Kopi FORE Siap Bagi Dividen Setelah Laba Ditahan Membaik

Berdasarkan data laporan keuangan PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) per kuartal III/2024, perusahaan mencatatkan saldo laba ditahan yang masih negatif. Kondisi ini menjadi faktor utama yang menghambat...

Aug 07, 2026 - 11:37
0 0
Kopi FORE Siap Bagi Dividen Setelah Laba Ditahan Membaik

Berdasarkan data laporan keuangan PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) per kuartal III/2024, perusahaan mencatatkan saldo laba ditahan yang masih negatif. Kondisi ini menjadi faktor utama yang menghambat pembagian dividen kepada para pemegang saham. Meski demikian, manajemen menegaskan komitmennya untuk membagikan dividen di masa depan seiring dengan perbaikan fundamental keuangan.

Saldo Laba Ditahan Negatif: Hambatan Teknis yang Jelas

Saldo laba ditahan (retained earnings) merupakan akumulasi laba bersih yang tidak dibagikan sebagai dividen dan digunakan untuk reinvestasi atau cadangan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per September 2024, saldo laba ditahan FORE tercatat minus Rp 87,5 miliar, mengalami penurunan dari posisi minus Rp 65,2 miliar pada akhir 2023. Artinya, perusahaan masih memiliki defisit akumulasi yang harus ditutup terlebih dahulu sebelum dapat membagikan dividen.

Menurut standar akuntansi keuangan, dividen hanya dapat dibayarkan jika saldo laba ditahan positif. Hal ini diatur dalam PSAK 23 tentang Pendapatan dan PSAK 46 tentang Pajak Penghasilan, yang mengharuskan perusahaan memiliki ekuitas yang cukup untuk melindungi kreditor. Dengan demikian, langkah FORE untuk menahan dividen merupakan kepatuhan terhadap regulasi, bukan sekadar kebijakan internal.

Pro dan Kontra: Antara Kepatuhan dan Harapan Investor

Di satu sisi, kebijakan menahan dividen dapat dipandang sebagai langkah prudent (hati-hati) untuk menjaga likuiditas dan memperkuat struktur modal. Dengan saldo laba negatif, pembagian dividen justru dapat memperbesar risiko kebangkrutan dan merusak kepercayaan kreditur. Di sisi lain, investor ritel yang mengandalkan dividen sebagai sumber pendapatan pasif merasa kecewa, terlebih saham FORE telah mengalami penurunan harga sebesar 12,4% year-on-year sejak awal 2024 hingga November 2024.

Pro: Manajemen FORE berkomitmen untuk membagikan dividen setelah laba ditahan positif. Direktur Utama FORE, dalam paparan publik yang digelar pada 28 November 2024, menyatakan bahwa target perbaikan laba ditahan dapat tercapai pada 2026, dengan asumsi pertumbuhan pendapatan double-digit dan efisiensi biaya operasional. Perusahaan juga berencana melakukan rights issue senilai Rp 200 miliar untuk memperkuat modal kerja dan mempercepat ekspansi gerai.

Kontra: Namun, analis pasar meragukan target tersebut. Berdasarkan proyeksi konsensus yang dihimpun dari 5 analis, FORE baru akan membukukan laba bersih positif pada 2025, dengan estimasi laba bersih Rp 15,2 miliar. Jika realisasi laba tersebut tercapai, saldo laba ditahan baru akan positif pada 2026, dengan catatan tidak ada kerugian besar di luar operasional. Sementara itu, beban bunga utang yang mencapai Rp 12,3 miliar per kuartal III/2024 dapat menggerus margin laba.

Proyeksi dan Strategi Ke Depan

Menilik tren fundamental, FORE mengalami kenaikan pendapatan sebesar 18,7% year-on-year menjadi Rp 412,6 miliar pada Januari-September 2024. Namun, beban pokok pendapatan juga naik 22,1%, sehingga laba kotor hanya tumbuh 9,3%. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) tercatat 1,8 kali, naik dari 1,3 kali pada akhir 2023, menunjukkan peningkatan leverage yang perlu diwaspadai.

Manajemen FORE berencana untuk melakukan efisiensi biaya dengan menutup 15 gerai yang tidak produktif dan fokus pada digitalisasi penjualan. Target margin EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) dinaikkan menjadi 15% pada 2025, dari 11,2% saat ini. Jika target ini tercapai, laba ditahan dapat membaik lebih cepat dari proyeksi.

"Komitmen kami jelas: dividen akan dibagikan ketika laba ditahan positif. Kami tidak ingin mengambil risiko yang merugikan pemegang saham jangka panjang," ujar Direktur Utama FORE dalam keterangan resmi.

Di sisi lain, sentimen pasar terhadap saham FORE masih tertekan oleh tingginya capital outflow di sektor konsumsi primer. Indeks sektor barang konsumsi non-primer (IDXHIDES) tercatat turun 7,8% year-to-date, sementara FORE turun 12,4%. Namun, valuasi saham FORE saat ini berada pada price-to-book value (PBV) 2,1 kali, lebih rendah dari rata-rata industri 3,4 kali, sehingga dinilai cukup menarik bagi investor jangka panjang.

Kesimpulannya, keputusan FORE untuk menunda dividen adalah langkah yang tepat secara akuntansi dan keuangan. Namun, investor perlu mencermati kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berkelanjutan. Dengan proyeksi perbaikan laba ditahan pada 2026, peluang pembagian dividen pertama kali akan menjadi katalis positif bagi harga saham. Meski demikian, risiko likuiditas dan leverage tetap menjadi variabel yang harus dipantau secara ketat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User