengan biaya di bawah US$6 juta, sementara pesaing di Amerika Serikat mengeluarkan dana ratusan juta dolar untuk model setara.
"Yang dilakukan DeepSeek adalah membuktikan bahwa efisiensi rekayasa bisa mengalahkan sekadar besarnya anggaran. Ini sinyal penting bagi seluruh industri," ujar seorang analis teknologi yang berbasis di Singapura, seperti dikutip dari laporan riset pasar.
Dari perspektif fundamental, pendekatan ini menurunkan hambatan masuk bagi negara berkembang. Jika biaya pengembangan AI dapat ditekan, maka adopsi teknologi di sektor manufaktur, kesehatan, dan jasa keuangan di Asia Tenggara berpotensi mengalami kenaikan yang signifikan dalam tiga sampai lima tahun ke depan.
Kontra: Risiko Valuasi dan Ketergantungan Sentimen Pasar
Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa valuasi kekayaan Liang sangat bergantung pada sentimen pasar terhadap sektor AI. Valuasi perusahaan teknologi swasta tidak memiliki patokan harga harian seperti saham di bursa, sehingga angka Rp715 triliun tersebut bersifat estimasi, bukan nilai likuid yang bisa direalisasikan dalam waktu singkat.
Risiko lain adalah capital outflow. Ketika tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan China meningkat, investor global cenderung menarik dana dari aset berisiko di negara berkembang, termasuk yang terkait teknologi. Kondisi ini bisa menekan valuasi perusahaan AI China secara year-on-year, meskipun fundamental operasionalnya tidak berubah.
Selain itu, ada pertanyaan soal keberlanjutan model bisnis. Pendanaan internal dari hedge fund membuat DeepSeek tidak terikat tekanan investor luar, tetapi juga membatasi akses ke jaringan distribusi global. Beberapa pengamat menilai perusahaan perlu membuka diri terhadap kemitraan strategis agar tidak tertinggal dalam perlombaan infrastruktur komputasi.
Proyeksi dan Implikasi bagi Ekonomi Kawasan
Mengacu pada tren belanja modal sektor AI global yang diperkirakan menembus US$300 miliar pada 2026, posisi DeepSeek sebagai pemain efisiensi biaya bisa menjadi katalis. Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan pelajaran: pengembangan talenta matematika dan ilmu komputer menjadi prasyarat untuk masuk ke rantai nilai AI, bukan sekadar pembelian perangkat keras.
Namun, rasio investasi riset dan pengembangan Indonesia yang masih di bawah 0,3 persen dari PDB menjadi catatan penting. Tanpa perbaikan struktural, potensi ekonomi AI hanya akan dinikmati oleh segelintir negara dengan ekosistem modal dan talenta yang matang. Liang Wenfeng adalah cermin dari kombinasi itu: matematika, modal, dan keberanian mengambil posisi di tengah ketidakpastian.
Pada akhirnya, kisah kekayaan Liang bukan sekadar cerita pribadi. Ia adalah indikator bagaimana nilai tambah ekonomi global sedang bergeser dari aset fisik ke algoritma dan data. Bagaimana kawasan ini merespons pergeseran tersebut akan menentukan siapa yang menjadi pemain, dan siapa yang hanya menjadi pasar.
Comments (0)