Oct 09, 2026
Bisnis

Ketua LPS Paparkan Strategi Ketangguhan Finansial bagi Generasi Muda Lampung

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per awal 2025, tingkat simpanan yang dijamin di perbankan nasional terus menunjukkan tren positif seiring pemulihan ekonomi pascapandemi. Dalam sebuah ...

Ketua LPS Paparkan Strategi Ketangguhan Finansial bagi Generasi Muda Lampung

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per awal 2025, tingkat simpanan yang dijamin di perbankan nasional terus menunjukkan tren positif seiring pemulihan ekonomi pascapandemi. Dalam sebuah forum literasi keuangan di Lampung, Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya ketangguhan finansial dan pembelajaran berkelanjutan bagi generasi muda. Acara yang bertajuk Lampung Financial Festival ini menjadi ajang berbagi wawasan bagi ratusan peserta muda yang hadir dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga pelaku usaha rintisan.

Fundamental Ketangguhan dalam Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi

Dalam paparannya, Anggito menekankan bahwa ketangguhan bukan sekadar kemampuan bertahan, melainkan kapasitas untuk beradaptasi terhadap perubahan kondisi makroekonomi. Menurutnya, pemahaman terhadap fundamental ekonomi menjadi kunci utama bagi generasi muda yang ingin membangun portofolio keuangan yang sehat. Ia menjelaskan bahwa likuiditas, rasio kecukupan modal, dan valuasi aset merupakan tiga pilar yang harus dipahami sebelum mengambil keputusan finansial.

"Ketangguhan itu dibangun dari kebiasaan kecil yang konsisten, bukan dari keberuntungan sesaat. Anak muda harus memahami siklus ekonomi agar tidak terjebak pada sentimen pasar jangka pendek," ujar Anggito dalam sesi dialog interaktif tersebut.

Ia juga menyoroti pentingnya literasi terhadap produk keuangan yang semakin beragam. Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), indeks literasi keuangan nasional mengalami kenaikan dari 38,03 persen pada 2019 menjadi 65,43 persen pada 2023. Meski demikian, masih terdapat kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan, terutama di kalangan usia produktif di daerah.

Dua Perspektif: Peluang dan Tantangan bagi Generasi Muda

Di satu sisi, generasi muda saat ini memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap instrumen investasi dibandingkan satu dekade lalu. Digitalisasi perbankan dan pasar modal membuka peluang partisipasi yang lebih inklusif. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor pasar modal domestik mengalami kenaikan year-on-year, dengan dominasi kelompok usia di bawah 40 tahun yang mencapai lebih dari 55 persen dari total single investor identification (SID).

Di sisi lain, peningkatan partisipasi tersebut tidak selalu diiringi dengan pemahaman risiko yang memadai. Fenomena capital outflow akibat gejolak global, misalnya, sering kali memicu kepanikan investor ritel yang berujung pada keputusan jual berlebihan. Anggito mengingatkan bahwa volatilitas adalah bagian alami dari pasar, dan yang terpenting adalah bagaimana menyiapkan bantalan likuiditas serta diversifikasi portofolio.

Pro: akses informasi yang terbuka dan biaya transaksi yang semakin rendah memungkinkan generasi muda membangun kekayaan sejak dini. Kontra: tanpa disiplin dan pengetahuan yang cukup, risiko kerugian justru meningkat, terutama pada instrumen spekulatif yang menawarkan imbal hasil tidak wajar.

Pelajaran dari Krisis dan Proyeksi ke Depan

Dalam sesi tersebut, Anggito juga membagikan pengalaman historis mengenai bagaimana krisis keuangan 1998 dan 2008 memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya manajemen risiko. Ia menekankan bahwa pembelajaran tidak berhenti pada teori, melainkan harus dipraktikkan melalui kebiasaan menabung, mencatat arus kas, dan memahami profil risiko pribadi.

Menurut proyeksi Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 diperkirakan berada pada kisaran 4,8 hingga 5,6 persen, dengan risiko eksternal yang masih membayangi. Dalam konteks ini, ketangguhan finansial individu menjadi bagian tak terpisahkan dari stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Generasi muda yang memiliki fundamental kuat akan lebih siap menghadapi berbagai skenario, termasuk potensi tekanan pada nilai tukar dan suku bunga.

Anggito menutup paparannya dengan pesan bahwa keberhasilan finansial bukanlah hasil instan, melainkan akumulasi dari disiplin, kerja keras, dan kemauan untuk terus belajar. Baginya, generasi muda Lampung dan Indonesia secara luas memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi, asalkan dibekali dengan pengetahuan yang tepat dan mentalitas yang tangguh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User