Laut Sulawesi — Gempa M5,6 Guncang, Skala IV di Kepulauan Sangihe
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang wilayah Laut Sulawesi pada Sabtu malam, 26 Oktober 2025, sekitar pukul 22:17 WITA. Badan Meteorol
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang wilayah Laut Sulawesi pada Sabtu malam, 26 Oktober 2025, sekitar pukul 22:17 WITA. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa pusat gempa berada di laut pada koordinat 3,92° Lintang Utara dan 125,67° Bujur Timur, atau sekitar 89 kilometer arah tenggara Tahuna, ibu kota Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Gempa terjadi pada kedalaman 10 kilometer dan tidak memicu peringatan dini tsunami.
Kronologi dan Dampak Guncangan
Getaran kuat akibat gempa dirasakan di sejumlah pemukiman di Kepulauan Sangihe. Berdasarkan data dari BMKG dan laporan saksi mata di lapangan, berikut urutan kejadian yang terekam:
- Waktu kejadian: Gempa utama terdeteksi seismograf BMKG tepat pukul 22:17:34 WITA. Sinyal awal menunjukkan gelombang P yang tiba dalam beberapa detik, langsung memicu sistem pemroses otomatis.
- Intensitas guncangan: Skala Modified Mercalli Intensity (MMI) IV tercatat di Tahuna dan sekitarnya. Pada skala ini, guncangan dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, benda-benda ringan bergoyang, dan jendela atau pintu berderak.
- Peringatan dini: Dalam waktu kurang dari tiga menit, BMKG merilis informasi resmi melalui kanal resmi, menegaskan tidak ada potensi tsunami berdasarkan magnitudo dan mekanisme sumber gempa.
- Respon warga: Sejumlah warga Tahuna sempat berhamburan keluar rumah saat guncangan berlangsung sekitar 4–7 detik. Namun, situasi kembali kondusif setelah informasi BMKG tersebar.
- Penanganan dan pemantauan: Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD Kepulauan Sangihe langsung berkoordinasi dengan aparat desa untuk mendata kerusakan ringan dan memastikan tidak ada korban jiwa. Hingga Minggu pagi, dilaporkan beberapa rumah mengalami retak rambut pada dinding, tetapi tidak ada kerusakan struktural berat.
Analisis Tektonik dan Kedalaman Dangkal
Menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, gempa M5,6 ini merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas penunjaman Lempeng Laut Maluku. “Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki pergerakan naik (thrust fault), yang merupakan cerminan dari zona subduksi ganda di bawah Laut Sulawesi,” jelasnya. Dengan kedalaman hanya 10 km, energi seismik merambat kuat ke permukaan, sehingga guncangan terasa intens meskipun magnitudo tergolong menengah.
Lokasi episenter yang relatif dekat dengan Kepulauan Sangihe membuat skala intensitas mencapai IV MMI, yang cukup membuat panik warga mengingat sejarah gempa besar di kawasan tersebut. BMKG mencatat, dalam dua dekade terakhir, wilayah Laut Sulawesi sudah mengalami lebih dari 15 gempa dengan magnitudo di atas 5,0, sebagian besar terkait dengan kompleksitas pertemuan tiga lempeng utama: Eurasia, Filipina, dan Pasifik.
Guncangan gempa kali ini juga tercatat oleh sensor accelerometer pada jaringan peringatan dini BMKG di stasiun Tahuna. Data percepatan tanah menunjukkan puncak percepatan sekitar 18,5 gal, yang cukup untuk menggetarkan bangunan, tetapi masih di bawah ambang kerusakan struktural untuk konstruksi rumah standar. Warga yang berada di lantai atas bangunan dua lantai melaporkan sensasi goyangan lebih kuat dibandingkan di lantai dasar, sesuai dengan prinsip amplifikasi gelombang seismik pada struktur tinggi.
Kesiapsiagaan dan Respons Masyarakat
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe melalui BPBD langsung mengaktifkan posko pemantauan darurat dan menyebarkan informasi ke grup-grup relawan desa. Tim Reaksi Cepat (TRC) diterjunkan untuk melakukan asesmen di lima kecamatan terdekat episenter, yaitu Kecamatan Tahuna, Tahuna Timur, Tahuna Barat, Tabukan Utara, dan Kendahe. Hasil asesmen sementara: tidak ada korban luka atau meninggal dunia. Beberapa gedung sekolah dan puskesmas mengalami retak minor, tetapi fungsi pelayanan tetap berjalan normal.
Meski gempa tidak berpotensi tsunami, BMKG mengimbau masyarakat pesisir untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu palsu. “Kami pastikan hasil pemodelan tsunami tidak menunjukkan anomali ketinggian air laut yang signifikan. Masyarakat bisa melanjutkan aktivitas seperti biasa dengan kewaspadaan terhadap gempa susulan,” tegas Dr. Daryono. Hingga pukul 06:00 WITA, BMKG mencatat tiga gempa susulan dengan magnitudo kecil, yaitu 3,2; 2,8; dan 2,5, yang tidak dirasakan penduduk.
Di media sosial, warganet membagikan pengalaman detik-detik gempa. Tagar #GempaSangihe sempat memuncaki tren lokal. Seorang warga Tahuna, Maria (34), menulis, “Lagi nonton TV tiba-tiba rumah goyang, lampu gantung ikut ayun-ayun. Saya langsung lari keluar. Syukur cuma sebentar dan kata BMKG gak tsunami.” Cerita serupa datang dari nelayan di pelabuhan yang merasakan getaran di atas kapal, tetapi tidak sampai mengganggu aktivitas sandar.
Pentingnya Edukasi Mitigasi di Kawasan Rawan
Pakar kegempaan dari Universitas Sam Ratulangi, Prof. Ir. Benny Maluegha, M.Eng., mengingatkan bahwa Kepulauan Sangihe termasuk zona rawan tinggi karena terletak di jalur cincin api. “Kita perlu memperkuat edukasi mitigasi struktural dan non-struktural. Gempa M5,6 dengan kedalaman dangkal seperti ini bisa menjadi pengingat bahwa bangunan harus memenuhi standar tahan gempa,” ujarnya. Ia merekomendasikan agar pemerintah daerah segera mengaudit gedung-gedung vital dan memperbanyak simulasi evakuasi berbasis masyarakat.
Dengan tidak adanya peringatan tsunami, fokus kini beralih pada pemulihan psikologis warga dan verifikasi kerusakan minor. BMKG bersama BPBD setempat terus memonitor aktivitas seismik di Laut Sulawesi dan meminta warga mengakses informasi hanya dari kanal resmi. Kejadian ini kembali mengukuhkan pentingnya sistem peringatan dini dan literasi kebencanaan di Indonesia yang berada di jalur subduksi aktif.
[SOCIAL_TWEET]: 🚨 Gempa M5,6 guncang Laut Sulawesi malam ini. Guncangan skala IV MMI dirasakan di Kepulauan Sangihe, warga sempat panik. BMKG pastikan TIDAK ADA potensi tsunami. Tetap tenang dan pantau info resmi. #Gempa #Sangihe #BMKG [SOCIAL_TG]: ⚡️ Gempa M5,6 Laut Sulawesi — Guncangan IV MMI di Sangihe 📅 Sabtu, 26/10/2025 | 22:17 WITA 📍 3.92 LU, 125.67 BT | Kedalaman 10 km 🌊 Tidak berpotensi tsunami (BMKG) 🔁 Gempa susulan: M3,2; M2,8; M2,5 Warga diminta tetap tenang. Info lengkap: https://bmkg.go.id
Comments (0)