Oct 13, 2026
Bisnis

Kolaborasi Pertamina dan MotoGP Mandalika 2026 Dorong Ekonomi NTB

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per kuartal IV 2025, sektor pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren positif dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Reg...

Kolaborasi Pertamina dan MotoGP Mandalika 2026 Dorong Ekonomi NTB

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per kuartal IV 2025, sektor pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren positif dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai 15,3 persen, naik dari 12,8 persen pada periode yang sama tahun 2024. Angka ini menjadi konteks penting ketika Pertamina menyatakan komitmennya mendukung penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 melalui kolaborasi lintas sektor.

Dalam keterangan resminya, Direktur Utama Pertamina menegaskan bahwa sinergi antara perusahaan energi pelat merah, penyelenggara sirkuit, pemerintah daerah, dan pelaku usaha lokal menjadi kunci menghadirkan ajang balap kelas dunia sekaligus memperluas manfaat ekonominya bagi masyarakat. Pernyataan ini muncul di tengah ekspektasi tinggi terhadap dampak berganda (multiplier effect) perhelatan tersebut.

Dampak Ekonomi: Antara Optimisme dan Realitas

Di satu sisi, proyeksi dampak ekonomi MotoGP Mandalika 2026 cukup menjanjikan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memperkirakan 120.000 hingga 150.000 penonton akan hadir, dengan 30 persen di antaranya merupakan wisatawan mancanegara. Dengan rata-rata pengeluaran wisatawan asing sebesar 1.200 dolar AS per kunjungan dan wisatawan domestik Rp3,5 juta, potensi devisa dan perputaran uang diperkirakan menembus Rp1,8 triliun.

Sektor akomodasi diproyeksikan mengalami kenaikan tingkat hunian (occupancy rate) hingga 92 persen selama periode balapan, jauh di atas rata-rata normal yang berkisar 58 persen. Pelaku UMKM, termasuk kuliner, kriya, dan transportasi lokal, turut merasakan sentimen pasar positif ini.

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa manfaat tersebut tidak selalu merata. Riset dari lembaga independen menunjukkan bahwa 40 persen pengeluaran wisatawan masih mengalir ke operator besar dan jaringan hotel nasional, sementara pelaku usaha mikro hanya menikmati 18 persen dari total belanja. Selain itu, biaya logistik dan likuiditas pelaku usaha kecil sering menjadi kendala saat lonjakan permintaan terjadi secara mendadak.

"Event internasional seperti MotoGP memberikan sentimen positif jangka pendek, tetapi fundamental ekonomi daerah tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur dan kapasitas sumber daya manusia. Tanpa itu, dampaknya bersifat musiman," ujar seorang analis ekonomi regional.

Peran Pertamina dan Stabilitas Pasokan Energi

Sebagai perusahaan energi, peran Pertamina dalam ajang ini tidak hanya simbolis. Kebutuhan bahan bakar selama periode balapan diperkirakan meningkat 25 hingga 30 persen dibandingkan konsumsi normal harian di kawasan Mandalika dan sekitarnya. Penyediaan avtur untuk penerbangan tambahan, serta bahan bakar kendaraan logistik dan tim balap, memerlukan perencanaan portofolio distribusi yang matang.

Pertamina menyatakan telah menyiapkan cadangan operasional dan memperkuat rantai pasok guna menjamin tidak terjadi gangguan pasokan. Langkah ini penting karena kelancaran logistik akan memengaruhi indeks kepuasan penyelenggara dan citra Indonesia di mata investor internasional.

Namun, dari kacamata fiskal, dukungan terhadap event berskala global ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai rasio biaya dan manfaat. Anggaran penyelenggaraan yang besar perlu dibandingkan dengan penerimaan pajak daerah, retribusi, dan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) pasca-event. Pada 2025, PAD NTB tercatat tumbuh 9,4 persen year-on-year, dan tahun 2026 diproyeksikan naik 12 persen jika momentum MotoGP terjaga.

Pro dan Kontra Keberlanjutan Event Internasional

Pro: Penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 memperkuat posisi Indonesia dalam peta wisata olahraga global, menciptakan lapangan kerja temporer bagi 8.000 hingga 10.000 tenaga kerja, dan mendorong investasi infrastruktur berkelanjutan seperti jalan akses, jaringan listrik, serta telekomunikasi.

Kontra: Ketergantungan pada event musiman berisiko menciptakan "pariwisata episodik" jika tidak diimbangi pengembangan destinasi lain. Selain itu, capital outflow dari pembayaran lisensi dan jasa internasional diperkirakan mencapai 20 hingga 25 persen dari total nilai transaksi, sehingga manfaat bersih bagi neraca pembayaran perlu dihitung cermat.

Dengan demikian, kolaborasi yang digaungkan Pertamina merupakan langkah awal. Keberhasilan sesungguhnya akan diukur dari kemampuan menjaga tren pertumbuhan, memperkuat fundamental ekonomi lokal, dan memastikan valuasi manfaat jangka panjang melampaui biaya penyelenggaraan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User