Jejak Sudono Salim: Pedagang Kopi yang Menjadi Orang Terkaya Indonesia

Berdasarkan data BPS, ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5 persen secara year-on-year dalam beberapa kuartal terakhir, dengan kontribusi besar dari kelompok-kelompok bisnis swasta yang menguasai berb...

Aug 09, 2026 - 11:20
0 0
Jejak Sudono Salim: Pedagang Kopi yang Menjadi Orang Terkaya Indonesia

Berdasarkan data BPS, ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5 persen secara year-on-year dalam beberapa kuartal terakhir, dengan kontribusi besar dari kelompok-kelompok bisnis swasta yang menguasai berbagai sektor strategis. Data OJK mengenai struktur kepemilikan perbankan nasional juga menunjukkan dominasi konglomerasi keluarga yang terbentuk puluhan tahun lalu. Di balik peta kekuatan ekonomi tersebut, terdapat satu kisah klasik yang kerap menjadi rujukan: seorang perantau asal Fujian, China, yang mengawali kehidupannya di Nusantara sebagai pedagang kopi, lalu bertransformasi menjadi orang terkaya di Tanah Air. Ia adalah Sudono Salim, atau yang dikenal dengan nama lahir Liem Sioe Liong, pendiri Salim Group.

Merantau ke Kudus dan Merintis dari Perdagangan Kopi

Liem Sioe Liong lahir pada tahun 1916 di Provinsi Fujian, China Selatan, dari keluarga sederhana. Pada 1936, di tengah kondisi ekonomi yang sulit di kampung halamannya, ia memutuskan merantau ke Hindia Belanda menyusul kakaknya di Kudus, Jawa Tengah. Kota inilah yang menjadi titik awal perjalanan bisnisnya: berdagang kopi, cengkih, karet, dan minyak kacang dengan mendatangi pelanggan dari pintu ke pintu.

Dalam perspektif ekonomi, fase ini mencerminkan apa yang disebut akumulasi modal awal, yakni proses pembentukan modal dari aktivitas perdagangan bermarjin tipis namun berputar cepat. Fundamental bisnisnya dibangun di atas kepercayaan relasi dagang dan disiplin arus kas, dua hal yang kelak menjadi ciri khas konglomerasinya. Selama masa revolusi kemerdekaan, jaringan logistik yang ia bangun mengalami perluasan signifikan karena kepercayaan berbagai pihak yang membutuhkan pasokan barang ke daerah-daerah terpencil.

Dari Komoditas Menuju Konglomerasi Terbesar

Setelah pindah ke Jakarta pada era 1950-an, ekspansi bisnisnya bergerak cepat. Tahun 1957, ia mendirikan Bank Central Asia (BCA) yang kemudian tumbuh menjadi bank swasta terbesar di Indonesia. Portofolio bisnisnya meluas ke sektor riil: pabrik tepung terigu Bogasari pada 1969, produksi mi instan Indomie pada awal 1970-an, lalu merambah semen, otomotif, hingga properti. Pada 1981, ia mendirikan First Pacific Company di Hong Kong sebagai kendaraan ekspansi internasional.

Pada puncak kejayaannya di era 1990-an, Salim Group membawahi sekitar 500 perusahaan dengan total aset yang diperkirakan menembus puluhan miliar dolar AS. Sejumlah studi ekonomi menyebut kontribusi kelompok usaha ini terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai sekitar 5 persen, angka yang luar biasa untuk satu grup keluarga. Majalah Forbes menempatkannya sebagai orang terkaya di Asia Tenggara selama bertahun-tahun, dengan valuasi kekayaan yang pernah ditaksir melampaui 10 miliar dolar AS.

Krisis 1998 dan Ujian Fundamental Bisnis

Krisis moneter 1997-1998 menjadi titik balik yang menguji seluruh fondasi bisnisnya. Sentimen pasar yang negatif memicu capital outflow, yaitu pelarian modal asing keluar negeri, dalam skala besar dari Indonesia. Rupiah anjlok dari sekitar Rp2.500 per dolar AS hingga sempat menembus Rp16.000, dan sektor perbankan mengalami krisis likuiditas, kondisi ketika bank kekurangan dana tunai untuk memenuhi kewajibannya. BCA dilanda penarikan dana massal hingga akhirnya diambil alih pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional pada 1998.

Namun, fundamental bisnis di sektor riil terbukti lebih tahan guncangan. Di bawah kepemimpinan generasi kedua, Anthony Salim, grup ini bangkit melalui Indofood dan First Pacific. Indofood kini tercatat sebagai salah satu produsen mi instan terbesar di dunia dengan kapasitas produksi miliaran bungkus per tahun. Sementara BCA, setelah kembali ke pasar melalui penawaran umum saham, kini menjadi bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia dan konsisten berada di jajaran atas indeks harga saham gabungan (IHSG).

Dua Sisi Warisan Konglomerasi

Di satu sisi, kisah ini menunjukkan mobilitas ekonomi yang luar biasa: seorang imigran nyaris tanpa modal mampu membangun imperium yang menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional. Kontribusi konglomerasi terhadap penerimaan negara, rantai pasok usaha kecil menengah, dan pendalaman pasar modal tidak dapat diabaikan. Tren kebangkitan pasca-krisis juga membuktikan bahwa diversifikasi portofolio lintas sektor dan lintas negara mampu meredam gejolak domestik.

Di sisi lain, sejarah Salim Group tidak lepas dari kritik tajam. Kedekatan dengan kekuasaan Orde Baru memunculkan tudingan kronisme dan konsesi bisnis yang tidak setara, yang memperlebar rasio konsentrasi kekayaan di segelintir kelompok. Sejumlah ekonom menilai struktur pasar seperti ini berisiko menekan persaingan usaha yang sehat dan menghambat tumbuhnya pengusaha baru tanpa akses politik.

Ke depan, proyeksi ekonomi Indonesia tetap akan dipengaruhi dinamika konglomerasi semacam ini. Pelajaran utamanya jelas: keberhasilan jangka panjang tidak ditentukan oleh akses kekuasaan semata, melainkan oleh fundamental yang kuat, pengelolaan risiko, dan kemampuan beradaptasi saat krisis, persis seperti yang ditunjukkan sang pedagang kopi dari Fujian itu hingga akhir hayatnya pada 2012.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User