KARAWANG — Prabowo Blak-blakan Sebut Ada Pihak Ingin Indonesia Kolaps
Di bawah terik matahari kawasan industri Karawang, Presiden Prabowo Subianto berdiri di depan jajaran menteri dan pekerja pabrik pengolahan biodiesel. Suas
Di bawah terik matahari kawasan industri Karawang, Presiden Prabowo Subianto berdiri di depan jajaran menteri dan pekerja pabrik pengolahan biodiesel. Suasana semula dipenuhi optimisme saat ia hendak meresmikan program strategis B50—campuran 50 persen minyak sawit dalam solar yang diharapkan menjadi tonggak kemandirian energi nasional. Namun, di tengah pidato yang membahas lompatan teknologi itu, nada bicara presiden tiba-tiba berubah serius. Ia menyampaikan sebuah pengakuan yang mengejutkan: masih ada kekuatan yang justru menginginkan Indonesia jatuh.
“Saya ingin jujur kepada rakyat Indonesia. Ada pihak-pihak, mungkin dari luar, mungkin juga dari dalam, yang duduk santai sambil berharap negara ini kolaps. Mereka tidak ingin kita berhasil, mereka tidak ingin kita mandiri,” ucapnya dengan intonasi tegas. Sambutan yang awalnya ramai bertepuk tangan langsung hening seketika. Pesan itu bukan hanya peringatan politik, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang perjalanan bangsa yang masih dibayangi skeptisisme.
Peringatan di Tengah Peresmian B50: Antara Energi dan Kedaulatan
Presiden menghubungkan peringatan itu langsung dengan proyek biodiesel B50 yang baru saja diresmikan di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Kamis (9/7/2026). Menurutnya, keberhasilan program ini tidak hanya soal menekan impor solar, tetapi juga soal membuktikan bahwa Indonesia mampu keluar dari ketergantungan. Namun, justru di titik itulah, pihak-pihak yang sejak awal meragukan dan mengkritik tajam program biodiesel seolah berharap kegagalan.
“Setiap ada kemajuan, ada saja yang menyebarkan keraguan, membuat analisis bahwa kita akan gagal. Mereka pikir minyak sawit tidak bisa, pikir kita cuma bisa jadi penonton. Ketika kita buktikan bisa, mereka tetap mencari-cari alasan untuk menjatuhkan,” papar Prabowo. Pernyataan ini sekaligus menjadi tamparan bagi narasi pesimistis yang sempat menyeruak di kalangan analis energi.
Di sekitar lokasi peresmian, para petani sawit yang diundang mengangguk-angguk mendengar pidato tersebut. Sawit, yang kerap menjadi bulan-bulanan kampanye lingkungan global, kini menjadi wajah ketahanan energi. Bagi mereka, kata “kolaps” bukan isapan jempol—harga sawit yang anjlok beberapa tahun lalu pernah membuat ekonomi desa nyaris lumpuh. Kehadiran B50 menjadi harapan sekaligus benteng dari fluktuasi pasar dunia.
Kewaspadaan sebagai Kunci Ketahanan Nasional
“Kita tidak boleh lengah. Bangsa yang besar harus waspada. Jangan sampai karena kita terlalu percaya, tiba-tiba kita sudah di ambang kehancuran. Saya sudah melihat pola ini di banyak negara,” tegas Prabowo.
Prabowo tidak menyebut nama atau entitas spesifik, tetapi ia berulang kali menggunakan frasa “pihak-pihak” yang mengindikasikan adanya aktor tak kasat mata. Beberapa pengamat politik yang hadir di lokasi menduga pernyataan ini merujuk pada kombinasi tekanan geopolitik dan kepentingan asing yang tidak ingin Indonesia menjadi pemain mandiri di panggung global, khususnya dalam transisi energi. Pidato itu disampaikan hanya berselang beberapa minggu setelah keputusan Uni Eropa yang kembali memperketat aturan deforestasi, yang sempat dipandang sebagai upaya menghambat ekspor biodiesel Indonesia.
Namun, di sisi lain, pernyataan presiden tersebut juga menimbulkan perdebatan. Sebagian kalangan masyarakat sipil menilai retorika “ada yang ingin Indonesia kolaps” bisa menjadi pisau bermata dua. Jika digunakan secara berlebihan, narasi itu berisiko menciptakan sikap defensif yang menutup kritik konstruktif. “Kritik terhadap kebijakan energi tidak selalu berarti ingin negara ini runtuh. Pemerintah tetap perlu ruang untuk dikoreksi,” ujar seorang pegiat lingkungan yang enggan disebut namanya, mengomentari isi pidato tersebut secara terpisah.
Meski demikian, di tengah gegap gempita peresmian B50, pesan utama Prabowo justru mengundang tepuk tangan panjang. Ia menutup sambutannya dengan ajakan persatuan: “Selama kita berdiri bersama, tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menjatuhkan Indonesia. Biodiesel ini hanya satu langkah, tapi di dalamnya ada jiwa: kita tidak mau didikte, kita tidak mau dihancurkan.”
Kini, proyek B50 ditargetkan menghemat devisa hingga puluhan triliun rupiah per tahun. Namun, di balik angka-angka itu, pernyataan Prabowo membuka lapisan lain: bahwa pembangunan bukan hanya pertarungan teknis, melainkan juga pertarungan kepercayaan. Dan dalam pertarungan itu, presiden ingin rakyat tahu, ada musuh yang tidak terlihat—yang menurutnya hanya menunggu Indonesia tersandung dan jatuh.
Dengan kewaspadaan yang terus digaungkan, pemerintahan Prabowo memberi sinyal bahwa era ketergantungan telah usai, meskipun bayang-bayang kekhawatiran akan sabotase tetap membayangi langkah besar ini.
Comments (0)