Kisah Augusta de Wit dan Pertemuannya dengan Kuntilanak di Jawa

Dunia supranatural Nusantara telah lama memikat perhatian para pendatang dari Eropa, termasuk pada masa kolonial Hindia Belanda. Salah satu kisah yang hingga kini masih diperbincangkan adalah pengalam...

Aug 08, 2026 - 10:39
0 0
Kisah Augusta de Wit dan Pertemuannya dengan Kuntilanak di Jawa

Dunia supranatural Nusantara telah lama memikat perhatian para pendatang dari Eropa, termasuk pada masa kolonial Hindia Belanda. Salah satu kisah yang hingga kini masih diperbincangkan adalah pengalaman Augusta de Wit, seorang penulis berkebangsaan Belanda yang mengaku berjumpa dengan sosok kuntilanak di Pulau Jawa pada akhir abad ke-19.

Tidak seperti kebanyakan orang Eropa pada zamannya yang cenderung menertawakan kepercayaan lokal, reaksi de Wit terbilang mengejutkan. Alih-alih lari ketakutan atau menolak mentah-mentah apa yang dilihatnya, ia justru mencatat pengalaman itu dengan tenang dan penuh rasa ingin tahu dalam karya-karya tulisnya.

Sosok Augusta de Wit: Penulis yang Jatuh Cinta pada Jawa

Augusta de Wit lahir di Sumatra pada tahun 1864 dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di Hindia Belanda. Berbeda dengan pejabat kolonial kebanyakan, ia dikenal sebagai pengamat budaya yang tekun. Ia mempelajari bahasa Jawa, bergaul dengan masyarakat lokal, dan menulis berbagai esai serta cerita tentang kehidupan di Jawa.

Karyanya yang paling dikenal, Java: Facts and Fancies yang terbit pada 1905, memuat berbagai catatan tentang adat, kepercayaan, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Dalam buku itulah ia menuturkan berbagai kisah tentang dunia gaib Jawa, termasuk pengalamannya dengan makhluk halus yang oleh masyarakat setempat disebut kuntilanak.

Kronologi Pertemuan yang Mengejutkan

Menurut penuturannya, peristiwa itu terjadi pada malam hari di sebuah kawasan di Jawa. Ia mendengar suara tangisan perempuan yang melengking dari kejauhan — ciri khas yang oleh warga lokal selalu dikaitkan dengan kehadiran kuntilanak. Tidak berselang lama, ia mengaku melihat sosok berpakaian putih dengan rambut panjang tergerai di antara pepohonan.

Yang membuat kisah ini menarik adalah reaksinya. Bukannya panik, de Wit justru berdiri memperhatikan dengan saksama. Ia menggambarkan sosok itu dengan detail: gaun putih panjang, wajah pucat, dan tawa yang bergema di keheningan malam. Setelah sosok itu menghilang, ia malah bertanya kepada penduduk setempat tentang makna dan cerita di balik penampakan tersebut.

Sikapnya ini mencerminkan pendekatan seorang peneliti budaya: bukan menghakimi, melainkan berusaha memahami kepercayaan masyarakat yang menjadi tuan rumahnya. Bagi seorang Eropa di era kolonial, sikap semacam itu tergolong langka.

Dua Sudut Pandang: Antara Kepercayaan dan Rasionalitas

Di satu sisi, bagi masyarakat Jawa pada masa itu — dan sebagian hingga kini — kisah de Wit dianggap sebagai bukti bahwa dunia gaib tidak mengenal batas kewarganegaraan. Kuntilanak, yang dalam kepercayaan lokal merupakan arwah perempuan yang meninggal saat hamil atau melahirkan, dipercaya dapat menampakkan diri kepada siapa saja, termasuk orang asing yang datang dari benua lain.

Di sisi lain, para skeptis menilai pengalaman tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah. Suara tangisan di malam hari bisa saja berasal dari burung hantu atau hewan malam lainnya. Sosok putih di antara pepohonan mungkin merupakan ilusi optik akibat pencahayaan remang-remang, kelelahan, atau sugesti setelah mendengar cerita-cerita lokal. Fenomena ini dalam psikologi dikenal sebagai pareidolia, yaitu kecenderungan otak manusia mengenali pola atau sosok tertentu dari stimulus yang samar.

Ada pula kemungkinan ketiga: de Wit, sebagai penulis, sengaja mengolah pengalamannya agar lebih dramatis demi menarik minat pembaca Eropa yang kala itu tergila-gila pada kisah-kisah eksotis dari wilayah Timur.

Jejak Kuntilanak dalam Lintas Budaya

Terlepas dari benar tidaknya, catatan de Wit memiliki nilai historis yang signifikan. Tulisannya menjadi salah satu dokumen tertua yang menunjukkan bagaimana figur kuntilanak telah mengakar kuat dalam budaya Jawa sejak lebih dari seabad silam. Kisah serupa kemudian muncul dalam berbagai catatan kolonial lainnya, membuktikan bahwa hantu perempuan berambut panjang ini memang menduduki tempat istimewa dalam khazanah cerita rakyat Nusantara.

Kini, kuntilanak telah menjelma menjadi ikon budaya pop, mulai dari film layar lebar, sinetron, hingga gim video. Cerita dari seorang perempuan Belanda lebih dari 120 tahun lalu itu turut menjadi bagian dari panjangnya riwayat sang hantu dalam imajinasi kolektif masyarakat Indonesia.

Kisah Augusta de Wit pada akhirnya mengingatkan bahwa misteri dan rasa ingin tahu adalah bahasa universal. Baik percaya maupun tidak, cerita semacam ini tetap layak dicatat sebagai bagian dari warisan budaya yang memperkaya sejarah Nusantara dan memperlihatkan bagaimana dua dunia yang berbeda pernah bertemu di tanah Jawa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User