Kompolnas Ungkap Tiga Polisi Katingan Dibunuh Sebelum Dibuang ke Sungai
Kasus kematian tiga anggota Polres Katingan, Kalimantan Tengah, yang semula diduga akibat kecelakaan atau tenggelam, kini memasuki babak baru. Komisi Kepol
Kasus kematian tiga anggota Polres Katingan, Kalimantan Tengah, yang semula diduga akibat kecelakaan atau tenggelam, kini memasuki babak baru. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) mengungkap fakta mengejutkan: ketiga korban tewas akibat dibunuh terlebih dahulu sebelum jasad mereka dibuang ke sungai. Pengungkapan ini menjawab tabir gelap yang menyelimuti peristiwa nahas yang terjadi pada pertengahan Oktober 2025 tersebut.
Kronologi Hilangnya Tiga Personel
- 12 Oktober 2025 — Tiga anggota Polres Katingan, yakni Bripka AR (30), Bripda DS (27), dan Bripda FW (25), dilaporkan tidak kembali setelah bertugas melakukan patroli rutin di wilayah perairan Sungai Katingan. Mereka berangkat dengan satu perahu karet yang dilengkapi peralatan standar.
- 13 Oktober 2025 — Polres Katingan memulai pencarian dengan menyisir sungai dan hutan sekitar. Tidak ada sinyal komunikasi dari korban. Rekan sesama polisi mengaku terakhir berkomunikasi via radio pada pukul 21.00 WIB malam sebelumnya.
- 14-16 Oktober 2025 — Pencarian diperluas dengan melibatkan tim SAR, Basarnas, dan masyarakat setempat. Cuaca buruk dan derasnya arus sungai sempat menghambat upaya pencarian.
Penemuan Jasad di Sungai
Setelah lima hari pencarian, jasad ketiga anggota ditemukan secara terpisah di aliran Sungai Katingan, sekitar 20 kilometer dari titik terakhir mereka bertugas. Kondisi jasad yang mengenaskan segera memicu kecurigaan.
- 17 Oktober 2025 — Jasad Bripda DS ditemukan mengapung dalam kondisi membusuk oleh warga yang sedang mencari ikan. Tangan korban ditemukan dalam posisi terikat dengan tali plastik, namun detail ini awalnya tidak dipublikasikan.
- 18 Oktober 2025 — Jasad Bripda FW ditemukan tak jauh dari lokasi pertama, dengan luka lebam di bagian kepala dan leher yang mencurigakan.
- 19 Oktober 2025 — Jasad Bripka AR ditemukan dalam kondisi yang lebih mengenaskan: terdapat bekas tusukan di dada dan luka sayatan di pergelangan tangan. Penemuan ini memperkuat dugaan adanya tindak kekerasan sebelum kematian.
Otopsi dan Pengungkapan Fakta
Tim forensik dari Polda Kalimantan Tengah dan RSUD setempat melakukan otopsi terhadap ketiga jenazah. Hasil awal mengejutkan: tidak ditemukan tanda-tanda khas korban tenggelam, seperti air dalam paru-paru atau diatom di sumsum tulang. Sebaliknya, ditemukan cedera fatal yang konsisten dengan tindakan pembunuhan.
- 23 Oktober 2025 — Laporan forensik menyimpulkan bahwa ketiga korban meninggal akibat kekerasan tumpul dan tajam, bukan karena tenggelam. Luka di tubuh mereka menunjukkan adanya penganiayaan sebelum kematian.
- 24 Oktober 2025 — Kompolnas turun tangan setelah menerima laporan kejanggalan dari keluarga korban dan internal Polres. Tim investigasi independen dibentuk.
- 2 November 2025 — Kompolnas merilis temuan awal: korban dibunuh terlebih dahulu, kemudian jasad dibuang ke sungai untuk menghilangkan jejak.
Langkah Kompolnas dan Tindak Lanjut
Komisioner Kompolnas, Dr. Yusuf, menyatakan bahwa kasus ini menjadi perhatian serius mengingat keterlibatan oknum yang diduga dari institusi sendiri. "Kami menemukan indikasi kuat adanya perencanaan. Para korban diduga menjadi sasaran karena mengetahui sesuatu yang sensitif, kemungkinan terkait jaringan ilegal di wilayah tersebut," ujarnya dalam konferensi pers, 5 November 2025. Kompolnas mendesak Polda Kalteng untuk segera melakukan penyelidikan kriminal dan menahan pihak-pihak yang diduga terlibat.
- 10 November 2025 — Tim investigasi internal memeriksa rekaman komunikasi, log patroli, dan saksi-saksi. Dua orang rekan satu kesatuan diperiksa intensif.
- 15 November 2025 — Polda Kalteng menetapkan satu orang tersangka dari kalangan anggota Polri sendiri, meski identitasnya belum dipublikasikan. Tersangka diduga kuat terkait dengan jaringan ilegal yang tengah diusut oleh korban.
Kompolnas memastikan transparansi penuh dalam pengusutan kasus ini dan meminta masyarakat melaporkan informasi tambahan. Keluarga korban pun menyambut baik keterbukaan ini, meski masih dirundung duka dan trauma mendalam.
Comments (0)