Sayat, pria berusia 72 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai marbot di sebuah masjid di Magelang, kini harus membiasakan diri dengan status barunya: miliarder. Pria sederhana itu baru saja memenangi undian berhadiah senilai Rp 1 miliar, sebuah jumlah yang jauh melampaui penghasilannya yang selama ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok. Kemenangan itu datang begitu mendadak, mengubah nasibnya dalam sekejap. "Saya tidak pernah bermimpi punya uang sebanyak itu," ujarnya saat ditemui di kediamannya yang masih sangat sederhana.
Hadiah fantastis tersebut berasal dari salah satu program undian nasional yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan ritel besar. Sayat mengaku hanya iseng membeli produk dan mengirimkan nomor kupon yang ia dapat. Ia tidak menyangka bahwa keberuntungan akan berpihak padanya, seorang marbot yang selama lebih dari dua dekade mengabdi di masjid tanpa pamrih. Kesehariannya diisi dengan menyapu halaman masjid, mengepel lantai, menjaga kebersihan tempat wudu, hingga kadang menjadi muazin saat azan berkumandang.
Sosok Sederhana di Balik Kemenangan
Sayat telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Masjid Nurul Iman di wilayah Magelang. Selama 24 tahun, ia bangun sebelum subuh untuk membuka pintu masjid, menyalakan lampu, dan memastikan seluruh sudut tempat ibadah itu bersih dan nyaman. Gajinya tidak besar—sekitar Rp800 ribu per bulan, ditambah sumbangan sukarela dari jemaah. Namun, pria yang sudah menjanda ini tidak pernah mengeluh. Ia menganggap pekerjaannya sebagai pengabdian, bukan sekadar mata pencaharian. "Saya hanya ingin meninggal dalam keadaan masih menjaga rumah Allah," katanya lirih.
Penampilannya jauh dari kesan mewah. Pakaian yang dikenakan sering kali merupakan pemberian warga sekitar. Rumah panggung kecil yang ia tinggali hanya berisi satu dipan, lemari kayu lapuk, dan peralatan dapur yang apa adanya. Ketika berita kemenangannya tersebar, banyak tetangga yang terkejut. "Orangnya pendiam, tidak pernah kelihatan beli barang aneh-aneh," kata seorang warga yang sudah lama mengenalnya.
Detik-detik Pengumuman dan Reaksi Tak Terduga
Pengumuman kemenangan disampaikan langsung oleh panitia undian yang mendatangi masjid tempat Sayat bekerja. Awalnya, ia mengira ada jemaah yang ingin memberikan sedekah. Namun, ketika dijelaskan bahwa ia memenangi hadiah Rp 1 miliar bersih setelah potongan pajak, lelaki tua itu hanya terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Saya kira ini mimpi. Tadi malam saya memang berdoa agar diberi rezeki untuk perbaiki masjid, tapi tidak menyangka Allah jawab secepat ini," ungkapnya.
Sayat bukan orang yang akrab dengan teknologi atau informasi keuangan. Ia bahkan tidak memiliki rekening bank pribadi. Panitia harus mendampinginya untuk membuka rekening baru agar dana bisa ditransfer. Proses itu menjadi pemandangan mengharukan: seorang kakek tua yang gemetar menandatangani formulir, sambil sesekali bertanya apakah benar uang sebanyak itu bisa dimasukkannya ke tabungan.
Rencana Penggunaan Dana: Masjid dan Masa Tua
Berbeda dengan kebanyakan pemenang undian yang langsung tergoda membeli barang mewah, Sayat justru mengutarakan rencana yang sangat sederhana namun mulia. Prioritas utamanya adalah merenovasi masjid yang selama ini ia rawat dengan perabotan seadanya. Lantai masjid yang mulai retak, atap yang bocor di beberapa titik, serta tempat wudu yang kurang layak akan segera diperbaiki. Ia menganggarkan sekitar Rp 400 juta untuk keperluan tersebut. "Selama ini saya hanya bisa membersihkan, tapi tidak bisa memperbaiki yang rusak. Sekarang Allah titipkan dana, jadi amanah," ujarnya.
Sisanya, sekitar Rp 600 juta, akan ia gunakan untuk memperbaiki rumahnya dan menyisihkan dana pensiun. Sebagian kecil juga ia niatkan untuk membantu kerabatnya yang membutuhkan. Sayat tidak memiliki anak, sehingga ia berencana menunjuk pengurus masjid sebagai pengelola dana tersebut agar tetap digunakan untuk kebaikan jika suatu saat ia tiada. Keputusan ini diambil setelah ia berkonsultasi dengan tokoh agama setempat.
Respons Masyarakat dan Pelajaran Berharga
Kisah Sayat segera menjadi perbincangan hangat. Banyak warga yang mengaku terinspirasi oleh ketulusannya. Di media sosial, cerita ini menyebar luas dengan berbagai komentar positif. "Ini bukti bahwa rezeki bisa datang dari arah yang tidak disangka-sangka, dan justru jatuh kepada orang yang tidak pernah mengejar dunia," tulis seorang pengguna. Beberapa pihak juga mengingatkan agar Sayat mendapatkan pendampingan keuangan agar uangnya tidak habis sia-sia atau dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab. Pemerintah desa setempat bahkan menawarkan bantuan konsultasi gratis.
Menurut pengamat sosial, kasus ini mencerminkan ketimpangan akses terhadap layanan keuangan di kalangan lansia pedesaan. "Banyak lansia seperti Sayat yang tiba-tiba menerima dana besar tetapi tidak memiliki literasi keuangan memadai. Diperlukan sinergi antara sektor perbankan, pemerintah, dan tokoh masyarakat untuk memberikan pendampingan," ujar Dr. Lestari, sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, dalam sebuah wawancara terpisah. Pernyataan ini menyoroti pentingnya edukasi keuangan bagi penerima rejeki nomplok, terutama dari segmen marjinal.
Sayat sendiri tetap tenang menghadapi perubahan statusnya. Ia masih setiap hari ke masjid, meski kini ada beberapa pekerja tambahan yang mulai membantu tugasnya. "Saya tetap marbot. Tidak ada yang berubah, hanya sekarang saya bisa bantu lebih banyak," katanya. Bagi warga sekitar, Sayat bukan sekadar miliarder baru, tetapi simbol bahwa kesederhanaan dan keikhlasan kadang berbuah manis dalam bentuk yang paling tidak terduga. Kini, di usianya yang senja, pria itu tidak hanya mendapat uang, tetapi juga pengakuan dan kehangatan dari lingkungan yang semakin menyayanginya.
Comments (0)