Sep 22, 2026
Bisnis

Kolaborasi Multisektor Dorong Aksi Nyata Indonesia Lebih Hijau 2026

Upaya membangun Indonesia yang lebih lestari tidak dapat bertumpu pada satu aktor tunggal. Pemerintah, sektor industri, dan masyarakat harus bergerak dalam irama yang selaras. Hal ini menjadi benang m...

Kolaborasi Multisektor Dorong Aksi Nyata Indonesia Lebih Hijau 2026

Upaya membangun Indonesia yang lebih lestari tidak dapat bertumpu pada satu aktor tunggal. Pemerintah, sektor industri, dan masyarakat harus bergerak dalam irama yang selaras. Hal ini menjadi benang merah dalam agenda Gerak Hijau 2026, yang menekankan bahwa transisi menuju ekonomi rendah karbon memerlukan partisipasi aktif dari seluruh lapisan. Dari level tapak seperti tempat pengolahan sampah berbasis komunitas hingga strategi besar korporasi nasional dalam menekan emisi karbon, seluruh elemen mulai menunjukkan komitmen yang lebih konkret.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Hendropriyono, dalam kunjungannya ke Tempat Pengolahan Sampah – Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Sapuh Jagad di Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, menyampaikan bahwa kunci keberhasilan pengelolaan lingkungan ada pada jam kerja di lapangan, bukan sekadar di meja rapat. Fasilitas TPS 3R menjadi contoh bagaimana komunitas desa mampu mengubah limbah rumah tangga menjadi komoditas bernilai ekonomi sekaligus mengurangi beban lingkungan. Model seperti ini, menurut Diaz, perlu direplikasi di ribuan desa lain di seluruh Indonesia karena pendekatan teknokratis tanpa dukungan akar rumput sering kali hanya menghasilkan kebijakan yang mandul di atas kertas.

Komunitas sebagai Ujung Tombak Pengelolaan Sampah

Keberadaan TPS 3R Sapuh Jagad merepresentasikan sebuah pendekatan sirkular di tingkat lokal. Di fasilitas tersebut, sampah organik diolah menjadi kompos, sementara material anorganik seperti plastik dan logam dipilah untuk didaur ulang atau dijual kembali ke rantai pasok industri daur ulang. Residu yang benar-benar tidak bisa dimanfaatkan pun jumlahnya berkurang secara drastis, sehingga tekanan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA) dapat diminimalkan. Model ini tidak hanya mengurangi emisi metana dari tumpukan sampah terbuka, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor informal pengelolaan limbah.

Dalam konteks ini, kolaborasi bukan sekadar slogan. Pemerintah pusat dan daerah berperan memberikan dukungan regulasi dan pendanaan awal, sementara masyarakat menjadi operator aktif yang memastikan sistem berjalan secara berkelanjutan. Sinergi semacam ini juga memperkuat ketahanan lingkungan di tingkat lokal, terutama di daerah seperti Bali yang sektor pariwisatanya sangat bergantung pada citra kebersihan dan keindahan alam. Jika pengelolaan sampah berbasis komunitas diperkuat, dampaknya akan langsung terasa pada kualitas air tanah, kebersihan sungai, serta kesehatan masyarakat setempat.

Industri Nasional Ambil Peran dalam Agenda Dekarbonisasi

Di sisi lain, tanggung jawab menurunkan emisi karbon tidak bisa hanya dibebankan kepada rumah tangga. Sektor industri, terutama yang bergerak di bidang ekstraktif dan pengolahan mineral, memegang porsi signifikan dalam jejak karbon nasional. PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), sebagai bagian dari holding BUMN pertambangan, menyatakan komitmennya terhadap agenda dekarbonisasi serta pengarusutamaan prinsip keberlanjutan dalam seluruh lini bisnisnya. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui sejumlah inisiatif, antara lain peningkatan efisiensi energi pada fasilitas pengolahan, transisi bertahap menuju penggunaan energi baru terbarukan dalam operasional tambang, serta penerapan teknologi pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, perusahaan juga mulai menghitung dan melaporkan emisi Cakupan 1, 2, dan 3 secara transparan sebagai bagian dari tata kelola lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan atau ESG. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa korporasi pelat merah mulai mengintegrasikan risiko iklim ke dalam perencanaan bisnis jangka panjang mereka.

Dari Bali untuk Indonesia: Masa Depan Ekonomi Sirkular

Gerak Hijau 2026 sesungguhnya merupakan penanda bahwa pendekatan lingkungan di Indonesia sedang bertransformasi dari yang bersifat reaktif menjadi preventif dan terstruktur. Pengelolaan sampah di tingkat desa seperti di Badung menunjukkan bahwa solusi paling efektif kerap muncul dari inisiatif lokal yang kemudian diperkuat oleh kebijakan top-down. Sementara itu, langkah perusahaan besar seperti ANTAM membuktikan bahwa keberlanjutan tidak lagi dipandang sebagai beban biaya, melainkan sebagai peluang untuk menciptakan model bisnis yang lebih tangguh di tengah perubahan iklim dan tuntutan pasar global yang semakin hijau.

Pada akhirnya, narasi besar Indonesia hijau harus diterjemahkan menjadi aksi-aksi kecil yang terhubung satu sama lain. Apakah itu berupa ibu rumah tangga yang mulai memilah sampah di dapurnya, kelompok swadaya masyarakat yang mengoperasikan TPS 3R, hingga direksi perusahaan yang mengalokasikan belanja modal untuk teknologi bersih. Semua memiliki mata rantai yang saling mengunci. Jika setiap simpul bergerak secara disiplin, maka lompatan menuju Indonesia yang lebih hijau bukanlah utopia, melainkan sebuah destinasi yang sepenuhnya dapat diraih.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User