Kemenperin Dukung Kepemimpinan Maulana Wiga di STARFINDO

Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia memberikan dukungan penuh atas terpilihnya Maulana Wiga sebagai Ketua Umum Asosiasi Startup Transformasi Industri Indonesia atau STARFINDO untuk masa bakti 2026–2029. Dukungan ini me

Jul 07, 2026 - 19:45
0 0
Kemenperin Dukung Kepemimpinan Maulana Wiga di STARFINDO

Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia memberikan dukungan penuh atas terpilihnya Maulana Wiga sebagai Ketua Umum Asosiasi Startup Transformasi Industri Indonesia atau STARFINDO untuk masa bakti 2026–2029. Dukungan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah serius menjadikan ekosistem startup berbasis teknologi sebagai motor penggerak utama dalam agenda transformasi dan peningkatan daya saing industri nasional. Terpilihnya Wiga melalui proses musyawarah nasional yang berlangsung di Jakarta pada awal pekan ini tidak hanya mencerminkan kepercayaan anggota, tetapi juga membuka babak baru bagi asosiasi yang selama ini menjadi mitra strategis Kemenperin dalam membina dan menghubungkan perusahaan rintisan dengan sektor industri mapan.

STARFINDO dibentuk pada tahun 2021 sebagai respons atas kebutuhan akan platform kolaboratif yang dapat menjembatani startup teknologi dengan pelaku industri besar. Sejak awal, Kemenperin menempatkan asosiasi ini sebagai ujung tombak dalam program Making Indonesia 4.0, peta jalan nasional menuju era industri digital. Saat ini, STARFINDO menaungi lebih dari 180 anggota startup yang bergerak di berbagai subsektor mulai dari manufaktur cerdas, logistik terintegrasi, agroteknologi, hingga solusi kecerdasan buatan (AI) untuk optimasi rantai pasok. Kehadiran asosiasi ini dipandang semakin krusial di tengah perubahan lanskap global yang dipicu oleh disrupsi AI generatif, perang dagang, dan rekonfigurasi rantai pasok dunia. Dalam konteks tersebut, startup Indonesia tidak lagi cukup hanya menjadi pengadopsi teknologi asing, melainkan harus mampu menjadi pencipta inovasi yang memperkuat fondasi industri dalam negeri.

Maulana Wiga bukanlah sosok asing dalam ekosistem startup dan industri Indonesia. Sebelum terpilih, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum STARFINDO bidang Kemitraan Industri dan telah memprakarsai lebih dari 40 proyek kolaborasi antara startup anggota dengan perusahaan manufaktur nasional. Rekam jejaknya sebagai pendiri dan mantan CEO sebuah startup penyedia solusi pemeliharaan prediktif berbasis AI untuk pabrik-pabrik di Jawa dan Sumatera memberinya pemahaman langsung tentang tantangan yang dihadapi startup dalam menembus pasar industri tradisional. Pendidikan tekniknya dari Institut Teknologi Bandung serta pengalamannya memimpin ekspansi bisnis ke tiga negara Asia Tenggara memberikan perspektif global yang dibutuhkan untuk membawa STARFINDO ke tingkat berikutnya. “Saya memahami betul betapa sulitnya meyakinkan pabrik besar untuk mengadopsi teknologi buatan dalam negeri. Pengalaman itulah yang akan saya bawa untuk merancang program yang benar-benar menjawab kebutuhan anggota,” ujarnya.

Industri startup Indonesia saat ini berada dalam fase transisi yang penuh tantangan sekaligus peluang. Data terbaru dari laporan e-Conomy SEA 2025 menunjukkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia mencapai 130 miliar dolar AS, namun proporsi startup yang benar-benar berhasil menembus sektor industri masih relatif kecil dibandingkan mereka yang bermain di layanan konsumen. Ketatnya likuiditas global pasca era suku bunga rendah juga telah menggeser fokus investor dari pertumbuhan agresif menuju profitabilitas dan dampak nyata. Di sisi lain, kebijakan pemerintah mulai dari insentif fiskal untuk riset dan pengembangan hingga pembangunan kawasan industri hijau membuka ruang besar bagi startup yang mampu menghadirkan solusi efisiensi energi, otomatisasi, dan dekarbonisasi. Di sinilah STARFINDO di bawah kepemimpinan Wiga diharapkan mampu menjadi katalis yang mengarahkan talenta-talenta teknologi Indonesia untuk menjawab kebutuhan riil industri.

Dalam pidato perdananya, Wiga menegaskan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi pemerintah-swasta yang selama ini menjadi fondasi STARFINDO. “Kami ingin startup Indonesia bukan hanya menjadi pemasok teknologi kelas dua, melainkan pencipta inovasi yang memberi nilai tambah bagi industri nasional. Untuk itu, akses terhadap pendanaan, bimbingan teknis, dan yang terutama adalah jembatan menuju calon pengguna di sektor industri harus diperlebar dan dipercepat,” tegasnya. Wiga juga menyoroti pentingnya konsorsium riset terapan yang melibatkan startup, universitas, dan perusahaan industri besar sebagai salah satu terobosan yang akan ia dorong. Langkah ini sejalan dengan arahan Kemenperin yang terus mendorong hilirisasi inovasi agar manfaatnya langsung dirasakan oleh sektor manufaktur.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin, yang hadir mewakili Menteri Perindustrian dalam acara serah terima jabatan, menyatakan optimismenya terhadap kepemimpinan baru ini. “Kami menaruh harapan besar pada Maulana Wiga dan kepengurusan STARFINDO yang baru. Dengan pengalaman dan jaringannya, kami yakin asosiasi ini akan semakin berperan sebagai mitra utama pemerintah dalam mencetak startup industri yang tangguh, berdaya saing global, dan mampu mengisi rantai pasok strategis nasional,” ujarnya. Pejabat tersebut juga menambahkan bahwa Kemenperin tengah menyiapkan skema pendanaan khusus melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir yang akan disalurkan kepada startup anggota STARFINDO yang lolos kurasi, sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur permodalan perusahaan rintisan sektor industri.

Program pengembangan startup yang akan diperkuat oleh kepengurusan baru meliputi tiga pilar utama. Pertama, perluasan akses pendanaan melalui kemitraan dengan modal ventura, perbankan, dan dana abadi industri yang dikelola pemerintah. Kedua, percepatan inkubasi teknologi yang menitikberatkan pada validasi pasar, standarisasi produk, dan sertifikasi yang diperlukan agar produk startup dapat diterima di rantai pasok manufaktur besar. Ketiga, fasilitasi kemitraan dengan industri besar nasional dan global melalui program business matching, pameran teknologi, dan pilot project bersama. Wiga menargetkan setidaknya 30 startup anggota baru dapat bermitra dengan perusahaan industri dalam dua tahun pertama kepemimpinannya.

Dampak dari penguatan kolaborasi ini diproyeksikan mampu mempercepat laju adopsi teknologi industri dalam negeri. Saat ini, menurut data Kemenperin, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk perangkat lunak dan solusi digital di sektor manufaktur masih di bawah 40 persen, sebuah celah besar yang seharusnya bisa diisi oleh startup lokal. Jika STARFINDO berhasil meningkatkan kapasitas dan kredibilitas anggotanya, maka selain menghemat devisa melalui substitusi impor teknologi, Indonesia juga berpeluang menjadi pengekspor solusi industri 4.0 ke pasar negara berkembang lainnya. Dalam jangka panjang, ekosistem startup industri yang matang akan menjadi pilar kedaulatan teknologi nasional di tengah persaingan geopolitik yang semakin dipicu oleh penguasaan AI dan standardisasi teknologi global.

Namun, jalan menuju visi tersebut tidaklah mudah. Tantangan berupa minimnya ekosistem manufaktur yang terbuka terhadap eksperimen, persyaratan kepatuhan yang kompleks, serta persepsi bahwa solusi lokal kurang matang dibandingkan produk dari pemasok global masih menjadi hambatan yang harus dilampaui. Dalam hal ini, peran Kemenperin sebagai regulator dan fasilitator akan sangat menentukan. Dukungan kebijakan seperti kewajiban alih teknologi, preferensi pengadaan untuk produk dalam negeri di sektor industri strategis, serta insentif bagi perusahaan yang melakukan co-development dengan startup lokal akan menjadi kunci. Kepemimpinan Wiga, dengan pendekatan yang realistis dan berbasis pengalaman lapangan, diharapkan mampu menerjemahkan dukungan kebijakan tersebut menjadi hasil yang konkret.

Secara keseluruhan, terpilihnya Maulana Wiga sebagai Ketua Umum STARFINDO periode 2026–2029 menandai fase penting dalam upaya sinergis pemerintah dan swasta untuk membangun fondasi industri nasional berbasis inovasi. Dengan memadukan semangat kewirausahaan teknologi yang tinggi, dukungan kebijakan yang terarah, dan fokus pada kemitraan praktis, STARFINDO di bawah nakhoda baru ini diproyeksikan akan semakin berperan sebagai katalisator transformasi industri Indonesia menuju era industri pintar yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User