Berdasarkan proyeksi sektor ketenagalistrikan nasional, permintaan listrik Indonesia diperkirakan mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai 1.813 TWh pada tahun 2060. Angka tersebut jauh melampaui konsumsi listrik saat ini yang masih berada di kisaran ratusan TWh per tahun. Salah satu pendorong utama lonjakan ini adalah rencana konversi kompor berbahan bakar LPG menuju kompor induksi berbasis listrik, yang berjalan seiring dengan percepatan adopsi kendaraan listrik di dalam negeri.
Kebijakan konversi ini menambah beban baru pada sistem kelistrikan nasional. Dalam skenario paling agresif, kebutuhan pembangkit tambahan diperkirakan mencapai 53 GW hanya untuk mengakomodasi peralihan kompor LPG ke induksi. Angka 53 GW setara dengan lebih dari dua kali kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terbesar di Jawa saat ini. Bagi pembaca awam, gigawatt adalah satuan daya listrik; 1 GW mampu menyalakan sekitar 750 ribu rumah tangga secara bersamaan.
Di Satu Sisi: Efisiensi Energi dan Pengurangan Subsidi
Pemerintah memiliki alasan kuat mendorong elektrifikasi rumah tangga. Konsumsi LPG nasional, terutama tabung 3 kg bersubsidi, telah membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara struktural. Sepanjang satu dekade terakhir, volume impor LPG terus mengalami kenaikan year-on-year, sehingga memperbesar defisit neraca perdagangan migas. Dengan mengalihkan konsumsi ke listrik, pemerintah berpotensi menekan impor LPG dan menghemat devisa.
Dari perspektif efisiensi, kompor induksi memiliki rasio konversi energi yang lebih tinggi, yaitu sekitar 80-90 persen, dibandingkan kompor gas yang hanya 40-50 persen. Artinya, energi listrik yang sama dapat menghasilkan panas lebih efektif. Selain itu, biaya pokok penyediaan (BPP) listrik per kWh dari pembangkit batu bara dan energi terbarukan yang terus menurun membuat opsi ini secara fundamental lebih murah dalam jangka panjang.
Keunggulan lain adalah potensi pengurangan emisi karbon jika pembangkit listrik hijau dipercepat. Pemerintah menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 23 persen pada 2025 dan terus meningkat hingga 2060. Elektrifikasi kompor dan kendaraan menjadi instrumen penting untuk mendorong permintaan listrik bersih tersebut.
Di Sisi Lain: Beban Infrastruktur dan Daya Beli Masyarakat
Namun, kebijakan ini menghadapi tantangan besar dari sisi infrastruktur dan sosial ekonomi. Penambahan beban 53 GW menuntut pembangunan pembangkit baru, perluasan jaringan transmisi, serta penguatan gardu distribusi di tingkat rumah tangga. Sebagian besar rumah tangga di Jawa dan Sumatera masih memiliki daya tersambung 900 VA hingga 1.300 VA. Kompor induksi umumnya membutuhkan daya 1.200-2.200 watt per unit, sehingga rumah tangga harus menambah daya (upgrade) agar dapat beroperasi normal.
Biaya upgrade daya ini menjadi sentimen pasar yang sensitif. Jika dibebankan sepenuhnya kepada konsumen, daya beli kelompok menengah ke bawah bisa tergerus. Di sisi lain, APBN juga tidak bisa menanggung seluruh subsidi secara berkelanjutan. Rasio elektrifikasi nasional memang sudah mencapai 99 persen dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kualitas pasokan listrik di wilayah terpencil masih belum merata.
“Transisi energi rumah tangga tidak cukup hanya menyiapkan pembangkit, tetapi juga memastikan jaringan distribusi dan kemampuan bayar konsumen,” ujar seorang pengamat energi nasional dalam sebuah forum diskusi ketenagalistrikan.
Dari sisi likuiditas PLN sebagai operator utama, kebutuhan belanja modal (capital expenditure) untuk menambah 53 GW sangat besar. Ini berpotensi meningkatkan kebutuhan pendanaan, baik melalui penyertaan modal negara maupun utang multilateral. Jika tidak dikelola hati-hati, risiko capital outflow dan pelemahan nilai tukar bisa membayangi, mengingat sebagian komponen pembangkit masih diimpor.
Tren Kendaraan Listrik Memperkuat Proyeksi
Permintaan listrik hingga 1.813 TWh pada 2060 tidak hanya berasal dari kompor induksi. Adopsi kendaraan listrik (EV) menjadi penggerak utama lainnya. Jika target pemerintah tercapai, populasi kendaraan listrik akan menyerap daya dalam jumlah besar, terutama melalui pengisian daya pada malam hari di rumah. Kombinasi kompor induksi dan EV inilah yang membuat proyeksi permintaan listrik melonjak drastis dibandingkan tren historis.
Untuk mengimbangi hal itu, pemerintah perlu memperkuat jaringan interkoneksi antar-pulau, membangun smart grid, serta mendorong investasi pembangkit energi terbarukan berskala besar. Tanpa itu, transformasi ini berisiko menciptakan ketidakstabilan pasokan dan kenaikan biaya listrik yang justru membebani masyarakat.
Pada akhirnya, konversi dari kompor LPG ke listrik bukan sekadar urusan dapur. Ia menyangkut strategi energi nasional, fiskal, dan kesejahteraan rumah tangga. Peluang efisiensinya nyata, namun eksekusinya menuntut perencanaan infrastruktur yang matang serta perlindungan daya beli kelompok rentan. Keseimbangan antara ambisi transisi energi dan kesiapan fundamental ekonomi akan menentukan keberhasilan kebijakan ini hingga 2060.
Comments (0)